Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Wednesday, 4 July 2012

Sahabat itu Tak Terlupakan


(Duk) “ Au.” teriak Tita spontan tanpa sadar. “ Eh. Kenapa kamu Ta? Ngelamun saja si kerjaannya,” celetuk  Nano sambil cekikikan, yang tanpa disadari Tita memperhatkannya sejak masuk ke kelas tadi.  “ Huft, apaan sih malah ketawa aja?” gerutu Tita sambil lalu. “ ya kamunya juga, jalannya sih bener pakai kaki, tapi tidak lihat-lihat sekitar gitu. Sudah tahu ada meja sebesar itu, masih saja ditabrak, gimana tidak lucu.” Nano semakin membuat Tita geram.
Tita, begitu aku disapa. Semua temen di kelas sudah hafal dengan kebiasaanku, hobi nubruk sana nubruk sini, maklumlah memang aku sangat ceroboh orangnya. Kata temen–temen sih aku tomboy orangnya, padahal aku berkurudung rapat dan manis. Sedangkan Nano adalah temen sekelasku yang sekaligus cowok taksiranku. Tapi cinta bertepuk sebelah tangan, Nano hanya menganggap ku sahabat biasa.
Kita, aku dan Nano merupakan siswa baru di SMA yang sama, dan kami baru saja kenal dan akrab di SMA ini, tapi keakraban kami layak teman lama yang tak pernah bertemu. Ya maklumlah kami banyak hobi dan kesukaan yang sama.
Aku sedikit banyak mengenal Nano, banyak hal yang selalu kami bagi bersama. Bahkan sampai orang yang kami suka saja kami ceritakan, terkecuali perasaanku padanya. Nano suka temen sekelas yang sekaligus akrab juga dengan ku, Susan begitulah sapaan gadis manis, berkerudung, dan lemah lembut itu. Dan aku jelas cemburu padanya. Susan lah tempat berbagi ceritaku tantang Nano.
***
“ Tita, Tita, sini deh!” teriak Nano dari bangkunya, aku sendiri melenggang pelan yang kebetulan aku baru saja muncul di depan pintu. “apaan sih, pagi-pagi udah teriak aja” jawabku ketus dan sambil lalu. Kebetulan baru kami berdua yang datang sepagi itu. “ ya ampun sini dulu deh, aku mau cerita nih.” Tarik paksa Nano. “ya OK! apaan sih!” lepas ku, tampang judes. “maaf,maaf, ketus banget sih bu?” ejak Nano bercandaan. Melihat tampangku yang makin judes. Nano pun mengurung kan niatnya, “ hemb kayaknya nggak sekarang deh” Nanopun meninggalkan ku sendiri di dalam kelas yang sunyi di pagi hari itu.
Mungkin apa yang Nano akan sampaikan, adalah kabar yang telah ku ketahui dari teman sebangku ku Indri. Beberapa hari yang lalu Indri memberitahu aku kalau Nano dan Susan jadian, tepat saat mereka berlibur ke rumah teman sekelas kami. Pikiranku dan perasaanku saat itu sedang gundah, sedang tak ingin diganggu, dan berharap apa yang aku dapat dari Indri hanya kabar belaka, tetapi wajah Nano yang ku lihat saat aku datang tadi menggugurkan semua harapanku.
Hari itu waktu berjalan amat lamban bagiku, aku ingin segera membaringkan kepalaku, melepaskan penatku, tak sanggup ku lihat Nano bersama Susan. Bahkan hanya untuk mendengar suaranya saja berat bagiku. Tadi ketika istirahat, Nano kembali mencoba menyapaku, walau dia hafal denganku yang tak mau diganggu jika seang berparas seperti saat tadi. Kami sudah hafal peringai masing-masing.
“ Tita, aku tidak peduli kamu dengerin aku apa tidak.” Permulaan Nano angkat bicara dari belakang kursiku, dan aku tetap membeku dengan wajah dinginku. “ Aku hanya ingin menyampaikan ini secara langsung, aku tidak ingin cerita ini kamu denger dari orang lain, atau dari aku tetapi lewat perantara alat. Aku hanya ingin menyampaikan secara langsung.” Mulai Nano memberikan alasannya. “hemb,” Gumamku singkat. “Ok, begini.” Nano berpindah di depanku dan menatapku dalam, dia pun memulai ceritanya. “ kau tahu, dan pasti kau sudah tahu.” Nano berhenti sejenak menatapku, lekat. “ tentu saja kau sudah tahu. Aku punya pacar baru.” Wajah girang Nano lekat dimataku, tapi menusuk tajam jantungku. “ pacar baru?” aku berusaha menjawab sewajarnya, menyunggingkan senyumku yang manis menurut Nano, awal kami berkenalan.”siapa? anak kelas ini kah?” kulanjutkan jawabanku, sekenaku, agar dia tak curiga, dengan peringaiku.
“ kamu kenal akrab kok orangnya, hehe, ya udah ya. Ke kantin yuk !” riang sekali dia menjawab, yang jauh berbeda dengan perasaanku saat itu. Dia pun berlari kecil menuju kantin, meninggalkanku dengan perasaan sedih itu.
“ Ta ayo pulang!” tepuk pelan Susan dari belakangku, beriringan denagn senyum hangat Nano, mengakhiri pertemuan hari itu, dan ku hanya sanggup tersenyum ikhlas. Tak terasa butiran halus air jatuh di pipiku. Tangis perlahan dalam hati ini. Tapi beginilah kisahmu Ta, hiburku dalam hati.
***
Hari-hariku tetap berjalan baik, hanya hatiku yang tertinggal di masa lalu. Di saat keakrababnku bersama mereka tak dapat digantikan dengan apapun. Hubungan pertemanan ku dengan Nano pun tetap seperti biasanya, akan tetapi semenjak itu, hubungan ku dengan Susan lah yang menjadi sedikit merenggang. Aku tidak begitu tahu kenapa dia sedikit menjauh dari ku.
“Tita” suara Oni lantang dari belakangku menghentikan langkah panjangku. Kami pun beriringan berjalan menuju mantan kelas kami, ya mantan kelas. Kini aku telah duduk di bangku SMA kelas 2. Nano dan Susan mereka jelas berpisah kelas, Nano masuk IPA sedangkan Susan bahasa. “Ayo lihat pengumuman!” Ajak Indri. “Hah pengumuman? Pengumuman apa?” tanyaku bodoh. “ Ya ampun, pengumuman kita masuk kelas IPA apa, say.” Jelas Indri hangat.
“Aku IPA 2 Ta. Kamu IPA berapa?” sapa Nano ketika berpapasan di jalan, hanya aku balas dengan senyum. Dalam fikiranku hanya berharap dapat 1 kelas lagi dengan Nano. Tita Khoirul---IPA 1. Byar, anganku pecah seketika, ketika aku melihat itu. Langkahku sedikit goyah, Indri meninggalkan aku jauh di belakang ketika dia melangkah dengan anggun menghampiri teman-teman. Tapi senyumku terkembang kembali, ketika Nano menengok padaku. “Indri sama Tita bagaimana? Kalian di kelas apa?” Tanya riang Nano tapi diiringi senyum masam Susan, keadaan yang susah bagiku. Susan terlihat aneh padaku sejak saat itu, sangat misterius bagiku.
