Friday, 10 August 2012

cinta




assalamu'alaikum...
 
Aku yang memutuskan untuk jatuh hati padanya, tapi mungkin awalnya tak menyangka akan seperti ini. Menyukainya bahkan lebih dari biasanya. Aku mulai benar-benar jatuh cinta. Aku kira akan mudah melupakannya, ketika aku tak lagi akrab dengannya (emang kamu pikir semudah itu?). ya memang, ternyata tak semudah itu. Aku terperangkap keimanannya. Sungguh aku terperangkap oleh keimanannya.
Bukankah Bunda Khadijah juga terpaku oleh keimanan Rasulullah Shalallahu’alaihiwassalam waktu itu. Bukankah Istri Nabi Ayyub setia menunggui beliau ketika sakit karena keimanannya. Dan bukankah Fatimah memilih Ali juga karena keimanannya.
Seharusnya apa yang salah dengan rasaku ini Ya Allah? Tidak ada, inikah fitrah?
Tapi aku benar-benar tak mampu untuk melupakannya, justru aku ingin dia menjadi suamiku (aneh bukan?) tapi bukankah dalam mencari pasangan itu dilihat dari empat hal (iya emang bener sieh...) parasnya, hartanya, keturunannya, dan agamanya, bila tidak bisa keempatnya maka pilihlah karena agamanya (al-hadits). Sedangkan empat hal itu ada padanya, bukankah dia lelaki yang baik.
Ya Allah aku tahu ini salah, sehingga aku mohon bantu melupakannya. Aku bingung bila cinta menyapa, tak ada yang sanggup menolong kecuali Engkau, bukankah “ sebaik-baik penolong dalam hidupmu adalah Tuhanmu, Rabb semesta alam.”
***
Nah guys cerita di atas tuh sedikit gambaran kalo jangan suka bermain-main dengan api cinta kalau kalian belum siap dengan sambaran api itu. Mantapkan dulu keimanan, jangan sampai ya kita terjerumus dalam pacaran. Inget “janganlah kamu mendekati zina” karena kalo kamu deketin tuh zina kena tuh percikan api neraka, mau???

Nah teman, selain itu pilihlah seseorang karena keimanannya. Udah bener sieh sebenernya tuh cewek. Saya aja sebeneranya bingung, apa yang salah (habis curcol aja sieh), dan yang penting jika kamu mencintai seseorang cintailah karena Allah. Bukan karena cantik ato gantengnya, bukan karena kaya ato miskinnya.
Cinta karena tampang tuh bisa pudar loh (kalo mutlak karena tampang), cos nggak ada guys yang awet muda selamanya. Lagian pula kalo merujuk soal tampang, sampe sekarang nggak ada tuh yang bisa nyaingin Nabi Yusuf alaihi salam, atau nyaingin kecantikannya Asiyah istri fir’aun (eits walau dia istri Fir’aun tapi dia tetep beriman loh...). nah kalau ngumingin masalah kekayaan nggak ada yang bisa nyaingin Abu Bakar tuh, bahkan Rasulullah aja kaya... tenang kekayaan kan bisa dicari, selama kita rajin berikhtiar di jalan yang benar ^_^.
So guys pilihlah seseorang karena Agamanya, karena agama yang menuntun segalanya. Agama akan menjadikan semuanya serba kaya, walau semiskin apapun hartanya. Karena ikhlas lah yang menuntun orang menjadi kaya. Agama juga akan menjadi seseorang terlihat tampan dan cantik walau aslinya pas-pasan hehe, karena rasa syukur atas ciptaan Allah lah yang menjadi serba indah.
Tidak ada yang salah dengan cinta guys, yang salah tuh apakah kalian sudah siap atau belum. Cinta itu tidak melukai guys, karena cinta itu harusnya membawa bahagia. So kalau kalian sakit hati karena cinta, itu tandanya kamu belum siap, atau kamu salah dalam mencintai....
Ngomong-ngomong tentang cinta, jadi inget sesuatu nieh (yang jago silahkan didendangkan ^_^)
Mencintai dicintai fitrah manusia
Setiap insan di dunia akan merasakannya
Indah ceria kadang merana itulah rasa cinta

Berlindunglah pada Alloh dari cinta palsu
Melalaikan manusia hingga berpaling dari-Nya
Menipu daya dan melenakan sadarilah wahai kawan

Cinta adalah karunia-Nya bila dijaga dengan sempurna
Resah menimpa gundah menjelma jika cinta tak dipelihara

Cinta pada Alloh cinta yang hakiki
Cinta pada Alloh cinta yang sejati
Bersihkan diri gapailah cinta Cinta Ilahi

Berlindunglah pada Alloh dari cinta palsu
Melalaikan manusia hingga berpaling darinya
Menipu daya dan melenakan sadarilah wahai kawan

Utamakanlah cintapadanya terjagalah amalan kita
Binalah slalu cinta Ilahi hidup kita kan bahagia

