“Vin, kian hari kok aku malah
nggak yakin ya dengan hasil ta’aruf kemarin.” Tampak jelas keraguan di wajah
imut Lala saat itu.
“ Nggak yakin gimana sih kak? Kan udah saling sepakat, dan menentukan
hari.” Vindi yang diajak cerita oleh kakaknya makin tak mengerti.
Beberapa waktu yang lalu Lala positif di kitbah oleh seorang lelaki
baik-baik dan insyaAllah dari keluarga baik-baik pula. Vindi sang adik lah yang
mengenalkan mereka, dan awal perkenalan mereka, mereka sudah saling setuju
untuk berkenalan lebih lanjut. Tanpa berpikir lama Rizwan pun langsung datang
bersama keluarganya untuk menyatakan kitbah terhadap Laila Firdaus itu.
Jelas hari pengkitbahan itu Laila bahagia karena dipikirnya usianya
benar-benar sudah matang untuk menjalani bahterah rumah tangga yang agung. Tidak
ada kata protes sedikit pun darinya ketika kata-kata pengkitbahan hari itu
diucapkan oleh keluarga Rizwan.
Setelah hari itu pun tetap Laila tak merasa ragu sedikit pun. Dia tetap
meyakini bahwa Rizwan adalah pemilik tulang rusuk yang ada padanya. Vindi
terlebih lagi, merasa amat bahagia atas kebahagiaan kakaknya itu. Tanpa berat
hati dia antarkan kemana pun kakaknya meminta untuk mencari perlengkapan
pernikahan yang telah disepakati.
Dua keluarga itu pun mulai akrab, sempat beberapa kali orang tua Rizwan
datang berkunjung untuk memperat tali silaturahmi antar keluarga. Dan begitu
juga dengan kedua orang tua Lala. Keakraban seakan telah tumbuh lama, seolah
dua keluarga itu memang ditakdirkan untuk saling berbesanan dan mempererat
ukuwah silaturahminya.
Akan tetapi sudah dua hari ini Lala tampak murung, tampak ragu dengan pengkitbahan
3 minggu yang lalu. Kini Lala mulai bertanya-tanya kenapa Rizwan seolah
terburu-buru dengan pernikahan ini?
tanda Tanya besar dalam benak Lala dalam kurun dua hari ini. Pemikiran
bodoh itu pun selalu membayanginya setiap malam, setiap dia bermunajat kepada
Sang Kholiq, dan bayangan pertanyaan bodoh itu pun telah cukup mengganggu kebahagian
dan hidupnya yang genap sempurna itu.
“ Mbak aku jadi penasaran deh, kenapa kamu kemarin tiba-tiba bilang
gitu? Apalagi pertanyaanku kemarin belum dijawabkan.” Suara halus Vindi
melenyapkan lamunan Lala sore itu, suara embikan kambing pun melantuni suara
halus Vindi.
“Gimana Vin? Nggak ada kok, mungkin hanya pikirang bodohku saja.” Elak Lala
yang enggan membuat satu-satunya orang yang mengetahui perasaannya saat itu
tentang pernikannya.
“Jangan bohong Mbak. Dua hari ini aku perhatiin kamu murung terus, terus
kalau Umi ma Abi ngajak ngobrol tentang pernikahanmu, kamu selalu nolak.” Selidik
Vindi yang memang gemar mengamati setiap gerak-gerik keluarganya. “lagi pula,
Mbakku tuh nggak kayak gini, seberat apapun masalah hidup, nggak pernah tuh
sampe murung gini.” Lanjut Vindi mendoktrin kakaknya itu.
Tak ada kesempatan lagi Lala mengelak adiknya yang super teliti itu.
Lala pun mulai menceritakan kegelisahannya.
“Semua tuh berawal dari mimpiku sekitar empat hari lalu, awalnya sih aku
cuek, tapi tiga hari berturut-turut aku mimpi hal yang sama Vin.” Jelas Lala
dengan bingungnya.
“Mimpi? Masak sama mimpi aja sampai bikin kamu bilang gitu?” selidik
makin dalam.