“ Kami sekelas No, Tita sama aku di kelas IPA 1. Sayang kita pisah ya.” Jawab Indri lancar, ketika dia melihatku hanyut dalam lamun. Langkah cepat Nano menghampiriku. “Tidak apa. Ternyata kita juga tidak bisa sekelas ya, hehehe.” Senyum indah Nano yang selalu kulihat itu mengembangkan senyumku kembali. “ Hmmm, walau begitu, kamu harus ingat ya dengan janji kita. Kita kan janji tetap menjadi teman baik, tetap saling bertukar ilmu. Ya seperti yang sering kita lakukan. Ok?” jelas Nano singkat. “Ya udah, gabung yang lain yuk, hehe!” begitulah Nano mampu menghiburku saatku terlihat sedih, ketika yang lain tak menyadari kesedihanku. Begitulah Nano yang memberiku semangat, tanpa harus tahu apa yang menjadi masalah bagiku. Aku pun menghampiri teman-temanku dengan langkah yang riang dan senyum terkembang, tapi tanpa aku sadari Susan tetap  dengan senyum masamnya menatap tajam dalam setiap langkahku.
***
 “Tint, kenapa aku perhatiin, akhir-akhir ini kamu aneh sih sikapnya?” Nano mulai menyelidik Susan di tengah kencan mereka sore itu. “Ah aneh gimana tint, hanya perasaan tinta aja mungkin.” Elak Susan setenang mungkin, karena Susan memang paling pintar dalam menutupi suatu keadaan. Nano berusaha sekuat mungkin untuk mengetahuinya, tak letih dia merayu Susan untuk berbagi kepadanya tentang perasaanya kali ini. Susan merupakan orang yang tidak mudah menceritakan apa yang dirasakannya.
“Kamu pikir aja sendiri! Kenapa aku bersikap seperti ini. Seharusnya kamu sadar kenapa aku bersikap seperti ini.” Puncak emosi Susan ketika itu memecahkan keheningan sore dan keindahan senja yang mengiringi kencan mereka. “Salah ku?” jawab Nano masih dalam kelembutan nada. “Masih tidak faham, ya udah untuk beberapa saat lebih baik kita jalan masing-masing sendiri aja, titik. Sore.” Tinggal Susan dalam kebingungan Nano yang mendalam.
“Salah ku, apa salahku. Sepertinyaa ku selelu menuruti apa kata-katanya. Aku  selalu memenuhi keinginannya, aku selalu berbagi cerita dengannya. Salahku? Apa salahku?” fikiran berkecamuk dalam benak Nano ketika itu membuatnya terpuruk dalam kebingungan akan sikap Susan beberapa saat ini.
[Tita besok ku tunggu jam 8 pagi di kedai ichiraki.] pesan singkat yang ku dapat dari Nano sore itu. Tak seling lama HPku pun kembali berdering [KAMU JANGAN GANGGU-GANGU NANO LAGI DEH, JADI CEWEK KOK GITU! POKOKNYA MULAI SEKARANG JAUHIN NANO], perlahanku lirik nama sang pengirim. Masih dibuat tak percaya aku dengan semua ini. Apa? Apa? Apa yang sedang terjadi? Nano minta ketemuan, sedangkan Susan melarangku untuk beretemu, bahkan bukan bertemu, lebih dari itu. Apa yang harus kulakukan, datang? Atau tidak? Aku mulai bingung dengan mereka berdua. Dan aku tidak tahu apa yang salah dariku, apa yang sedang terjadi antara mereka. Ku putuskan untuk melakukan sesuai apa keyakinanku.
Pagi itu, aku beranikan langkah untuk menghadiri janjiku dengan Nano, walau disisi lain aku goyah dengan kata-kata Susan. Terpaku aku di depan pintu kayu kedai Ichiraki pagi itu, langkahku berat untuk memasuki kedai favoritku dan Nano pagi itu. Bagaimana ini? apa yang harus ku lakukan? Sejak kemarin sore, hanya kata-kata itu yang sanggup hinggap di fikiranku tentang mereka berdua. Hampir 5 menit aku terpaku di sana. Hanya mampu menghela nafas “Bismillah, insaAllah semua akan baik-baik saja.” Aku mulai melangkah menuju kursi usang yang menjadi tempatku selama ini, dan satu sosok duduk terlemas di dekat kursi yang lainnya. Aku melangkah gentar, dan duduk perlahan ragu-ragu.
“Pagi.” Sapaku pelan. “Oh ya, Pagi juga” Sapa hangat dan semangat dari Nano. “ Hemb, ada yang harus aku ceritakan ke kamu, mungkin kamu juga merasakannya. Dan semoga kamu tak terganggu dengan ini. Ini tentang aku dan Susan.” Belum cukup Nano bercerita, ku potong dengan jawaban bodohku. “Maaf. Aku ngerti kok, kemarin Susan juga sudah bilang ke aku. Terima kasih untuk semuanya.” Ku ayunkan langkahku bak tak menapak tanah, ku dengar panggilan Nano di kejauhan. Aku mengacuhkannya. Tak terasa linangan air mata kembali mengalir di pipiku. Aku tak henti mengayunkan langkah kakiku, hingga seruan Nano tak terdengar lagi di telingaku.
***
Sejak hari itu, aku tepati janjiku dengan Susan, aku tak ingin mengganggu hubungan mereka. Bagaimana pun mereka adalah teman baikku, tak mungkin aku menyakiti keduanya. Walau kebingungan masih menghantuiku, keraguan akan tindakanku seolah selalu mengancam setiap derai langkah dalam hari-hariku. Tapi keyakinkanku dalam hati, bahwa semua akan jauh lebih baik setelah ini mungkin benar.
“Tita, akhir-akhir ini kuperhatikan kamu sering murung? Kenapa manis?” Tanya halus Indri yang senantiasa ada di setiapku berduka. “ Tidak ada apa-apa In, hanya perasaanmu saja mungkin.” Ku coba untuk tersenyum agar Indri tak khawatir padaku. “MasyaAllah, Tita. Kamu itu tidak bisa nyembunyiin semuanya dari aku. Aku juga tahu kok apa yang menyebabkan kamu seperti ini. Ada sangkut pautnya dengan Susan dan Nano kan, ayo jujur?” rayu Indri, yang spontan saat itu membuatku kaget. “haha bener kan. Kalo kamu merasa keganggu dengan ini semua lebih baik kamu minta kejelasan lagi ke Nano dan Susan juga. Aku yakin ini semua salah faham, aku tahu apa yang kamu rasa, dan aku juga tahu apa yang sedah terjadi pada Susan da Nano saat ini.” Tutur ramah Indri, yang membuatku bergumam tiada henti. “tak usah memasang tampang seperti itu Tita. Bingung ya? Hah, waktu kamu cerita kamu ketemuan dengan Nano minggu dulu itu, aku dengan Susan juga ketemuan. Ya beda waktu memang, dan saat itu Susan menceritakan semuanya.” Kini aku mulai faham apa yang dijelaskan Indri padaku, ya begitulah Indri selalu pandai bermain kata, selau bijak memilih kalimat.