Cinta pada Alloh cinta yang hakiki
Cinta pada Alloh cinta yang sejati
Bersihkan diri gapailah cinta Cinta Ilahi

So guys, kalau kalian belum siap dengan cinta dunia. Alangkah indahnya belajar cinta dari Allah dulu ^_^

assalamu'laikum

Monday, 6 August 2012

dua minggu menajubkan

"bismillah, ku pasrahkan semua keadaanku kepadamu Ya Allah selama aku di sana nanti". itu lah do'a yang mengiringiku melangkah menuju kota yang cukup jauh dari tempatku. bukan kotanya yang menjadi masalah bagiku. tapi berhadapan dan hidup bersama 11 orang bahkan lebih yang tak begitu aku kenal lah yang menjadikanku takut ketika beranjak meninggalkan rumahku yang usang namun sangat nyaman.
" masyaAllah, banyak sekali foto-fotonya, nyeremin ah." kata-kata itu lah yang terucap pertama ketika aku melangkah masuk kedalam tempat yang akan aku singgahi sementara waktu bersama 11 orang lebih itu.
malam yang berat bersamaku saat itu, keadaan yang belum pulih benar harus diserbu dengan dinginnya AC tempatku menginap, dada sesak hidung tersumbat. parah. apalagi bersama orang yang tidak akrab dengan ku.
tapi kini kurindukan kebersamaan itu, kurindukan dibinginnya AC kamar itu, yaa walau bagaimanapun tak dapat mengalahkan diginnya udara pedesaan tempatku.
tapi jujur sungguh kurindukan saat bercanda bersama, bernyanyi bersama. mendengar kata "nDang og, gantian loh..." ketika pagi hari antri mandi.
sungguh tak aku sangka dan nyana, betapa beda mereka yang aku kenal ketika bersama di kampus dan di tempat singgah itu. satu dua orang yang sungguh membuatku tercengang, orang yang awalnya paling mebuatku tegang. tapi keakraban dua minggu itu melunturkan segalanya. aku bahagia mengenal dia apa adanya. aku bahagia melihat betapa peduli dia dengan yang lainnya. dua minggu itu membuatku berubah persepsi terhadap satu orang dengan orang yang lain
tak semua menjadi lebih baik mungkin persepsiku. tapi orang yang membuatku tegang sebelumnya, justru orang yang paling membuatku rindu akan kebersamaan itu. akan ku kenang selalu saat bersamanya, kata-kata halus darinya. sungguh indah.
RSUP dr.kariadi semarang

Thursday, 19 July 2012

terkadang aku ingin menulis, hanya menulis
walau entah apa yang ingin aku tuliskan
tapi jari jemari ini selalu riang untuk meliuk dan mengetuk
aku pun tekadang hanya bisa menurutinya
walau entah apa yang akan terserat dalam goresan tinta ketikan huruf
tapi tak tahu dari mana datangnya,
keinginan untuk menarikan jemari ini selalu saja muncul
membuat gundah dan ragu
tapi ketika aku mulai mengayunkan tangan ini
maka semua akan terasa mudah, tapi sedikit aneh

