Thursday, 19 July 2012

terkadang aku ingin menulis, hanya menulis
walau entah apa yang ingin aku tuliskan
tapi jari jemari ini selalu riang untuk meliuk dan mengetuk
aku pun tekadang hanya bisa menurutinya
walau entah apa yang akan terserat dalam goresan tinta ketikan huruf
tapi tak tahu dari mana datangnya,
keinginan untuk menarikan jemari ini selalu saja muncul
membuat gundah dan ragu
tapi ketika aku mulai mengayunkan tangan ini
maka semua akan terasa mudah, tapi sedikit aneh

Wednesday, 4 July 2012

Sahabat itu Tak Terlupakan


(Duk) “ Au.” teriak Tita spontan tanpa sadar. “ Eh. Kenapa kamu Ta? Ngelamun saja si kerjaannya,” celetuk  Nano sambil cekikikan, yang tanpa disadari Tita memperhatkannya sejak masuk ke kelas tadi.  “ Huft, apaan sih malah ketawa aja?” gerutu Tita sambil lalu. “ ya kamunya juga, jalannya sih bener pakai kaki, tapi tidak lihat-lihat sekitar gitu. Sudah tahu ada meja sebesar itu, masih saja ditabrak, gimana tidak lucu.” Nano semakin membuat Tita geram.
Tita, begitu aku disapa. Semua temen di kelas sudah hafal dengan kebiasaanku, hobi nubruk sana nubruk sini, maklumlah memang aku sangat ceroboh orangnya. Kata temen–temen sih aku tomboy orangnya, padahal aku berkurudung rapat dan manis. Sedangkan Nano adalah temen sekelasku yang sekaligus cowok taksiranku. Tapi cinta bertepuk sebelah tangan, Nano hanya menganggap ku sahabat biasa.
Kita, aku dan Nano merupakan siswa baru di SMA yang sama, dan kami baru saja kenal dan akrab di SMA ini, tapi keakraban kami layak teman lama yang tak pernah bertemu. Ya maklumlah kami banyak hobi dan kesukaan yang sama.
Aku sedikit banyak mengenal Nano, banyak hal yang selalu kami bagi bersama. Bahkan sampai orang yang kami suka saja kami ceritakan, terkecuali perasaanku padanya. Nano suka temen sekelas yang sekaligus akrab juga dengan ku, Susan begitulah sapaan gadis manis, berkerudung, dan lemah lembut itu. Dan aku jelas cemburu padanya. Susan lah tempat berbagi ceritaku tantang Nano.
***
“ Tita, Tita, sini deh!” teriak Nano dari bangkunya, aku sendiri melenggang pelan yang kebetulan aku baru saja muncul di depan pintu. “apaan sih, pagi-pagi udah teriak aja” jawabku ketus dan sambil lalu. Kebetulan baru kami berdua yang datang sepagi itu. “ ya ampun sini dulu deh, aku mau cerita nih.” Tarik paksa Nano. “ya OK! apaan sih!” lepas ku, tampang judes. “maaf,maaf, ketus banget sih bu?” ejak Nano bercandaan. Melihat tampangku yang makin judes. Nano pun mengurung kan niatnya, “ hemb kayaknya nggak sekarang deh” Nanopun meninggalkan ku sendiri di dalam kelas yang sunyi di pagi hari itu.
Mungkin apa yang Nano akan sampaikan, adalah kabar yang telah ku ketahui dari teman sebangku ku Indri. Beberapa hari yang lalu Indri memberitahu aku kalau Nano dan Susan jadian, tepat saat mereka berlibur ke rumah teman sekelas kami. Pikiranku dan perasaanku saat itu sedang gundah, sedang tak ingin diganggu, dan berharap apa yang aku dapat dari Indri hanya kabar belaka, tetapi wajah Nano yang ku lihat saat aku datang tadi menggugurkan semua harapanku.
Hari itu waktu berjalan amat lamban bagiku, aku ingin segera membaringkan kepalaku, melepaskan penatku, tak sanggup ku lihat Nano bersama Susan. Bahkan hanya untuk mendengar suaranya saja berat bagiku. Tadi ketika istirahat, Nano kembali mencoba menyapaku, walau dia hafal denganku yang tak mau diganggu jika seang berparas seperti saat tadi. Kami sudah hafal peringai masing-masing.