“Terus, apa yang kamu tahu lagi In?” Tanyaku pelan dengan sedikit bingung memahaminya. “Hehe, untuk itu, Tanya langsung orangnya aja ya manis.” Senyum Indri kini sedikit membuatku tenang. Tapi bagaimana aku harus meminta kejelasan ke Susan? Ke Nano sudah tak mungkin. Pikirku sebelum aku mulai mencoba. Aku terpuruk dalam kepesimisan, aku terpuruk dalam lubang yang penuh duri, yang bila aku salah sedikit saja dalam melangkah maka aku akan merasakan sakit bertubi-tubi.
“Susan! Aku butuh kejelasan darimu! Apa-apaan dengan sikapmu ini? Kayak anak kecil saja.” Suara Nano sedikit keras, ketika tak sengeja aku melewati mereka di lorong sekolah ketika pulang. “Kejelasan? Kejelasan? Kurang jelas apa? Aku sudah bilang jangan kontak dengan Tita lagi! Apa itu kurang jelas?” suara Susan lebih lantang dari suara Nano. Tidak pernah aku mendengar Susan sekeras itu sebelumnya.
Hampir setiap hari tanpa sengaja aku mendengar mereka bertengkar, dan itu karena aku, sejak hari itu mereka lebih kerap bertengkar. Apa salahku Ya Allah. Begitulah kata yang saat ini gemar menggelayut santai di otakku. Aku berusaha menghindar sejauh mungkin yang dapat aku lakukan. Sekuat hati aku menghindar bila Nano sedikit mengambil langkah mendekatiku. Aku semampu mungkin tidak membalas pesan-pesannya, walau tiap malam Hp ku berdering karenanya. Apakah keputusanku selama ini salah. Harus bagaimana? Kemana aku harus mencari jawabannya? Apakah perlu aku pergi jauh, jauh, jauh dari mereka berdua. Jika itu yang terbaik maka akan aku lakukan. Tapi, ini semua salah faham, begitu yang aku tangkap dari pembicaraanku tadi pagi dengan Indri.
***
Hampir lebih dari satu bulan sejak kejadian itu. Kini aku dapat melangkah tenang, pagi yang cerah kala itu mebuatku ingin berdendang bahagia. Untuk sesaat perasaan itu lenyap di telan dinginnya pagi, indahnya awan yang menggantung tinggi di langit. Langkahku ringan dan bahagia.
“Tita!” suara itu, suara yang lama tak menyapa telingaku. Perlahan aku menengok ke belakang. “Sini, aku mau cerita.” Nano menarik tasku paksa, dan mendudukanku di atas bangku keras yang dingin sedingin perasaan yang kurasakan pagi itu, tapi terasa nyaman bak alunan suara yang indah memanggilku di pagi hari kala itu.
“Nano! Apa-apaan ini, nanti….” Elakku. “Haha, dibuat nyantai aja. Kayaknya udah lama banget ya kita tidak ngobrol. Oh ya aku mau minta maaf atas nama Susan, atas kejadian sebulan yang lalu. benaran minta maaf ya. Saat  itu memang sedang terjadi kerenggangan komunikasi antara kami.” “Apa? Minta maaf? Atas nama Susan?” Putusku dalam kata-katanya, bukan dengan nada menolak, tapi aku ekspresikan kata-kataku dengan nada malu.
“Ya begitulah minta maaf atas nama susan.” Nano mulai terlihat santai, dan tampak damai dalam wajahnya saat itu. “Seharusnya kamu bilang padaku dari dulu.” Kini dia menatapku lekat, dengan senyuman manisnya.”He? Bilang? Apa yang harus aku bicarakan ke kamu?.” Jawabku yang bingung. Dia kembali menatapku dan melempar senyum ramahnya, “Iya seharusnya kamu ceritakan bagaimana perasaanmu, setelah aku mendengar penjelasan dari Indri dan Susan tentang semuanya aku jadi faham.” “Hah? Perasaanku? Memang mereka memberi tahu apa saja tentang perasaanku?”
“haha. Semuanya Ta, semuanya. Mulai kapan kamu suka aku, seberapa kamu suka aku. Kenapa kamu tidak bilang langsung ke aku?, dan kamu tahu kenapa Susan uring-uringan kemarin. Itu ya karena ini semua. Karena kamu suka aku, karena kita masih berteman akrab, tapi syukurlah, setelah mendapat nasihat dariku dan juga Indri selain itu pesan singkat mu, dia pun mau mengerti. Sekali laggi maukan kamu memaafkan kami?”
“Aku tidak pernah meninggalkan teman-temanku, apalagi sahabatku. Seberapa benci mereka padaku, maka perasaanku ke mereka tetaplah sama Nan. Jadi, dariku tidak ada yang harus di maafkan, karena semuanya InsyaAllah telah termaafkan. Bagaimana dengan Susan sendiri?” jawabku denga perasaan yang luar biasa campur aduk, antara bahagia, malu, sedih dan sedikit terbata-bata aku dalam berucap. “hmm, Susan. Tenang dia sudah faham semuanya. Ok. Tarik kata-katamu lagi ya di sms mu ke Susan. Kita kan sudah janji, akan jadi sahabat selamanya, walau jodoh, ruang, waktu memisahkan kita. Selamanya kamu akan menjadi sahabatku selamanya.” Senyum Nano dan lambaian tangannya di pagi itu menghapus seluruh lara, menghangatkan pagi itu, mencairkan kebekuan hatiku, dan mengembalikan semangatku.
Aku pun mencubo meraih Handphone ku dan aku baca kembali pesan yang aku kirim beberapa hari yang lalu ke Susan, ketika aku tanpa sengaja mengetahui mereka semakin bermusuhan. [Setelah ku mendengar semua penjelasn dari Indri, aku tau kenapa kamu bersikap seperti ini, ku mohon maaf karena telah membuatmu sakit dan membuat mu cemburu akan hal ini. tapi jujur aku dan Nano hanya sahabat biasa. Lagi pula Nano lebih memilihmu dan aku yakin kamu terbaik untuknya, walau ku suka, tapi Nano tetap memilihmu, hanya kamu. Hemb, daripada semua ini seperti ini, maka lebih baik ku pergi dari hidup kalian, terimakasih karena telah mau mengenalku dan berbagi cerita padaku, dan lupakan itu, anggap kita tak pernah kenal. Aku akn coba semampu ku. Terimakasih]. Tak aku sangka linangan air membasahi pipiku seiring aku membaca kembali pesanku, aku pun mulai menekan tombol-tombol dalam Handphoneku, dan ku akhiri semua dengan kata dalete.
Dalete untuk kecemburuan yang tak jelas, dan save untuk persahabatan yang hangat dan selamanya. Ku arungi lorong sekolah pagi itu, dengan kehangatan yang baru, dengan kedamaian yang indah dalam langkahku dan hidupku untuk mencapai impianku. “Terimakasih untuk semuanya, ya Susan.” Gadis yang lemah lembut sejak tadi sudah berdiri di sampingku, memeluk hangat pundakku. Kami pun beriringan melangkah, meraih masa depan.