Wednesday, 4 July 2012

Sahabat itu Tak Terlupakan


(Duk) “ Au.” teriak Tita spontan tanpa sadar. “ Eh. Kenapa kamu Ta? Ngelamun saja si kerjaannya,” celetuk  Nano sambil cekikikan, yang tanpa disadari Tita memperhatkannya sejak masuk ke kelas tadi.  “ Huft, apaan sih malah ketawa aja?” gerutu Tita sambil lalu. “ ya kamunya juga, jalannya sih bener pakai kaki, tapi tidak lihat-lihat sekitar gitu. Sudah tahu ada meja sebesar itu, masih saja ditabrak, gimana tidak lucu.” Nano semakin membuat Tita geram.
Tita, begitu aku disapa. Semua temen di kelas sudah hafal dengan kebiasaanku, hobi nubruk sana nubruk sini, maklumlah memang aku sangat ceroboh orangnya. Kata temen–temen sih aku tomboy orangnya, padahal aku berkurudung rapat dan manis. Sedangkan Nano adalah temen sekelasku yang sekaligus cowok taksiranku. Tapi cinta bertepuk sebelah tangan, Nano hanya menganggap ku sahabat biasa.
Kita, aku dan Nano merupakan siswa baru di SMA yang sama, dan kami baru saja kenal dan akrab di SMA ini, tapi keakraban kami layak teman lama yang tak pernah bertemu. Ya maklumlah kami banyak hobi dan kesukaan yang sama.
Aku sedikit banyak mengenal Nano, banyak hal yang selalu kami bagi bersama. Bahkan sampai orang yang kami suka saja kami ceritakan, terkecuali perasaanku padanya. Nano suka temen sekelas yang sekaligus akrab juga dengan ku, Susan begitulah sapaan gadis manis, berkerudung, dan lemah lembut itu. Dan aku jelas cemburu padanya. Susan lah tempat berbagi ceritaku tantang Nano.
***
“ Tita, Tita, sini deh!” teriak Nano dari bangkunya, aku sendiri melenggang pelan yang kebetulan aku baru saja muncul di depan pintu. “apaan sih, pagi-pagi udah teriak aja” jawabku ketus dan sambil lalu. Kebetulan baru kami berdua yang datang sepagi itu. “ ya ampun sini dulu deh, aku mau cerita nih.” Tarik paksa Nano. “ya OK! apaan sih!” lepas ku, tampang judes. “maaf,maaf, ketus banget sih bu?” ejak Nano bercandaan. Melihat tampangku yang makin judes. Nano pun mengurung kan niatnya, “ hemb kayaknya nggak sekarang deh” Nanopun meninggalkan ku sendiri di dalam kelas yang sunyi di pagi hari itu.
Mungkin apa yang Nano akan sampaikan, adalah kabar yang telah ku ketahui dari teman sebangku ku Indri. Beberapa hari yang lalu Indri memberitahu aku kalau Nano dan Susan jadian, tepat saat mereka berlibur ke rumah teman sekelas kami. Pikiranku dan perasaanku saat itu sedang gundah, sedang tak ingin diganggu, dan berharap apa yang aku dapat dari Indri hanya kabar belaka, tetapi wajah Nano yang ku lihat saat aku datang tadi menggugurkan semua harapanku.
Hari itu waktu berjalan amat lamban bagiku, aku ingin segera membaringkan kepalaku, melepaskan penatku, tak sanggup ku lihat Nano bersama Susan. Bahkan hanya untuk mendengar suaranya saja berat bagiku. Tadi ketika istirahat, Nano kembali mencoba menyapaku, walau dia hafal denganku yang tak mau diganggu jika seang berparas seperti saat tadi. Kami sudah hafal peringai masing-masing.
“ Tita, aku tidak peduli kamu dengerin aku apa tidak.” Permulaan Nano angkat bicara dari belakang kursiku, dan aku tetap membeku dengan wajah dinginku. “ Aku hanya ingin menyampaikan ini secara langsung, aku tidak ingin cerita ini kamu denger dari orang lain, atau dari aku tetapi lewat perantara alat. Aku hanya ingin menyampaikan secara langsung.” Mulai Nano memberikan alasannya. “hemb,” Gumamku singkat. “Ok, begini.” Nano berpindah di depanku dan menatapku dalam, dia pun memulai ceritanya. “ kau tahu, dan pasti kau sudah tahu.Nano berhenti sejenak menatapku, lekat. “ tentu saja kau sudah tahu. Aku punya pacar baru.” Wajah girang Nano lekat dimataku, tapi menusuk tajam jantungku. “ pacar baru?” aku berusaha menjawab sewajarnya, menyunggingkan senyumku yang manis menurut Nano, awal kami berkenalan.”siapa? anak kelas ini kah?” kulanjutkan jawabanku, sekenaku, agar dia tak curiga, dengan peringaiku.
“ kamu kenal akrab kok orangnya, hehe, ya udah ya. Ke kantin yuk !” riang sekali dia menjawab, yang jauh berbeda dengan perasaanku saat itu. Dia pun berlari kecil menuju kantin, meninggalkanku dengan perasaan sedih itu.
“ Ta ayo pulang!” tepuk pelan Susan dari belakangku, beriringan denagn senyum hangat Nano, mengakhiri pertemuan hari itu, dan ku hanya sanggup tersenyum ikhlas. Tak terasa butiran halus air jatuh di pipiku. Tangis perlahan dalam hati ini. Tapi beginilah kisahmu Ta, hiburku dalam hati.