“ Tita, aku tidak peduli kamu dengerin aku apa tidak.” Permulaan Nano angkat bicara dari belakang kursiku, dan aku tetap membeku dengan wajah dinginku. “ Aku hanya ingin menyampaikan ini secara langsung, aku tidak ingin cerita ini kamu denger dari orang lain, atau dari aku tetapi lewat perantara alat. Aku hanya ingin menyampaikan secara langsung.” Mulai Nano memberikan alasannya. “hemb,” Gumamku singkat. “Ok, begini.” Nano berpindah di depanku dan menatapku dalam, dia pun memulai ceritanya. “ kau tahu, dan pasti kau sudah tahu.Nano berhenti sejenak menatapku, lekat. “ tentu saja kau sudah tahu. Aku punya pacar baru.” Wajah girang Nano lekat dimataku, tapi menusuk tajam jantungku. “ pacar baru?” aku berusaha menjawab sewajarnya, menyunggingkan senyumku yang manis menurut Nano, awal kami berkenalan.”siapa? anak kelas ini kah?” kulanjutkan jawabanku, sekenaku, agar dia tak curiga, dengan peringaiku.
“ kamu kenal akrab kok orangnya, hehe, ya udah ya. Ke kantin yuk !” riang sekali dia menjawab, yang jauh berbeda dengan perasaanku saat itu. Dia pun berlari kecil menuju kantin, meninggalkanku dengan perasaan sedih itu.
“ Ta ayo pulang!” tepuk pelan Susan dari belakangku, beriringan denagn senyum hangat Nano, mengakhiri pertemuan hari itu, dan ku hanya sanggup tersenyum ikhlas. Tak terasa butiran halus air jatuh di pipiku. Tangis perlahan dalam hati ini. Tapi beginilah kisahmu Ta, hiburku dalam hati.
***
Hari-hariku tetap berjalan baik, hanya hatiku yang tertinggal di masa lalu. Di saat keakrababnku bersama mereka tak dapat digantikan dengan apapun. Hubungan pertemanan ku dengan Nano pun tetap seperti biasanya, akan tetapi semenjak itu, hubungan ku dengan Susan lah yang menjadi sedikit merenggang. Aku tidak begitu tahu kenapa dia sedikit menjauh dari ku.
“Tita” suara Oni lantang dari belakangku menghentikan langkah panjangku. Kami pun beriringan berjalan menuju mantan kelas kami, ya mantan kelas. Kini aku telah duduk di bangku SMA kelas 2. Nano dan Susan mereka jelas berpisah kelas, Nano masuk IPA sedangkan Susan bahasa. “Ayo lihat pengumuman!” Ajak Indri. “Hah pengumuman? Pengumuman apa?” tanyaku bodoh. “ Ya ampun, pengumuman kita masuk kelas IPA apa, say.” Jelas Indri hangat.
“Aku IPA 2 Ta. Kamu IPA berapa?” sapa Nano ketika berpapasan di jalan, hanya aku balas dengan senyum. Dalam fikiranku hanya berharap dapat 1 kelas lagi dengan Nano. Tita Khoirul---IPA 1. Byar, anganku pecah seketika, ketika aku melihat itu. Langkahku sedikit goyah, Indri meninggalkan aku jauh di belakang ketika dia melangkah dengan anggun menghampiri teman-teman. Tapi senyumku terkembang kembali, ketika Nano menengok padaku. “Indri sama Tita bagaimana? Kalian di kelas apa?” Tanya riang Nano tapi diiringi senyum masam Susan, keadaan yang susah bagiku. Susan terlihat aneh padaku sejak saat itu, sangat misterius bagiku.
“ Kami sekelas No, Tita sama aku di kelas IPA 1. Sayang kita pisah ya.” Jawab Indri lancar, ketika dia melihatku hanyut dalam lamun. Langkah cepat Nano menghampiriku. “Tidak apa. Ternyata kita juga tidak bisa sekelas ya, hehehe.” Senyum indah Nano yang selalu kulihat itu mengembangkan senyumku kembali. “ Hmmm, walau begitu, kamu harus ingat ya dengan janji kita. Kita kan janji tetap menjadi teman baik, tetap saling bertukar ilmu. Ya seperti yang sering kita lakukan. Ok?” jelas Nano singkat. “Ya udah, gabung yang lain yuk, hehe!” begitulah Nano mampu menghiburku saatku terlihat sedih, ketika yang lain tak menyadari kesedihanku. Begitulah Nano yang memberiku semangat, tanpa harus tahu apa yang menjadi masalah bagiku. Aku pun menghampiri teman-temanku dengan langkah yang riang dan senyum terkembang, tapi tanpa aku sadari Susan tetap  dengan senyum masamnya menatap tajam dalam setiap langkahku.