by: rizu.chan/2008

Monday, 18 June 2012

sedetik itu cukup berkesan


" Tuh Ta dicariin" Rhean menghampiriku dengan polosnya. aku tahu siapa yang dimaksud Rhean, dari tadi pun aku tak lepas menatapnya. kini tubuhnya tak segemuk dulu, lebih proposional, itu kalau aku tak salah mengeja kata tersebut.
" Ah nggak mungkin, lagi pula siapa peduli." jawaban itu lah yang ternyata keluar dari bibirku, padahal mungkin hatiku berkata lain.
" Tuh teman, Rista sekarang bilangnya gitu, dulu aja, hemb." Rhean mengejekku dengan meminta persetujuan teman-temanku yang memang kebetulan hari itu kami sedang melakukan kegiatan bersama.
“ iya tuh, dulu aja, kalau lihat dari jauh sekalipun udah nggak bisa diem nih orang.” Ahya membalas sponta. Hemb saat itu ku iya kan sajalah perkataan mereka, tapi tepat lah bagaimanapun aku menolak untuk mengingatnya kembali.

“ Ah kalian nih, dia kan sudah ada yang punya. Lagi pula aku sudah tutup tirai dengannya. Bukan begitu Ru?” aku berpaling menatap Ruru yang hanya sanggup tersenyum dan mengangguk. Itu lah kebiasaan Ruru, tak ada jawaban hanya senyuman. Ya aku anggap itu mengiyakan atas pertanyaanku.

“ kamu bisanya senyum aja Ru, iya yang mana nih?” “ ya itu aku bingung, kamu banyak sih, hehe” jawab Ruru ringan. Aku banyak sih. Emang banyak apanya, lagi pula aku kan hanya mengagumi mereka-mereka, salah besar kah bila aku banyak cerita tentang cowok, bukannya wajar ya untuk usiaku saat ini yang tengah menginjak dewasa awal. Hem dewasa awal? Sepertinya belum pantas aku menginjak kata dewasa, hehe.

“ Masih laper nih, ada cemilan nggak?” ahya mengeluh di sampingku. Aku pun ingat dan ku keluarkan cemilanku yang masih banyak semalam. Kami pun menikmatinya, bahkan adik kelasku ikut nimbrung bersama kami, bicara hangat bak kamil sudah kenal lama, dengan adik kelasku itu. Ahya yang tampak bahagia dengan adanya adik kelasku itu, yang secara otomatis adik kelas Ahya juga. Hanya saja aku dulu yang lebih kenal adik tingkat itu.

Rhean dan Ruru yang awalnya duduk di atas berdekatan denganku, duduk ke bawah menghampiri Emi yang dari tadi duduk terdiam di bawah. Dan kini dia pun telah hilang dari pandanganku entah kemana, mungkin hilang saat aku sedang asyik ngobrol ini itu bersama Ahya dan adik tingkatku itu.

Asyik-asyiknya ngobrol, suara dari sampingku yang tadi tempat Ruru dan Rhean duduk menyapa hangat. Suara yang sudah lama tak bertegur sapa denganku, suara seseorang yang sejak di acara tadi selalu aku perhatikan, suara yang tadi kami perbincangkan. Dia menyapaku, dan aku spontan menatap wajahnya. Tak lama hanya beberapa detik, tapi itu yang membuatku senang. Lama dia tak pernah menyapa, bahkan kami jarang untuk saling melempar senyum, ya sangat jarang. Tapi detik itu aku melihat wajahnya dekat, melihat senyumnya yang lucu, melihat tatapannya yang sama seperti awal kami saling berkenalan dulu. Ya seditik itu membuatku sungguh bahagia.

“ Hei. Rista, kenapa sendirian? Teman-temanmu mana?” jelas pertanyaan yang tak masuk akal sebenarnya. Soalnya aku jelas-jelas duduk bersama teman-temanku. “ Ya Allah Mas, lah ini siapa? Temen-temenku semua kan.” Ku jawab sekenaku dan aku usahakan senyantaiku, semoga dia mendengarnya seperti itu.