***
Hari-hariku tetap berjalan baik, hanya hatiku yang tertinggal di masa lalu. Di saat keakrababnku bersama mereka tak dapat digantikan dengan apapun. Hubungan pertemanan ku dengan Nano pun tetap seperti biasanya, akan tetapi semenjak itu, hubungan ku dengan Susan lah yang menjadi sedikit merenggang. Aku tidak begitu tahu kenapa dia sedikit menjauh dari ku.
“Tita” suara Oni lantang dari belakangku menghentikan langkah panjangku. Kami pun beriringan berjalan menuju mantan kelas kami, ya mantan kelas. Kini aku telah duduk di bangku SMA kelas 2. Nano dan Susan mereka jelas berpisah kelas, Nano masuk IPA sedangkan Susan bahasa. “Ayo lihat pengumuman!” Ajak Indri. “Hah pengumuman? Pengumuman apa?” tanyaku bodoh. “ Ya ampun, pengumuman kita masuk kelas IPA apa, say.” Jelas Indri hangat.
“Aku IPA 2 Ta. Kamu IPA berapa?” sapa Nano ketika berpapasan di jalan, hanya aku balas dengan senyum. Dalam fikiranku hanya berharap dapat 1 kelas lagi dengan Nano. Tita Khoirul---IPA 1. Byar, anganku pecah seketika, ketika aku melihat itu. Langkahku sedikit goyah, Indri meninggalkan aku jauh di belakang ketika dia melangkah dengan anggun menghampiri teman-teman. Tapi senyumku terkembang kembali, ketika Nano menengok padaku. “Indri sama Tita bagaimana? Kalian di kelas apa?” Tanya riang Nano tapi diiringi senyum masam Susan, keadaan yang susah bagiku. Susan terlihat aneh padaku sejak saat itu, sangat misterius bagiku.
“ Kami sekelas No, Tita sama aku di kelas IPA 1. Sayang kita pisah ya.” Jawab Indri lancar, ketika dia melihatku hanyut dalam lamun. Langkah cepat Nano menghampiriku. “Tidak apa. Ternyata kita juga tidak bisa sekelas ya, hehehe.” Senyum indah Nano yang selalu kulihat itu mengembangkan senyumku kembali. “ Hmmm, walau begitu, kamu harus ingat ya dengan janji kita. Kita kan janji tetap menjadi teman baik, tetap saling bertukar ilmu. Ya seperti yang sering kita lakukan. Ok?” jelas Nano singkat. “Ya udah, gabung yang lain yuk, hehe!” begitulah Nano mampu menghiburku saatku terlihat sedih, ketika yang lain tak menyadari kesedihanku. Begitulah Nano yang memberiku semangat, tanpa harus tahu apa yang menjadi masalah bagiku. Aku pun menghampiri teman-temanku dengan langkah yang riang dan senyum terkembang, tapi tanpa aku sadari Susan tetap  dengan senyum masamnya menatap tajam dalam setiap langkahku.
***
 “Tint, kenapa aku perhatiin, akhir-akhir ini kamu aneh sih sikapnya?” Nano mulai menyelidik Susan di tengah kencan mereka sore itu. “Ah aneh gimana tint, hanya perasaan tinta aja mungkin.” Elak Susan setenang mungkin, karena Susan memang paling pintar dalam menutupi suatu keadaan. Nano berusaha sekuat mungkin untuk mengetahuinya, tak letih dia merayu Susan untuk berbagi kepadanya tentang perasaanya kali ini. Susan merupakan orang yang tidak mudah menceritakan apa yang dirasakannya.
“Kamu pikir aja sendiri! Kenapa aku bersikap seperti ini. Seharusnya kamu sadar kenapa aku bersikap seperti ini.” Puncak emosi Susan ketika itu memecahkan keheningan sore dan keindahan senja yang mengiringi kencan mereka. “Salah ku?” jawab Nano masih dalam kelembutan nada. “Masih tidak faham, ya udah untuk beberapa saat lebih baik kita jalan masing-masing sendiri aja, titik. Sore.” Tinggal Susan dalam kebingungan Nano yang mendalam.
“Salah ku, apa salahku. Sepertinyaa ku selelu menuruti apa kata-katanya. Aku  selalu memenuhi keinginannya, aku selalu berbagi cerita dengannya. Salahku? Apa salahku?” fikiran berkecamuk dalam benak Nano ketika itu membuatnya terpuruk dalam kebingungan akan sikap Susan beberapa saat ini.
[Tita besok ku tunggu jam 8 pagi di kedai ichiraki.] pesan singkat yang ku dapat dari Nano sore itu. Tak seling lama HPku pun kembali berdering [KAMU JANGAN GANGGU-GANGU NANO LAGI DEH, JADI CEWEK KOK GITU! POKOKNYA MULAI SEKARANG JAUHIN NANO], perlahanku lirik nama sang pengirim. Masih dibuat tak percaya aku dengan semua ini. Apa? Apa? Apa yang sedang terjadi? Nano minta ketemuan, sedangkan Susan melarangku untuk beretemu, bahkan bukan bertemu, lebih dari itu. Apa yang harus kulakukan, datang? Atau tidak? Aku mulai bingung dengan mereka berdua. Dan aku tidak tahu apa yang salah dariku, apa yang sedang terjadi antara mereka. Ku putuskan untuk melakukan sesuai apa keyakinanku.