***
 “Tint, kenapa aku perhatiin, akhir-akhir ini kamu aneh sih sikapnya?” Nano mulai menyelidik Susan di tengah kencan mereka sore itu. “Ah aneh gimana tint, hanya perasaan tinta aja mungkin.” Elak Susan setenang mungkin, karena Susan memang paling pintar dalam menutupi suatu keadaan. Nano berusaha sekuat mungkin untuk mengetahuinya, tak letih dia merayu Susan untuk berbagi kepadanya tentang perasaanya kali ini. Susan merupakan orang yang tidak mudah menceritakan apa yang dirasakannya.
“Kamu pikir aja sendiri! Kenapa aku bersikap seperti ini. Seharusnya kamu sadar kenapa aku bersikap seperti ini.” Puncak emosi Susan ketika itu memecahkan keheningan sore dan keindahan senja yang mengiringi kencan mereka. “Salah ku?” jawab Nano masih dalam kelembutan nada. “Masih tidak faham, ya udah untuk beberapa saat lebih baik kita jalan masing-masing sendiri aja, titik. Sore.” Tinggal Susan dalam kebingungan Nano yang mendalam.
“Salah ku, apa salahku. Sepertinyaa ku selelu menuruti apa kata-katanya. Aku  selalu memenuhi keinginannya, aku selalu berbagi cerita dengannya. Salahku? Apa salahku?” fikiran berkecamuk dalam benak Nano ketika itu membuatnya terpuruk dalam kebingungan akan sikap Susan beberapa saat ini.
[Tita besok ku tunggu jam 8 pagi di kedai ichiraki.] pesan singkat yang ku dapat dari Nano sore itu. Tak seling lama HPku pun kembali berdering [KAMU JANGAN GANGGU-GANGU NANO LAGI DEH, JADI CEWEK KOK GITU! POKOKNYA MULAI SEKARANG JAUHIN NANO], perlahanku lirik nama sang pengirim. Masih dibuat tak percaya aku dengan semua ini. Apa? Apa? Apa yang sedang terjadi? Nano minta ketemuan, sedangkan Susan melarangku untuk beretemu, bahkan bukan bertemu, lebih dari itu. Apa yang harus kulakukan, datang? Atau tidak? Aku mulai bingung dengan mereka berdua. Dan aku tidak tahu apa yang salah dariku, apa yang sedang terjadi antara mereka. Ku putuskan untuk melakukan sesuai apa keyakinanku.
Pagi itu, aku beranikan langkah untuk menghadiri janjiku dengan Nano, walau disisi lain aku goyah dengan kata-kata Susan. Terpaku aku di depan pintu kayu kedai Ichiraki pagi itu, langkahku berat untuk memasuki kedai favoritku dan Nano pagi itu. Bagaimana ini? apa yang harus ku lakukan? Sejak kemarin sore, hanya kata-kata itu yang sanggup hinggap di fikiranku tentang mereka berdua. Hampir 5 menit aku terpaku di sana. Hanya mampu menghela nafas “Bismillah, insaAllah semua akan baik-baik saja.” Aku mulai melangkah menuju kursi usang yang menjadi tempatku selama ini, dan satu sosok duduk terlemas di dekat kursi yang lainnya. Aku melangkah gentar, dan duduk perlahan ragu-ragu.
“Pagi.” Sapaku pelan. “Oh ya, Pagi juga” Sapa hangat dan semangat dari Nano. “ Hemb, ada yang harus aku ceritakan ke kamu, mungkin kamu juga merasakannya. Dan semoga kamu tak terganggu dengan ini. Ini tentang aku dan Susan.” Belum cukup Nano bercerita, ku potong dengan jawaban bodohku. “Maaf. Aku ngerti kok, kemarin Susan juga sudah bilang ke aku. Terima kasih untuk semuanya.” Ku ayunkan langkahku bak tak menapak tanah, ku dengar panggilan Nano di kejauhan. Aku mengacuhkannya. Tak terasa linangan air mata kembali mengalir di pipiku. Aku tak henti mengayunkan langkah kakiku, hingga seruan Nano tak terdengar lagi di telingaku.