“Soalnya mimpinya tentang Mas Rizwan Vin. Di mimpiku mas Rizwan pamitan
sama aku, dan dia tuh pake baju putih-putih gitu. Jadi aku ragu. Apalagi mas
Rizwan mutusin buat mengkitbahku dan menentukan tanggal pernikahan seolah
terburu-buru kan?” Lala menatap lekat wajah kotak adiknya itu yang terbalut
rapih oleh kerudung besarnya. Vindi pun mulai Nampak berfikir serius.
“Awalnya aku juga ngerasa aneh Mbak, kenapa Mas Rizwan kesannya
buru-buru. Tapi toh akhirnya Mas Rizwan ngikutin keputusan bersama kan?” suara Vindi
pun mulai tampak ragu.
“Entahah Vin, tapi aku mulai ragu dengan keputusan pernikan ini”
“Bismillah aja Mbak, kalo Mas Rizwan memang jodoh kamu, InsyaAllah
apapun yang terjadi pasti akan tetap bersama. Tapi kalau bukan, ya mau apalagi
itu lah keputusan Allah yang terbaik untukmu.” Vindi mulai mendeklarasi. “Ingat
Mbak kita manusia yang hanya wajib untuk berusaha, apalagi jodoh. Dan semua
keputusan mutlak milik Allah.” Vindi mengakhiri dengan mendekap erat kakaknya
itu yang kebetulan tubuh Vindi lebih besar dari kakaknya itu.
(rumah Rizwan)
“Rizwan sebenarnya kamu kenapa tho le, kok kemarin kesannya buru-buru
mutusinnya?” tanya ibunda Rizwan dengan halus di emperan rumah mereka dengan
Rizwan sibuk mencabuti rumput di halaman mereka yang cukup subur tumbuh.
“Boten nopo kok Bu.” Rizwan tanpa menjawab tanpa menoleh kepada ibunya
yang sedang asyik membaca buku di emper.
“Ndak usah bohong tho le, kamu ki udah tak asuh 26 tahun lebih. Ibu ki
ngerti banget gimana kalo kamu ki bohong. Mrene sik, jawab yang serius.” Rizwan
pun mengiyakan dan menghampiri ibunya dan duduk manis di samping ibunya.
“Ngapurane nggih Bu, sebelumnya Rizwan ndak pernah cerita. Tapi ada hal
yang cukup ngawatirke bu.” Rizwan pun melanjutkan ceritanya, tanpa berani
menatap wajah ibunya secara langsung, yang sering dia lakukan kalau bercerita
dengan kedua orang tuanya. Rizwan tak sanggup bila harus melihat air mata
menitik di wahaj tua ibu nya sore itu.
Malam yang cukup dingin menyelimuti rumah Lala, yang membuat para
penghuninya yaitu Lala, Vindi, dan kedua orang tuanya berkumpul rapat di ruang
tengah. Dengan menyaksikan sederetan acara TV yang kian tidak ada nilai
pendidikan di dalamnya. Tapi tidak ada hiburan lain yang mampu menyatukan
mereka sehangat itu.
Lala melirik ke arah Vindi, Vindi pun mengerti dengan lirikan itu dan
mulai mengambil nafas juga tampak menyusun kata-kata yang pantas untuk
memberitahukan kebimbangan kakaknya itu.
“Ummi-Abi. Ummi sama Abi apakah yakin benar dengan pernikahan Mbak Lala
sama Mas rizwan.” Kedua orang tuanya yang ternyata asyik dengan acara salah
satu stasiun itu itu pun menatap Vindi dengan serius.
“lah kok malah kamu yang jadi ragu tho Ndi?” Ayah mereka menimpali,
karena memang ibu mereka lebih banyak diam.
“Lala yang ragu kok Pak Bu. Bukan Vindi, Cuma Lala bingung yang harus
nyampain ke Bapak sama Ibu.” Lala pun mulai berani untuk ikut mengambil bagian
dalam bercerita.
“Lah ragu piye tho nduk?” kali ini Ibu yang menimpali. Dan ruang tengah
yang awalnya dingin kini mulai terasa panas. Pembicaraan pun mulai menjadi
serius.
“Kulo nggih boten ngertos Bu. Dulu ya boten nopo, baik-baik saja. Tapi
beberapa hari ini, Lala niku ngimpiin Mas Rizwan terus Bu, Pak.” Mata Lala pun
mulai tampak berkaca-kaca, Vindi memegangi tangan Lala sebagai upaya memberikan
kekuatan pada kakaknya itu.