Tapi sayang hanya sedetik itu saja, dan kami pun sibuk lagi dengan kegiatan kami sendiri. Teman dia yang duduk disampingnya saat itu, mungkin yang menjadi penghalang pembicaraan kami saat itu. Mungkin bisa lebih dari sedetik, mungkin. Karena sempat ku lirik dia, dan kulihat gelagatnya yang masih ingin bercakap denganku, atau hanya aku saja yang ke-gr-an. Tapi itu terlihat jelas, mungkin teman-temanku juga akan tahu jika mereka memperhatikan. Tapi tak mungkin, itu hanya basa-basi bagi mereka, dan beda menurutku.

Dulu memang aku pernah sempat suka dengan dia, Kak Bana. Sepertinya perasaan itu juga pernah singgah di hatinya. Karena sikapnya kepadaku lah yang membuatku suka dengannya, perhatian yang diberikannya duluan lah yang menarik perhatianku berikutnya. Tapi itu dulu, kini semua berbeda. Dia sudah punya seseorang yang sudah cukup untuk melengkapi hidupnya. Dia tak berubah sebenarnya, hanya saja kami pun semakin renggang hubungan pertemanannya. Dia yang dulu bilang telah menganggapku adik sendiri, kini bahkan jauh dari sikap seorang kakak kepada adiknya. Tapi ya sudahlah, aku hanya masa lalunya, beruntung dia tak melupakanku.

Di luar tempat aku bercengkrama tadi bersama temanku. Aku sampaikan rasa bahagiaku pada Rhean dan Ruru. Mereka menanggapi dengan hangat, tapi aku justru yang menjadi mengelak. “ mungkin bukan sekarang Ta, tapi siapa tahu besok justru kamu yang jadi bersamanya.” Ejek Rhean yang tahu jawaban apa yang aku inginkan.
Hah memang bukan sekarang, siapa tahu nanti. Karena jodoh adalah rahasia Illahi, dan aku akan tetap bersabar dan berusaha untuk itu semua.

by:Rizu-chan, 17 juni 2012
at Ft's day

Wednesday, 6 June 2012

penghilang penat




Assalamu’alaykum
Ternyata sudah di bulan juni ya, wah udah lewat lama juga sieh,,
Kalo di kampusku bulan juni-juli tuh udah jadi rutinitas tahuanan, sebagai bulan penuh ujian. Tapi beruntungnya nggak sampe bulan juli untuk tahun ini, tapi yaaa…. Padat merayap euy di bulan juni ini.
Sudah banyak ujian, banyak kegiatan pula (masyaAllah malah ngeluh ya)… bukan ngeluh sieh sebenernya, lebih tepatnya mau berbagi cerita hehehe
Gini bagi temen-temen yang juga sedang mengalami keibukan yang sama dengan saya (ato sok sibuk lebih tepatnya), jangan lupa jaga kondisi dan makan ya… hoho, jangan kayak ane deh, KO.. hoho
Habis konsul ma calon dokter alias co-as kenalan ane, ternyata ane tuh lagi kena stress psikis ditambah migrain pula. Ini yaaa dikarenakan terlalu capek dan pola makan yang nggak baik.
So,,, sekali lagi buat temen2 yang sama (sok) sibuknya, jangan sampe stress ya, diusahain deh tetep ngeluangin waktu buat ngilangin stressnya…
Nieh nieh ada sedikit cara:
1.      Coba deh telapak tangan dihadepin ke atas, tekuk sedikit, nah bagian sisi yang sejajar dibenturin deh. Ini berfungsi untuk mengurangi kaku leher, dan mencegah sakit kepala, salah satunya migraine tadi.







2.       Tangan kiri genggam erat, telapak tangan kanan membentur genggaman tangan kiri. Dan lakukan sebaliknya. Nah kalo ini buat ngilangin stressnya pluss nambah semangat loh…

Patut dicoba tuh, ya kalo kalian ngalamin sedikit stress atau tekanan. Nggak akan rugi kok, nggak lama juga waktunya ehehe…
Nah selain itu, untuk pola makannya kalo pas sibuk-sibuk gitu, hindari deh makanan2 yang ngandung MSG dan juga kaffein (teh dan kopi), apalagi yang punya gangguan pencernaan kayak ane, hohoho… wajib ‘ain dihindari tuh. Kalo nggak ya rasakan deh akibatnya (malah ngancem ya).
Ya tapi itulah yang ane rasain sekarang dengan banyak nya aktivitas, tapi sedikit refreshing.
Semoga bermanfaat deh ^_^
Assalamu’alaykum…