Pagi itu, aku beranikan langkah untuk menghadiri janjiku dengan Nano, walau disisi lain aku goyah dengan kata-kata Susan. Terpaku aku di depan pintu kayu kedai Ichiraki pagi itu, langkahku berat untuk memasuki kedai favoritku dan Nano pagi itu. Bagaimana ini? apa yang harus ku lakukan? Sejak kemarin sore, hanya kata-kata itu yang sanggup hinggap di fikiranku tentang mereka berdua. Hampir 5 menit aku terpaku di sana. Hanya mampu menghela nafas “Bismillah, insaAllah semua akan baik-baik saja.” Aku mulai melangkah menuju kursi usang yang menjadi tempatku selama ini, dan satu sosok duduk terlemas di dekat kursi yang lainnya. Aku melangkah gentar, dan duduk perlahan ragu-ragu.
“Pagi.” Sapaku pelan. “Oh ya, Pagi juga” Sapa hangat dan semangat dari Nano. “ Hemb, ada yang harus aku ceritakan ke kamu, mungkin kamu juga merasakannya. Dan semoga kamu tak terganggu dengan ini. Ini tentang aku dan Susan.” Belum cukup Nano bercerita, ku potong dengan jawaban bodohku. “Maaf. Aku ngerti kok, kemarin Susan juga sudah bilang ke aku. Terima kasih untuk semuanya.” Ku ayunkan langkahku bak tak menapak tanah, ku dengar panggilan Nano di kejauhan. Aku mengacuhkannya. Tak terasa linangan air mata kembali mengalir di pipiku. Aku tak henti mengayunkan langkah kakiku, hingga seruan Nano tak terdengar lagi di telingaku.
***
Sejak hari itu, aku tepati janjiku dengan Susan, aku tak ingin mengganggu hubungan mereka. Bagaimana pun mereka adalah teman baikku, tak mungkin aku menyakiti keduanya. Walau kebingungan masih menghantuiku, keraguan akan tindakanku seolah selalu mengancam setiap derai langkah dalam hari-hariku. Tapi keyakinkanku dalam hati, bahwa semua akan jauh lebih baik setelah ini mungkin benar.
“Tita, akhir-akhir ini kuperhatikan kamu sering murung? Kenapa manis?” Tanya halus Indri yang senantiasa ada di setiapku berduka. “ Tidak ada apa-apa In, hanya perasaanmu saja mungkin.” Ku coba untuk tersenyum agar Indri tak khawatir padaku. “MasyaAllah, Tita. Kamu itu tidak bisa nyembunyiin semuanya dari aku. Aku juga tahu kok apa yang menyebabkan kamu seperti ini. Ada sangkut pautnya dengan Susan dan Nano kan, ayo jujur?” rayu Indri, yang spontan saat itu membuatku kaget. “haha bener kan. Kalo kamu merasa keganggu dengan ini semua lebih baik kamu minta kejelasan lagi ke Nano dan Susan juga. Aku yakin ini semua salah faham, aku tahu apa yang kamu rasa, dan aku juga tahu apa yang sedah terjadi pada Susan da Nano saat ini.” Tutur ramah Indri, yang membuatku bergumam tiada henti. “tak usah memasang tampang seperti itu Tita. Bingung ya? Hah, waktu kamu cerita kamu ketemuan dengan Nano minggu dulu itu, aku dengan Susan juga ketemuan. Ya beda waktu memang, dan saat itu Susan menceritakan semuanya.” Kini aku mulai faham apa yang dijelaskan Indri padaku, ya begitulah Indri selalu pandai bermain kata, selau bijak memilih kalimat.
“Terus, apa yang kamu tahu lagi In?” Tanyaku pelan dengan sedikit bingung memahaminya. “Hehe, untuk itu, Tanya langsung orangnya aja ya manis.” Senyum Indri kini sedikit membuatku tenang. Tapi bagaimana aku harus meminta kejelasan ke Susan? Ke Nano sudah tak mungkin. Pikirku sebelum aku mulai mencoba. Aku terpuruk dalam kepesimisan, aku terpuruk dalam lubang yang penuh duri, yang bila aku salah sedikit saja dalam melangkah maka aku akan merasakan sakit bertubi-tubi.
“Susan! Aku butuh kejelasan darimu! Apa-apaan dengan sikapmu ini? Kayak anak kecil saja.” Suara Nano sedikit keras, ketika tak sengeja aku melewati mereka di lorong sekolah ketika pulang. “Kejelasan? Kejelasan? Kurang jelas apa? Aku sudah bilang jangan kontak dengan Tita lagi! Apa itu kurang jelas?” suara Susan lebih lantang dari suara Nano. Tidak pernah aku mendengar Susan sekeras itu sebelumnya.
Hampir setiap hari tanpa sengaja aku mendengar mereka bertengkar, dan itu karena aku, sejak hari itu mereka lebih kerap bertengkar. Apa salahku Ya Allah. Begitulah kata yang saat ini gemar menggelayut santai di otakku. Aku berusaha menghindar sejauh mungkin yang dapat aku lakukan. Sekuat hati aku menghindar bila Nano sedikit mengambil langkah mendekatiku. Aku semampu mungkin tidak membalas pesan-pesannya, walau tiap malam Hp ku berdering karenanya. Apakah keputusanku selama ini salah. Harus bagaimana? Kemana aku harus mencari jawabannya? Apakah perlu aku pergi jauh, jauh, jauh dari mereka berdua. Jika itu yang terbaik maka akan aku lakukan. Tapi, ini semua salah faham, begitu yang aku tangkap dari pembicaraanku tadi pagi dengan Indri.