***
Sejak hari itu, aku tepati janjiku dengan Susan, aku tak ingin mengganggu hubungan mereka. Bagaimana pun mereka adalah teman baikku, tak mungkin aku menyakiti keduanya. Walau kebingungan masih menghantuiku, keraguan akan tindakanku seolah selalu mengancam setiap derai langkah dalam hari-hariku. Tapi keyakinkanku dalam hati, bahwa semua akan jauh lebih baik setelah ini mungkin benar.
“Tita, akhir-akhir ini kuperhatikan kamu sering murung? Kenapa manis?” Tanya halus Indri yang senantiasa ada di setiapku berduka. “ Tidak ada apa-apa In, hanya perasaanmu saja mungkin.” Ku coba untuk tersenyum agar Indri tak khawatir padaku. “MasyaAllah, Tita. Kamu itu tidak bisa nyembunyiin semuanya dari aku. Aku juga tahu kok apa yang menyebabkan kamu seperti ini. Ada sangkut pautnya dengan Susan dan Nano kan, ayo jujur?” rayu Indri, yang spontan saat itu membuatku kaget. “haha bener kan. Kalo kamu merasa keganggu dengan ini semua lebih baik kamu minta kejelasan lagi ke Nano dan Susan juga. Aku yakin ini semua salah faham, aku tahu apa yang kamu rasa, dan aku juga tahu apa yang sedah terjadi pada Susan da Nano saat ini.” Tutur ramah Indri, yang membuatku bergumam tiada henti. “tak usah memasang tampang seperti itu Tita. Bingung ya? Hah, waktu kamu cerita kamu ketemuan dengan Nano minggu dulu itu, aku dengan Susan juga ketemuan. Ya beda waktu memang, dan saat itu Susan menceritakan semuanya.” Kini aku mulai faham apa yang dijelaskan Indri padaku, ya begitulah Indri selalu pandai bermain kata, selau bijak memilih kalimat.
“Terus, apa yang kamu tahu lagi In?” Tanyaku pelan dengan sedikit bingung memahaminya. “Hehe, untuk itu, Tanya langsung orangnya aja ya manis.” Senyum Indri kini sedikit membuatku tenang. Tapi bagaimana aku harus meminta kejelasan ke Susan? Ke Nano sudah tak mungkin. Pikirku sebelum aku mulai mencoba. Aku terpuruk dalam kepesimisan, aku terpuruk dalam lubang yang penuh duri, yang bila aku salah sedikit saja dalam melangkah maka aku akan merasakan sakit bertubi-tubi.
“Susan! Aku butuh kejelasan darimu! Apa-apaan dengan sikapmu ini? Kayak anak kecil saja.” Suara Nano sedikit keras, ketika tak sengeja aku melewati mereka di lorong sekolah ketika pulang. “Kejelasan? Kejelasan? Kurang jelas apa? Aku sudah bilang jangan kontak dengan Tita lagi! Apa itu kurang jelas?” suara Susan lebih lantang dari suara Nano. Tidak pernah aku mendengar Susan sekeras itu sebelumnya.
Hampir setiap hari tanpa sengaja aku mendengar mereka bertengkar, dan itu karena aku, sejak hari itu mereka lebih kerap bertengkar. Apa salahku Ya Allah. Begitulah kata yang saat ini gemar menggelayut santai di otakku. Aku berusaha menghindar sejauh mungkin yang dapat aku lakukan. Sekuat hati aku menghindar bila Nano sedikit mengambil langkah mendekatiku. Aku semampu mungkin tidak membalas pesan-pesannya, walau tiap malam Hp ku berdering karenanya. Apakah keputusanku selama ini salah. Harus bagaimana? Kemana aku harus mencari jawabannya? Apakah perlu aku pergi jauh, jauh, jauh dari mereka berdua. Jika itu yang terbaik maka akan aku lakukan. Tapi, ini semua salah faham, begitu yang aku tangkap dari pembicaraanku tadi pagi dengan Indri.
***
Hampir lebih dari satu bulan sejak kejadian itu. Kini aku dapat melangkah tenang, pagi yang cerah kala itu mebuatku ingin berdendang bahagia. Untuk sesaat perasaan itu lenyap di telan dinginnya pagi, indahnya awan yang menggantung tinggi di langit. Langkahku ringan dan bahagia.
“Tita!” suara itu, suara yang lama tak menyapa telingaku. Perlahan aku menengok ke belakang. “Sini, aku mau cerita.” Nano menarik tasku paksa, dan mendudukanku di atas bangku keras yang dingin sedingin perasaan yang kurasakan pagi itu, tapi terasa nyaman bak alunan suara yang indah memanggilku di pagi hari kala itu.