Friday, 18 May 2012

kasih seputih kafan


 “Vin, kian hari kok aku malah nggak yakin ya dengan hasil ta’aruf kemarin.” Tampak jelas keraguan di wajah imut Lala saat itu.
“ Nggak yakin gimana sih kak? Kan udah saling sepakat, dan menentukan hari.” Vindi yang diajak cerita oleh kakaknya makin tak mengerti.
Beberapa waktu yang lalu Lala positif di kitbah oleh seorang lelaki baik-baik dan insyaAllah dari keluarga baik-baik pula. Vindi sang adik lah yang mengenalkan mereka, dan awal perkenalan mereka, mereka sudah saling setuju untuk berkenalan lebih lanjut. Tanpa berpikir lama Rizwan pun langsung datang bersama keluarganya untuk menyatakan kitbah terhadap Laila Firdaus itu.
Jelas hari pengkitbahan itu Laila bahagia karena dipikirnya usianya benar-benar sudah matang untuk menjalani bahterah rumah tangga yang agung. Tidak ada kata protes sedikit pun darinya ketika kata-kata pengkitbahan hari itu diucapkan oleh keluarga Rizwan.
Setelah hari itu pun tetap Laila tak merasa ragu sedikit pun. Dia tetap meyakini bahwa Rizwan adalah pemilik tulang rusuk yang ada padanya. Vindi terlebih lagi, merasa amat bahagia atas kebahagiaan kakaknya itu. Tanpa berat hati dia antarkan kemana pun kakaknya meminta untuk mencari perlengkapan pernikahan yang telah disepakati.
Dua keluarga itu pun mulai akrab, sempat beberapa kali orang tua Rizwan datang berkunjung untuk memperat tali silaturahmi antar keluarga. Dan begitu juga dengan kedua orang tua Lala. Keakraban seakan telah tumbuh lama, seolah dua keluarga itu memang ditakdirkan untuk saling berbesanan dan mempererat ukuwah silaturahminya.
Akan tetapi sudah dua hari ini Lala tampak murung, tampak ragu dengan pengkitbahan 3 minggu yang lalu. Kini Lala mulai bertanya-tanya kenapa Rizwan seolah terburu-buru dengan pernikahan ini?  tanda Tanya besar dalam benak Lala dalam kurun dua hari ini. Pemikiran bodoh itu pun selalu membayanginya setiap malam, setiap dia bermunajat kepada Sang Kholiq, dan bayangan pertanyaan bodoh itu pun telah cukup mengganggu kebahagian dan hidupnya yang genap sempurna itu.
“ Mbak aku jadi penasaran deh, kenapa kamu kemarin tiba-tiba bilang gitu? Apalagi pertanyaanku kemarin belum dijawabkan.” Suara halus Vindi melenyapkan lamunan Lala sore itu, suara embikan kambing pun melantuni suara halus Vindi.
“Gimana Vin? Nggak ada kok, mungkin hanya pikirang bodohku saja.” Elak Lala yang enggan membuat satu-satunya orang yang mengetahui perasaannya saat itu tentang pernikannya.
“Jangan bohong Mbak. Dua hari ini aku perhatiin kamu murung terus, terus kalau Umi ma Abi ngajak ngobrol tentang pernikahanmu, kamu selalu nolak.” Selidik Vindi yang memang gemar mengamati setiap gerak-gerik keluarganya. “lagi pula, Mbakku tuh nggak kayak gini, seberat apapun masalah hidup, nggak pernah tuh sampe murung gini.” Lanjut Vindi mendoktrin kakaknya itu.
Tak ada kesempatan lagi Lala mengelak adiknya yang super teliti itu. Lala pun mulai menceritakan kegelisahannya.
“Semua tuh berawal dari mimpiku sekitar empat hari lalu, awalnya sih aku cuek, tapi tiga hari berturut-turut aku mimpi hal yang sama Vin.” Jelas Lala dengan bingungnya.
“Mimpi? Masak sama mimpi aja sampai bikin kamu bilang gitu?” selidik makin dalam.
“Soalnya mimpinya tentang Mas Rizwan Vin. Di mimpiku mas Rizwan pamitan sama aku, dan dia tuh pake baju putih-putih gitu. Jadi aku ragu. Apalagi mas Rizwan mutusin buat mengkitbahku dan menentukan tanggal pernikahan seolah terburu-buru kan?” Lala menatap lekat wajah kotak adiknya itu yang terbalut rapih oleh kerudung besarnya. Vindi pun mulai Nampak berfikir serius.
“Awalnya aku juga ngerasa aneh Mbak, kenapa Mas Rizwan kesannya buru-buru. Tapi toh akhirnya Mas Rizwan ngikutin keputusan bersama kan?” suara Vindi pun mulai tampak ragu.
“Entahah Vin, tapi aku mulai ragu dengan keputusan pernikan ini”
“Bismillah aja Mbak, kalo Mas Rizwan memang jodoh kamu, InsyaAllah apapun yang terjadi pasti akan tetap bersama. Tapi kalau bukan, ya mau apalagi itu lah keputusan Allah yang terbaik untukmu.” Vindi mulai mendeklarasi. “Ingat Mbak kita manusia yang hanya wajib untuk berusaha, apalagi jodoh. Dan semua keputusan mutlak milik Allah.” Vindi mengakhiri dengan mendekap erat kakaknya itu yang kebetulan tubuh Vindi lebih besar dari kakaknya itu.
(rumah Rizwan)
“Rizwan sebenarnya kamu kenapa tho le, kok kemarin kesannya buru-buru mutusinnya?” tanya ibunda Rizwan dengan halus di emperan rumah mereka dengan Rizwan sibuk mencabuti rumput di halaman mereka yang cukup subur tumbuh.
“Boten nopo kok Bu.” Rizwan tanpa menjawab tanpa menoleh kepada ibunya yang sedang asyik membaca buku di emper.
“Ndak usah bohong tho le, kamu ki udah tak asuh 26 tahun lebih. Ibu ki ngerti banget gimana kalo kamu ki bohong. Mrene sik, jawab yang serius.” Rizwan pun mengiyakan dan menghampiri ibunya dan duduk manis di samping ibunya.
“Ngapurane nggih Bu, sebelumnya Rizwan ndak pernah cerita. Tapi ada hal yang cukup ngawatirke bu.” Rizwan pun melanjutkan ceritanya, tanpa berani menatap wajah ibunya secara langsung, yang sering dia lakukan kalau bercerita dengan kedua orang tuanya. Rizwan tak sanggup bila harus melihat air mata menitik di wahaj tua ibu nya sore itu.
Malam yang cukup dingin menyelimuti rumah Lala, yang membuat para penghuninya yaitu Lala, Vindi, dan kedua orang tuanya berkumpul rapat di ruang tengah. Dengan menyaksikan sederetan acara TV yang kian tidak ada nilai pendidikan di dalamnya. Tapi tidak ada hiburan lain yang mampu menyatukan mereka sehangat itu.
Lala melirik ke arah Vindi, Vindi pun mengerti dengan lirikan itu dan mulai mengambil nafas juga tampak menyusun kata-kata yang pantas untuk memberitahukan kebimbangan kakaknya itu.
“Ummi-Abi. Ummi sama Abi apakah yakin benar dengan pernikahan Mbak Lala sama Mas rizwan.” Kedua orang tuanya yang ternyata asyik dengan acara salah satu stasiun itu itu pun menatap Vindi dengan serius.
“lah kok malah kamu yang jadi ragu tho Ndi?” Ayah mereka menimpali, karena memang ibu mereka lebih banyak diam.
“Lala yang ragu kok Pak Bu. Bukan Vindi, Cuma Lala bingung yang harus nyampain ke Bapak sama Ibu.” Lala pun mulai berani untuk ikut mengambil bagian dalam bercerita.
“Lah ragu piye tho nduk?” kali ini Ibu yang menimpali. Dan ruang tengah yang awalnya dingin kini mulai terasa panas. Pembicaraan pun mulai menjadi serius.
“Kulo nggih boten ngertos Bu. Dulu ya boten nopo, baik-baik saja. Tapi beberapa hari ini, Lala niku ngimpiin Mas Rizwan terus Bu, Pak.” Mata Lala pun mulai tampak berkaca-kaca, Vindi memegangi tangan Lala sebagai upaya memberikan kekuatan pada kakaknya itu.
“Lah malah bagus no, ngimpiin berarti jodoh. Wis toh, Bapak sama Ibu i dah srek ma keluarga mereka. Bapak lihat orang tua Rizwan yo wis nompo apik keluarga kita.” Tetap Bapak berusaha bicara dengan nada pelan, sedang Lala mulai tampak ketakutan. Karena Lala dan Vindi mengenal Ayahnya sebagai orang yang keras.