***
Hampir lebih dari satu bulan sejak kejadian itu. Kini aku dapat melangkah tenang, pagi yang cerah kala itu mebuatku ingin berdendang bahagia. Untuk sesaat perasaan itu lenyap di telan dinginnya pagi, indahnya awan yang menggantung tinggi di langit. Langkahku ringan dan bahagia.
“Tita!” suara itu, suara yang lama tak menyapa telingaku. Perlahan aku menengok ke belakang. “Sini, aku mau cerita.” Nano menarik tasku paksa, dan mendudukanku di atas bangku keras yang dingin sedingin perasaan yang kurasakan pagi itu, tapi terasa nyaman bak alunan suara yang indah memanggilku di pagi hari kala itu.
“Nano! Apa-apaan ini, nanti….” Elakku. “Haha, dibuat nyantai aja. Kayaknya udah lama banget ya kita tidak ngobrol. Oh ya aku mau minta maaf atas nama Susan, atas kejadian sebulan yang lalu. benaran minta maaf ya. Saat  itu memang sedang terjadi kerenggangan komunikasi antara kami.” “Apa? Minta maaf? Atas nama Susan?” Putusku dalam kata-katanya, bukan dengan nada menolak, tapi aku ekspresikan kata-kataku dengan nada malu.
“Ya begitulah minta maaf atas nama susan.” Nano mulai terlihat santai, dan tampak damai dalam wajahnya saat itu. “Seharusnya kamu bilang padaku dari dulu.” Kini dia menatapku lekat, dengan senyuman manisnya.”He? Bilang? Apa yang harus aku bicarakan ke kamu?.” Jawabku yang bingung. Dia kembali menatapku dan melempar senyum ramahnya, “Iya seharusnya kamu ceritakan bagaimana perasaanmu, setelah aku mendengar penjelasan dari Indri dan Susan tentang semuanya aku jadi faham.” “Hah? Perasaanku? Memang mereka memberi tahu apa saja tentang perasaanku?”
“haha. Semuanya Ta, semuanya. Mulai kapan kamu suka aku, seberapa kamu suka aku. Kenapa kamu tidak bilang langsung ke aku?, dan kamu tahu kenapa Susan uring-uringan kemarin. Itu ya karena ini semua. Karena kamu suka aku, karena kita masih berteman akrab, tapi syukurlah, setelah mendapat nasihat dariku dan juga Indri selain itu pesan singkat mu, dia pun mau mengerti. Sekali laggi maukan kamu memaafkan kami?”
“Aku tidak pernah meninggalkan teman-temanku, apalagi sahabatku. Seberapa benci mereka padaku, maka perasaanku ke mereka tetaplah sama Nan. Jadi, dariku tidak ada yang harus di maafkan, karena semuanya InsyaAllah telah termaafkan. Bagaimana dengan Susan sendiri?” jawabku denga perasaan yang luar biasa campur aduk, antara bahagia, malu, sedih dan sedikit terbata-bata aku dalam berucap. “hmm, Susan. Tenang dia sudah faham semuanya. Ok. Tarik kata-katamu lagi ya di sms mu ke Susan. Kita kan sudah janji, akan jadi sahabat selamanya, walau jodoh, ruang, waktu memisahkan kita. Selamanya kamu akan menjadi sahabatku selamanya.” Senyum Nano dan lambaian tangannya di pagi itu menghapus seluruh lara, menghangatkan pagi itu, mencairkan kebekuan hatiku, dan mengembalikan semangatku.
Aku pun mencubo meraih Handphone ku dan aku baca kembali pesan yang aku kirim beberapa hari yang lalu ke Susan, ketika aku tanpa sengaja mengetahui mereka semakin bermusuhan. [Setelah ku mendengar semua penjelasn dari Indri, aku tau kenapa kamu bersikap seperti ini, ku mohon maaf karena telah membuatmu sakit dan membuat mu cemburu akan hal ini. tapi jujur aku dan Nano hanya sahabat biasa. Lagi pula Nano lebih memilihmu dan aku yakin kamu terbaik untuknya, walau ku suka, tapi Nano tetap memilihmu, hanya kamu. Hemb, daripada semua ini seperti ini, maka lebih baik ku pergi dari hidup kalian, terimakasih karena telah mau mengenalku dan berbagi cerita padaku, dan lupakan itu, anggap kita tak pernah kenal. Aku akn coba semampu ku. Terimakasih]. Tak aku sangka linangan air membasahi pipiku seiring aku membaca kembali pesanku, aku pun mulai menekan tombol-tombol dalam Handphoneku, dan ku akhiri semua dengan kata dalete.
Dalete untuk kecemburuan yang tak jelas, dan save untuk persahabatan yang hangat dan selamanya. Ku arungi lorong sekolah pagi itu, dengan kehangatan yang baru, dengan kedamaian yang indah dalam langkahku dan hidupku untuk mencapai impianku. “Terimakasih untuk semuanya, ya Susan.” Gadis yang lemah lembut sejak tadi sudah berdiri di sampingku, memeluk hangat pundakku. Kami pun beriringan melangkah, meraih masa depan.