“Nano! Apa-apaan ini, nanti….” Elakku. “Haha, dibuat nyantai aja. Kayaknya udah lama banget ya kita tidak ngobrol. Oh ya aku mau minta maaf atas nama Susan, atas kejadian sebulan yang lalu. benaran minta maaf ya. Saat  itu memang sedang terjadi kerenggangan komunikasi antara kami.” “Apa? Minta maaf? Atas nama Susan?” Putusku dalam kata-katanya, bukan dengan nada menolak, tapi aku ekspresikan kata-kataku dengan nada malu.
“Ya begitulah minta maaf atas nama susan.” Nano mulai terlihat santai, dan tampak damai dalam wajahnya saat itu. “Seharusnya kamu bilang padaku dari dulu.” Kini dia menatapku lekat, dengan senyuman manisnya.”He? Bilang? Apa yang harus aku bicarakan ke kamu?.” Jawabku yang bingung. Dia kembali menatapku dan melempar senyum ramahnya, “Iya seharusnya kamu ceritakan bagaimana perasaanmu, setelah aku mendengar penjelasan dari Indri dan Susan tentang semuanya aku jadi faham.” “Hah? Perasaanku? Memang mereka memberi tahu apa saja tentang perasaanku?”
“haha. Semuanya Ta, semuanya. Mulai kapan kamu suka aku, seberapa kamu suka aku. Kenapa kamu tidak bilang langsung ke aku?, dan kamu tahu kenapa Susan uring-uringan kemarin. Itu ya karena ini semua. Karena kamu suka aku, karena kita masih berteman akrab, tapi syukurlah, setelah mendapat nasihat dariku dan juga Indri selain itu pesan singkat mu, dia pun mau mengerti. Sekali laggi maukan kamu memaafkan kami?”
“Aku tidak pernah meninggalkan teman-temanku, apalagi sahabatku. Seberapa benci mereka padaku, maka perasaanku ke mereka tetaplah sama Nan. Jadi, dariku tidak ada yang harus di maafkan, karena semuanya InsyaAllah telah termaafkan. Bagaimana dengan Susan sendiri?” jawabku denga perasaan yang luar biasa campur aduk, antara bahagia, malu, sedih dan sedikit terbata-bata aku dalam berucap. “hmm, Susan. Tenang dia sudah faham semuanya. Ok. Tarik kata-katamu lagi ya di sms mu ke Susan. Kita kan sudah janji, akan jadi sahabat selamanya, walau jodoh, ruang, waktu memisahkan kita. Selamanya kamu akan menjadi sahabatku selamanya.” Senyum Nano dan lambaian tangannya di pagi itu menghapus seluruh lara, menghangatkan pagi itu, mencairkan kebekuan hatiku, dan mengembalikan semangatku.
Aku pun mencubo meraih Handphone ku dan aku baca kembali pesan yang aku kirim beberapa hari yang lalu ke Susan, ketika aku tanpa sengaja mengetahui mereka semakin bermusuhan. [Setelah ku mendengar semua penjelasn dari Indri, aku tau kenapa kamu bersikap seperti ini, ku mohon maaf karena telah membuatmu sakit dan membuat mu cemburu akan hal ini. tapi jujur aku dan Nano hanya sahabat biasa. Lagi pula Nano lebih memilihmu dan aku yakin kamu terbaik untuknya, walau ku suka, tapi Nano tetap memilihmu, hanya kamu. Hemb, daripada semua ini seperti ini, maka lebih baik ku pergi dari hidup kalian, terimakasih karena telah mau mengenalku dan berbagi cerita padaku, dan lupakan itu, anggap kita tak pernah kenal. Aku akn coba semampu ku. Terimakasih]. Tak aku sangka linangan air membasahi pipiku seiring aku membaca kembali pesanku, aku pun mulai menekan tombol-tombol dalam Handphoneku, dan ku akhiri semua dengan kata dalete.
Dalete untuk kecemburuan yang tak jelas, dan save untuk persahabatan yang hangat dan selamanya. Ku arungi lorong sekolah pagi itu, dengan kehangatan yang baru, dengan kedamaian yang indah dalam langkahku dan hidupku untuk mencapai impianku. “Terimakasih untuk semuanya, ya Susan.” Gadis yang lemah lembut sejak tadi sudah berdiri di sampingku, memeluk hangat pundakku. Kami pun beriringan melangkah, meraih masa depan.


by: rizu.chan/2008