“iya nduk, ibu juga setuju sama bapak. InsyaAllah nggak ada apa-apa nduk. Wis mending kamu banyak sholat malam. Biar dikasih ketenangan sama Gusti Allah.” Ibu mulai tampak menenangkan Lala, yang menyadari ada seraut ketakutan dan kebingungan yang luar biasa di wajah mungil Lala.
“Bi, Mi. kami tidur duluan ya.” Pamit Vindi dengan mengajak Lala ke kamar, yang kebetulan kamar mereka besar yang muat untuk dua tempat tidur. Padahal malam itu jam baru menunjukan pukul 8. Sebenarnya belum ada kantuk di wajah mereka, tapi Vindi hanya mengajak Lala untuk menenangkan diri di dalam kamar saja.
Vindi berusaha sebaik mungkin untuk mengembalikan semangat kakaknya itu. Vindi berusaha meyakinkan kembali bahwa Rizwan adalah jodoh yang terbaik untuknya.
Kini malam semakin larut, Vindi telah lerap dalam tidurnya, dan suara TV di ruang tengah yang berada di samping kamar Lala pun sudah senyam. Karena malam telah menuju jam 1 petang. Lala melangkahkan kakinya keluar untuk membasahi wajahnya dengan air mudhu. Untuk kesekian kalinya Lala bercerita tentang kegelisahannya ini kepada Sang Kholiq, yang diyakininya hanya Allah Ta’ala yang mampu memberikan jawaban yang baik untuknya. Dengan inilah Lala mampu menenangkan hati dan fikirannya, hanya sekedar untuk menghantarkan tubuhnya beristirahat. Berbeda dengan malam-malam yang lalu, sejak kegundahan itu datang. Tak pernah Lala merasa setenang itu, merasa bahwa semua akan baik-baik saja, walau Lala masih tidak yakin akan pernikahan ini. Tapi malam itu Lala merasakan ketenangan yang indah.
Wajah Lala mulai tampak bersinar kembali, tingkahnya yang asal-asalan pun mulai mengiringi harinya. Vindi yang melihat itu pun turut merasakan ketenangan yang dirasakan kakaknya sejak malam itu.
Kring….Kring… “Assalamu’alykum. Ada apa Bu?” Sapa Lala tenang.
“Wa’alykummussalam warahmatullah. Nak Lala sama keluarga bisa main ke rumah kami segera atau tidak? Ada hal yang penting untuk diberitahukan.” Suara parau Ibu Rizwan terdengar dari seberang telefon. “Iya Bu, Assalamu’alaykum.” Setelah mendengar salam dari seberang telefon, Lala langsung mengajak keluarganya menuju rumah Rizwan.
“Vin, perasaan ku nggak enak lagi deh.” Lala yang duduk di samping Vindi pun mulai berlinangan air mata.
“InsyaAllah nggak ada apa-apa mbak.” Vindi tetap berusaha menengkan kakaknya itu, yang memang mudah panik.
Mereka pun mulai memasuki gang rumah Rizwan. Dari kejauhahan dalam mobil mereka tampak keramaian di depan rumah yang akan mereka tuju. Dan ada sebuah titik yang membuat Lala dan Vindi menyipitkan mata.
Mereka pun semakin dekat, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun..” terdengar suara ibu dari jok depan, yang sudah tampak lebih dulu titik yang membuat mata gadis itu menyipit.
“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun..” kini Vindi yang ikut menyeruakan lafaz itu. Semakin jelas di depan mereka, sebuah bendera merah terpasang di depan rumah Rizwan.
“Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun. Siapa yang meninggal ya?” kini suara Lala yang menyahut, tetapi terdengar lebih tegar dari suara Ibu dan adiknya. Mereka pun segara turun dan menghampiri keluarga mereka.
Ayahnya ada, ibunya ada, jangan-jangan. Kini mulai tampak memucat wajah imut Lala. Mereka pun menghampiri peti yang sudah ada mayat yang terbujur kaku di dalamnya. Sebelum melihat jenazah tersebut dan sedikit menghilangkan prasangka buruk dalam hati Lala, mereka pun mengerjakan sholat jenazah terlebih dahulu.
“Maaf ya nduk, kayaknya memang harus berhenti hari ini.” Pegangan hangat menyentuh pundak Lala yang sedang mematung di samping peti jenazah dan dengan lekat memandangi seorang lelaki yang terbujur kaku di tempatnya dengan senyuman yang indah. Air mata pun mulai terlihat mengalir di pipi manisnya itu, yang sudah cukup untuk membasahi kerudungnya yang menjulur hitam itu. Dan memang ada sebuah perasaan yang menyuruhnya untuk mengenakan kerudung hitam itu.
“Iya Bu.” Sambil mengusap air mata dan ikut duduk bersama keluarga besar kedua keluarga itu.
Sekembalinya para pelayat, kedua keluarga pun mulai berbagi cerita.
“Kami sebelumnya minta maaf, kami juga tidak tahu kenapa semua ini bisa terjadi.” Suara ibu Rizwan yang memulai semua pembicaraan siang itu.
“Ndak apa kok Bu, ini udah takdir Gusti Allah, ndak ada yang bisa kita perbuat juga tho bu.” Ayah Lala lah yang menimpali. Lala mulai tampak bisa tersenyum, walau senyumnya terasa aneh, ini sudah cukup melegakan untuk kedua keluarga.
“Kami yang salah Pak, Bu, nak Lala. Seharusnya kami tahu benar alasan Rizwan menikah yang sebelumnya juga membuat kami kaget.” Ibu Rizwan juga berusaha tegar, sama tegarnya dengan Lala.
“Alasan? Memang ada yang salah dengan Mas Rizwan sebelumnya Bu?” Selidik Vindi seperti biasa apabila ada sesuatu yang tak semestinya.
“Ndak ada yang salah sebener e Nak Vindi. Tapi ibu juga baru tahu sekitar 1 mingguan yang lalu, kalo Rizwan iku punya sakit yang katanya cukup bahaya. Tapi yo kita ndak nyangka menawo umur e Rizwan mung semene.” Suasana menghening. Hanya Ibu Rizwan yang tahu kalau Rizwan punya penyakit yang mematikan. Sebenarnya dari kematian Rizwan pun dapat diketahui bahwa dia terkena serangan jantung. Rizwan meninggal di kamarnya setelah menjalankan sholat subuh, dan merasa sedikit pusing jadi dia bepamitan untuk pergi tidur.
Setelah pihak laki-laki selesai bercerita tentang sakit Rizwan. Kini Lala pun ikut memberanikan diri menceritakan tentang mimpinya yang menyangkut Rizwan. Dia menceritakan secara mendalam semuanya. Kedua keluarga pun memahami semuanya, ini adalah takdir Allah, tak ada satupun yang mampu mengelaknya. Sebaik apa rencana manusia Allah pemberi keputusan terbaik.
“Benar apa yang menjadi keraguanku selama ini Vin, sekarang jelas makna mas Rizwan pamitan dengan pakaian yang serba putih bersih beberapa hari lalu.”
“Iya Mbak, sekarang aku juga paham.” Pembicaraan yang masih kelabu di sore yang cerah dengan kicauan burung di sekeliling rumah terlontar diantara Vindi dan Lala.
“Seandainya ya Vin, aku nggak nerima. Atau pas ta’aruf kemarin aku nggak buru-buru ngambil keputusan. Pasti nggak akan sehampa ini rasanya.”
“Husss, nggak boleh berandai-andai gitu Mbak. Kalo aku yakin malah Allah tuh punya rencana yang besar ke kamu.” Sergah Vindi Cepat.
“Tapi kamu pasti nggak tahu gimana perasaanku. Rasanya seperti kehilangan permata ditangan yang sudah siap jadi cincin yang indah.”
“Mbaaaakk,, coba bayangin kalo Allah memanggil Mas Rizwan ketika sudah nikah dengan kamu, apa nggak lebih sakit. Uwis tho, Allah tahu yang terbaik. Allah sedang menguji seberapa besar keikhlasmu menerima keputusan Allah. Allah itu maha tahu mbak tentang nasib umatnya.” Nasihat Vindi sore itu, menyadarkan Lala tentang suatu kenyataan. Rizwan belumlah menjadi miliknya, Rizwan masih milik Allah. Tidak ada hak bagi Lala untuk memprotes apa yang jadi keputusan Allah. Seiring terdiamnya suara kicauan burung, terkembanglah senyuman Lala, yang selalu dirindukan oleh adiknya itu.

