Assalamu’alaykum
Bagaimana
menghilangkan rasa marah? Setiap hari ada saja perasaan marah di hati, di
tempat kerja, di sekolah, bahkan diam di rumah sekalipun. Kenapa diri ini bisa
marah?
Kebanyakan sifat
pemarah itu berasal dari sombong (ego). Makin besar ego seseorang maka akan
semakin tinggi marahnya. Hal ini berkaitan pula dengan kedudukan seseorang. Kalau
tinggi kedudukannya, banyak hartanya, banyak pengikutnya, maka tinggilah ego
seseorang dan akan menjadi-jadilah sifat pemarahnya. Sebaliknya jikalau kurang
segalanya, maka akan kurang pula egonya dan kurang juga sifat marahnya.
Sifat pemarah ada pada
hampir semua orang seperti hasad dan dengki. Dan kenapa harus marah?
Telah berkata Mujahid
di dalam sebuah bait syair : “ Takdir Allah telah putus dan putusan Alllah
telah terjadi. Istirahatkan hati dan kata-kata “Barangkali” dan “Kalau”.
Setiap kelemahan dan
kesilapan manusia adalah UJIAN. Allah hendak melihat bagaimana SABAR dan
MALUNYA kepada Allah dengan mengucapkan “inna lillahi wainna ilaihi roji’un.”
Pernah ditanya Anhaf
bin Qois, bagaimana dia bisa mengekalkan sifatnya yang lemah lembut. Anhaf menjawab
: “ Aku belajar dari Qais bin Asim yaitu pada satu hari sedang bersantai, masuk
hambanya membawa besi yang berisi daging panggang yang masih panas. Belum sempat
daging itu sampai dihadapan Qais, tanpa sengaja besi pemanggang yang panas itu
jatuh mengenai anak Qais yang masih kecil.
Menjerit-jeritlah si
anak, kesakitan dan kepanasan, hingga meninggal dunia. Qais yang melihat hal
itu dengan tenang berkata kepada hambanya yang pucat pasi. “Aku bukan saja
tidak marah kepadamu , tetapi mulai hari ini aku akan membebaskanmu.” Begitulah
sopan dan pemaafnya Qais bin Asim,” kata Anhag mengakhiri ceritanya.
Bukannya Qais tidaknya
menyayangi anaknya, akan tetapi Qais melihat segala kejadian adalah kehendak
Allah. Bila dia bertindak memarahi hambanya, maka hakikatnya dia MEMARAHI
Allah. Dia ridha dengan ujian yang ditimpakan kepadanya. Tidak ada di dalamnya
hidupnya perkataan kalau atau barangkali. Hatinya tidak merasa dia “tuan”,
karena apa yang ada padanya dirasakan sebagai amanah dari Allah. Yang bila sampai pada waktunya, maka akan
kembai pada Allah.
Hati harus diobati. Dengan
membuangkan rasa “ke-tuan-an”, yang menyebabkan menjadi pemarah dengan
melakukan mujahaddah nafsi.
Berikut ini ada
beberapa langkah menghilangkan marah:
a.
Mula-mula perlu MALU dengan Allah akan segala tindak-tanduk diri. Allah
memperhatikan segala perlakuan dan sikap hambaNya.
b.
Bila datang rasa akan marah, maka ingat bahwa kita hanya manusia yang
hina.
c.
Memperbanyak berdiam diri dan berdoa kepada Allah agar Allah
menyelamatkan kita dari sifat marah.
d.
Hendaklah ingat bahwa sifat marah hanya akan membawa kepada permusuhan
dan pembalasan dendam dari seseorang yang dimarahi.
e.
Betapa buruknya raut muka kita ketika marah.
f.
Apabila datang marah, memperbanyak baca Ta’awudz, karena rasa marah itu
datang dari syaitan.
g.
Apabila marah sedang memuncak, ambillah wudhu, karena wudhu dapat
meredamkan api kemarahan.
h.
Jika tidak bisa hilang marah dengan hal tersebut, hendaklah tidur. Yang diharapkan
dengan tidur akan hilang rasa marah itu.
i.
TAUHID harus TEPAT. Setiap sesuatu itu datangnya dari Allah dan akan
kembali kepada Allah. Kenapa harus marah???
j.
Kalau diri bersalah, dan tidak suka memarahi diri sendiri. Maka begitu
pula orang lain yang melakukan kesalahan, tidak suka bila dimarahi. Tegur dengan
lemah lembut dan kasih saying.
k.
Mengingat besarnya pahala orang yang dapat menahan amarah, besarnya
pahala orang yang dapat sabar dan tidak mudah marah, besarnya pahala orang yang
mempunyai hati yang bersih, tidak pernah iri dan dengki.
l.
Orang yang dapat menahan marah merupakan ciri orang yang bertaqwa, yang
akan meraih syurgaNya yang luasnya seluas langit dan bumi.
m.
Mengingat dan selalu takut dengan siksa Allah bagi yang mudah marah
tanpa alasan yang benar atau hatinya sakit, mudah iri dan dengki.
n.
Setiap kali hendak marah, katakana dalam diri anda “ kalau saya
marah-marah atau memarahi orang, maka saya kelak diakhirat akan mendapat marah
dari Allah. Pada saat itu saya hanya berharap maaf dari Allah, maka saya juga
harus memaafkan.”
o.
MARAH dan iri merupakan PENYAKIT HATI yang berbahaya.
So sobat semua, untuk apa kita pelihara marah, atau mudah marah, jika
hanya kejelekan yang akan kita dapat baik di dunia, ataupun kelak di akhirat.
Daripada marah lebih baik jadi pemaafkan. Udah disayang Allah, punya
banyak sodara pula, yang bisa mempermudah rejeki kita, dimanapun kita berada.
Jaga hati dan sifat lembut ya. Ingat marah itu sifatnya setan.
disadur dari majalah mutiara amaly
Wassalamu’alaykum
No comments:
Post a Comment