by: rizu.chan/2008

Saturday, 30 June 2012

hari ini


Hari ini
Gemerlap bintang masih menyelimuti malam
Sang surya pun belum berkenan untuk menampakkan dirinya
Tapi hari ini
Ku pacu tinggi kuda besiku
Tak peduli dingin
Tak peduli kantuk
Hari ini
Ketika sang bintang kembali posisinya
Aku tetap kuda besi melaju santai
Gontai tangan menggenggam
Membiru bibir bergetar
Hari ini
Perjalanan singkat bintang dan dingin
Tak tampak tapi menusuk setiap pori kulitku

Saturday, 23 June 2012

kedekatan itu semakin dekat


Hari ini sungguh menyenangkan, kedekatan yang semakin dekat. Aku yang selalu diam jika hanya berdua dengan isti, hari ini berbeda. Aku yang selalu takut kalau bersama dia hari ini berbeda. Menyenangkan sungguh menyenangkan. Kedekatan itu semakin dekat. Walau hanya basa-basi obrolan kami, tapi sudah cukup untuk mencairkan suasana. Siang itu kedekatan semakin dekat. Membicarakan sekolah dulu semasa SMA, menceritakan awal kami saling kenal, tertawa dan malu ketika menceritakan tentang perasaan. Siang itu kedekatan semakin dekat. Sungguh-sungguh dekat, dan amat menyenangkan. Mungkin tak akan bisa terulang siang itu bersamanya.
Ashar berakhir, kedekatan yang mulai mendekat itu kini harus berpisah, terpisahkan oleh waktu dan jarak. Kedekatan yang terajut beberapa menit terakhir itu, menyenangkan, tapi mungkin cukup disayangkan.
Dan lagi-lagi ada kedekatan yang lain, kedekatan yang lebih membuatku grogi, membuatku bertingkahlaku aneh, kedekatan dengan seseorang yang kukagumi. Bukan kedekatan seperti bersama sahabatku tadi. Kali ini kedekatan dalam diam kata-kata tapi ramai deru kendaraan. Kedekatan yang unik, tapi cukup membuatku aneh, membuatku bercakap dalam anganku sendiri, ya sendiri.beriringan bersama untuk beberapa menit dijalanan yang ramai, dekat, sungguh begitu dekat. Bahkan kami tak pernah sedekat itu sebelumnya. Menyenangkan, aneh. Dekat dalam deru kendaraan masing-masing, tapi cukup menyenangkan. Ketika lampu merah pertama, seolah dia mempersilahkanku untuk duluan, pelan melaju disampingku, mundur kebelakang perlahan. Tapi kedekatan itu lagi-lagi harus berakhir, di lampu merah berikutnya. Menyenangkan bukan, berdekatan dengan orang yang kau kagumi, pelan dalam deru kendaraan masing-masing, di jalanan yang ramai padahal. Tapi itu semua menyenangkan, walau aneh.
Tak urung berakhir kedekatanku sore itu. Aku selalu, selalu ingin melihat kereta api yang melintas menerabas tengah kota. Tak seperti kereta lain yang menerobos pinggir-pinggir kota, tengah desa. Dan sore itu, kedekatan itu datang, sebelum belokan terakhirku, ya jelas dekat di depanku, hanya beberapa meter kereta itu, kereta yang ingin kulihat di sore hari, sejak aku rutin melewati jalurnya pagi dan sore. Setiap aku pulang-pergi ke kampusku.
Sungguh indah semua kedekatan itu, kedekatan dalam keakraban, kedekatan dalam kekaguman, dan kedekatan dalam keinginan. Semua tampak indah, terasa nyaman dan menyenangkan.
By Rizu-chan, 22 juni 2012.

Monday, 18 June 2012

sedetik itu cukup berkesan


" Tuh Ta dicariin" Rhean menghampiriku dengan polosnya. aku tahu siapa yang dimaksud Rhean, dari tadi pun aku tak lepas menatapnya. kini tubuhnya tak segemuk dulu, lebih proposional, itu kalau aku tak salah mengeja kata tersebut.
" Ah nggak mungkin, lagi pula siapa peduli." jawaban itu lah yang ternyata keluar dari bibirku, padahal mungkin hatiku berkata lain.
" Tuh teman, Rista sekarang bilangnya gitu, dulu aja, hemb." Rhean mengejekku dengan meminta persetujuan teman-temanku yang memang kebetulan hari itu kami sedang melakukan kegiatan bersama.
“ iya tuh, dulu aja, kalau lihat dari jauh sekalipun udah nggak bisa diem nih orang.” Ahya membalas sponta. Hemb saat itu ku iya kan sajalah perkataan mereka, tapi tepat lah bagaimanapun aku menolak untuk mengingatnya kembali.