created by : risu.chan

Sunday, 29 January 2012

tak semudah itu

entah kenapa jika ku merasa gundah, sedih, dan ingin berbagi cerita sesuatu pasti dia yang kuhampiri,,
kulepas semua keluh kesahku padanya, 
tanpa ku peduli apakah dia dengan ikhlas menerimanya
tapi dia selalu seolah senyum jika kuhampirinya untuk bercerita,
tak disangka timbul rasa suka padanya,

ku ungkapkan rasa itu padanya,
awalnya dia seperti tak percaya,
dan akhirnya dia seolah-olah tak peduli mendengarnya

mungkin aku tak munya malu kali ya,,
tetap aja tiap hari ku curahkan kisahku padanya hahaha

sampai suatu hari, masalah timbul...
aku suka pada seseorang yang awalnya ku benci
dan ternyata dia dan seseorang tersebut adalah teman...
malunya aku,, 
tapi sudah terlanjur, tetap saja kulanjutkan kebodohanku,, hihi
cerita dan cerita, minta pendapat dan minta pendapat
pada akhirnya kami saling beradu argument..

gini nih adu argumennya:
dia: kalau kamu suka dia aku sampein deh nanti
aku: nggak perlu, lagi pula dia terlalu baik untukku
dia:menurutku jika seorang wanita menolak pria karena alasan "terlalu baik" maka itu alasan terbodoh yang pernah aku dengar...  bukannya wanita mencari laki2 yang baik? bukan laki2 yang menyakitinyakan?
aku: bukan begitu maksudku, hanya saja aku nggak mau dia mendapatkan wanita buruk seperti aku kan dalam al-qur'an itu diberitahukan bahwa,, laki2 yang baik untuk wanita yang baik2, dan wanita yang buruk untuk laki2 yang buruk juga
  nah saya malu,,, secara menurutku dia terlalu baik (agamanya) untu orang sepertiku
dia:kalau kamu suka denganku dan kamu bilang kamu wanita yang buruk, berarti secara tidak langsung kamu bilang kalau aku laki-laki yang buruk juga ya?  makasih :)


ketika kata-kata itu terucap olehnya terasa sesak di dada..

aku : astaghfirullah.. bukan begitu maksud saya, semua sulit untuk dijelasakan
dia: masih mau adu argumen? :)
aku: tidak, jelas saya kalah, kakak jauh lebih baik dari saya..saya suka kakak kan juga suatu khayalan belaka,, bak pungguk merindukan bulan,,,kakak dengan dia  itu sama2 baik dimata saya,, kalian tuh nggak pantes kalo mendapatkan saya,,,maaf udah suka dengan kakak,, maaf jika mengusik kehidupan kakak...

dan akhirnya semua ku pasrahkan pada waktu, hanya tinggal menunggu apakah dia masih ingin berteman denganku, masih ingin menjadi tempatku membagi cerita. serasa ada yang hilang ketika itu, dan berharap dia memaafkanku..

ku akhiri semua dengan sebuah sms "maaf ya kak, layaknya laki-laki yang menginginkan wanita baik untuk pendamping hidupnya, maka wanita pun begitu, menurut saya kakak itu baik, makanya saya suka dengan kakak,, maaf atas kata-kata saya tadi :)"

dan kuakhiri semuanya dengan sms terkahir itu, entah apa yang mampu ku lakukan sekarang, ku hanya mampu berdoa semoga ku tak menyakitinya. ku tak tahu apakah aku terlalu percaya diri ataukah bagaimana, atau seharusnya semua ini tak pantasnya terjadi dari awalnya, ataukah seharusnya aku tak berbagi cerita dengannya, hmmm

lama ku menunggu atas jawaban pernyataanku, sungguh menunggu itu tak mengenekan, apalagi perasaan lah yang di tunggu
selang beberapa minggu setelah ku bilang padanya saat itu, akhirnya ku tahu jawaban darinya, bukan hal yang membahagiakan tapi suatu hal yang sungguh melehakan ^_^