“ Ah kalian nih, dia kan sudah ada yang punya. Lagi pula aku sudah tutup tirai dengannya. Bukan begitu Ru?” aku berpaling menatap Ruru yang hanya sanggup tersenyum dan mengangguk. Itu lah kebiasaan Ruru, tak ada jawaban hanya senyuman. Ya aku anggap itu mengiyakan atas pertanyaanku.

“ kamu bisanya senyum aja Ru, iya yang mana nih?” “ ya itu aku bingung, kamu banyak sih, hehe” jawab Ruru ringan. Aku banyak sih. Emang banyak apanya, lagi pula aku kan hanya mengagumi mereka-mereka, salah besar kah bila aku banyak cerita tentang cowok, bukannya wajar ya untuk usiaku saat ini yang tengah menginjak dewasa awal. Hem dewasa awal? Sepertinya belum pantas aku menginjak kata dewasa, hehe.

“ Masih laper nih, ada cemilan nggak?” ahya mengeluh di sampingku. Aku pun ingat dan ku keluarkan cemilanku yang masih banyak semalam. Kami pun menikmatinya, bahkan adik kelasku ikut nimbrung bersama kami, bicara hangat bak kamil sudah kenal lama, dengan adik kelasku itu. Ahya yang tampak bahagia dengan adanya adik kelasku itu, yang secara otomatis adik kelas Ahya juga. Hanya saja aku dulu yang lebih kenal adik tingkat itu.

Rhean dan Ruru yang awalnya duduk di atas berdekatan denganku, duduk ke bawah menghampiri Emi yang dari tadi duduk terdiam di bawah. Dan kini dia pun telah hilang dari pandanganku entah kemana, mungkin hilang saat aku sedang asyik ngobrol ini itu bersama Ahya dan adik tingkatku itu.

Asyik-asyiknya ngobrol, suara dari sampingku yang tadi tempat Ruru dan Rhean duduk menyapa hangat. Suara yang sudah lama tak bertegur sapa denganku, suara seseorang yang sejak di acara tadi selalu aku perhatikan, suara yang tadi kami perbincangkan. Dia menyapaku, dan aku spontan menatap wajahnya. Tak lama hanya beberapa detik, tapi itu yang membuatku senang. Lama dia tak pernah menyapa, bahkan kami jarang untuk saling melempar senyum, ya sangat jarang. Tapi detik itu aku melihat wajahnya dekat, melihat senyumnya yang lucu, melihat tatapannya yang sama seperti awal kami saling berkenalan dulu. Ya seditik itu membuatku sungguh bahagia.

“ Hei. Rista, kenapa sendirian? Teman-temanmu mana?” jelas pertanyaan yang tak masuk akal sebenarnya. Soalnya aku jelas-jelas duduk bersama teman-temanku. “ Ya Allah Mas, lah ini siapa? Temen-temenku semua kan.” Ku jawab sekenaku dan aku usahakan senyantaiku, semoga dia mendengarnya seperti itu.

Tapi sayang hanya sedetik itu saja, dan kami pun sibuk lagi dengan kegiatan kami sendiri. Teman dia yang duduk disampingnya saat itu, mungkin yang menjadi penghalang pembicaraan kami saat itu. Mungkin bisa lebih dari sedetik, mungkin. Karena sempat ku lirik dia, dan kulihat gelagatnya yang masih ingin bercakap denganku, atau hanya aku saja yang ke-gr-an. Tapi itu terlihat jelas, mungkin teman-temanku juga akan tahu jika mereka memperhatikan. Tapi tak mungkin, itu hanya basa-basi bagi mereka, dan beda menurutku.

Dulu memang aku pernah sempat suka dengan dia, Kak Bana. Sepertinya perasaan itu juga pernah singgah di hatinya. Karena sikapnya kepadaku lah yang membuatku suka dengannya, perhatian yang diberikannya duluan lah yang menarik perhatianku berikutnya. Tapi itu dulu, kini semua berbeda. Dia sudah punya seseorang yang sudah cukup untuk melengkapi hidupnya. Dia tak berubah sebenarnya, hanya saja kami pun semakin renggang hubungan pertemanannya. Dia yang dulu bilang telah menganggapku adik sendiri, kini bahkan jauh dari sikap seorang kakak kepada adiknya. Tapi ya sudahlah, aku hanya masa lalunya, beruntung dia tak melupakanku.

Di luar tempat aku bercengkrama tadi bersama temanku. Aku sampaikan rasa bahagiaku pada Rhean dan Ruru. Mereka menanggapi dengan hangat, tapi aku justru yang menjadi mengelak. “ mungkin bukan sekarang Ta, tapi siapa tahu besok justru kamu yang jadi bersamanya.” Ejek Rhean yang tahu jawaban apa yang aku inginkan.
Hah memang bukan sekarang, siapa tahu nanti. Karena jodoh adalah rahasia Illahi, dan aku akan tetap bersabar dan berusaha untuk itu semua.

by:Rizu-chan, 17 juni 2012
at Ft's day