“Lah malah bagus no, ngimpiin berarti jodoh. Wis toh, Bapak sama Ibu i
dah srek ma keluarga mereka. Bapak lihat orang tua Rizwan yo wis nompo apik
keluarga kita.” Tetap Bapak berusaha bicara dengan nada pelan, sedang Lala
mulai tampak ketakutan. Karena Lala dan Vindi mengenal Ayahnya sebagai orang
yang keras.
“iya nduk, ibu juga setuju sama bapak. InsyaAllah nggak ada apa-apa
nduk. Wis mending kamu banyak sholat malam. Biar dikasih ketenangan sama Gusti
Allah.” Ibu mulai tampak menenangkan Lala, yang menyadari ada seraut ketakutan
dan kebingungan yang luar biasa di wajah mungil Lala.
“Bi, Mi. kami tidur duluan ya.” Pamit Vindi dengan mengajak Lala ke
kamar, yang kebetulan kamar mereka besar yang muat untuk dua tempat tidur. Padahal
malam itu jam baru menunjukan pukul 8. Sebenarnya belum ada kantuk di wajah
mereka, tapi Vindi hanya mengajak Lala untuk menenangkan diri di dalam kamar
saja.
Vindi berusaha sebaik mungkin untuk mengembalikan semangat kakaknya itu.
Vindi berusaha meyakinkan kembali bahwa Rizwan adalah jodoh yang terbaik
untuknya.
Kini malam semakin larut, Vindi telah lerap dalam tidurnya, dan suara TV
di ruang tengah yang berada di samping kamar Lala pun sudah senyam. Karena malam
telah menuju jam 1 petang. Lala melangkahkan kakinya keluar untuk membasahi
wajahnya dengan air mudhu. Untuk kesekian kalinya Lala bercerita tentang
kegelisahannya ini kepada Sang Kholiq, yang diyakininya hanya Allah Ta’ala yang
mampu memberikan jawaban yang baik untuknya. Dengan inilah Lala mampu
menenangkan hati dan fikirannya, hanya sekedar untuk menghantarkan tubuhnya
beristirahat. Berbeda dengan malam-malam yang lalu, sejak kegundahan itu
datang. Tak pernah Lala merasa setenang itu, merasa bahwa semua akan baik-baik
saja, walau Lala masih tidak yakin akan pernikahan ini. Tapi malam itu Lala
merasakan ketenangan yang indah.
Wajah Lala mulai tampak bersinar kembali, tingkahnya yang asal-asalan
pun mulai mengiringi harinya. Vindi yang melihat itu pun turut merasakan
ketenangan yang dirasakan kakaknya sejak malam itu.
Kring….Kring… “Assalamu’alykum. Ada apa Bu?” Sapa Lala tenang.
“Wa’alykummussalam warahmatullah. Nak Lala sama keluarga bisa main ke
rumah kami segera atau tidak? Ada hal yang penting untuk diberitahukan.” Suara parau
Ibu Rizwan terdengar dari seberang telefon. “Iya Bu, Assalamu’alaykum.” Setelah
mendengar salam dari seberang telefon, Lala langsung mengajak keluarganya
menuju rumah Rizwan.
“Vin, perasaan ku nggak enak lagi deh.” Lala yang duduk di samping Vindi
pun mulai berlinangan air mata.
“InsyaAllah nggak ada apa-apa mbak.” Vindi tetap berusaha menengkan
kakaknya itu, yang memang mudah panik.
Mereka pun mulai memasuki gang rumah Rizwan. Dari kejauhahan dalam mobil
mereka tampak keramaian di depan rumah yang akan mereka tuju. Dan ada sebuah
titik yang membuat Lala dan Vindi menyipitkan mata.
Mereka pun semakin dekat, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun..”
terdengar suara ibu dari jok depan, yang sudah tampak lebih dulu titik yang
membuat mata gadis itu menyipit.
“Inna lillaahi wa innaa ilaihi
raaji'uun..”
kini Vindi yang ikut menyeruakan lafaz itu. Semakin jelas di depan mereka,
sebuah bendera merah terpasang di depan rumah Rizwan.
“Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun. Siapa
yang meninggal ya?” kini suara Lala yang menyahut, tetapi terdengar lebih tegar
dari suara Ibu dan adiknya. Mereka pun segara turun dan menghampiri keluarga
mereka.
Ayahnya ada, ibunya ada, jangan-jangan. Kini mulai tampak memucat wajah
imut Lala. Mereka pun menghampiri peti yang sudah ada mayat yang terbujur kaku di
dalamnya. Sebelum melihat jenazah tersebut dan sedikit menghilangkan prasangka
buruk dalam hati Lala, mereka pun mengerjakan sholat jenazah terlebih dahulu.
“Maaf ya nduk, kayaknya memang harus berhenti
hari ini.” Pegangan hangat menyentuh pundak Lala yang sedang mematung di
samping peti jenazah dan dengan lekat memandangi seorang lelaki yang terbujur
kaku di tempatnya dengan senyuman yang indah. Air mata pun mulai terlihat
mengalir di pipi manisnya itu, yang sudah cukup untuk membasahi kerudungnya
yang menjulur hitam itu. Dan memang ada sebuah perasaan yang menyuruhnya untuk
mengenakan kerudung hitam itu.
“Iya Bu.” Sambil mengusap air mata dan ikut
duduk bersama keluarga besar kedua keluarga itu.
Sekembalinya para pelayat, kedua keluarga pun
mulai berbagi cerita.
“Kami sebelumnya minta maaf, kami juga tidak
tahu kenapa semua ini bisa terjadi.” Suara ibu Rizwan yang memulai semua
pembicaraan siang itu.
“Ndak apa kok Bu, ini udah takdir Gusti Allah,
ndak ada yang bisa kita perbuat juga tho bu.” Ayah Lala lah yang menimpali.
Lala mulai tampak bisa tersenyum, walau senyumnya terasa aneh, ini sudah cukup
melegakan untuk kedua keluarga.
“Kami yang salah Pak, Bu, nak Lala. Seharusnya kami
tahu benar alasan Rizwan menikah yang sebelumnya juga membuat kami kaget.” Ibu
Rizwan juga berusaha tegar, sama tegarnya dengan Lala.
“Alasan? Memang ada yang salah dengan Mas
Rizwan sebelumnya Bu?” Selidik Vindi seperti biasa apabila ada sesuatu yang tak
semestinya.
“Ndak ada yang salah sebener e Nak Vindi. Tapi
ibu juga baru tahu sekitar 1 mingguan yang lalu, kalo Rizwan iku punya sakit
yang katanya cukup bahaya. Tapi yo kita ndak nyangka menawo umur e Rizwan mung
semene.” Suasana menghening. Hanya Ibu Rizwan yang tahu kalau Rizwan punya
penyakit yang mematikan. Sebenarnya dari kematian Rizwan pun dapat diketahui
bahwa dia terkena serangan jantung. Rizwan meninggal di kamarnya setelah
menjalankan sholat subuh, dan merasa sedikit pusing jadi dia bepamitan untuk
pergi tidur.
Setelah pihak laki-laki selesai bercerita
tentang sakit Rizwan. Kini Lala pun ikut memberanikan diri menceritakan tentang
mimpinya yang menyangkut Rizwan. Dia menceritakan secara mendalam semuanya. Kedua
keluarga pun memahami semuanya, ini adalah takdir Allah, tak ada satupun yang
mampu mengelaknya. Sebaik apa rencana manusia Allah pemberi keputusan terbaik.
“Benar apa yang menjadi keraguanku selama ini
Vin, sekarang jelas makna mas Rizwan pamitan dengan pakaian yang serba putih
bersih beberapa hari lalu.”
“Iya Mbak, sekarang aku juga paham.” Pembicaraan
yang masih kelabu di sore yang cerah dengan kicauan burung di sekeliling rumah
terlontar diantara Vindi dan Lala.
“Seandainya ya Vin, aku nggak nerima. Atau pas
ta’aruf kemarin aku nggak buru-buru ngambil keputusan. Pasti nggak akan sehampa
ini rasanya.”
“Husss, nggak boleh berandai-andai gitu Mbak. Kalo
aku yakin malah Allah tuh punya rencana yang besar ke kamu.” Sergah Vindi
Cepat.
“Tapi kamu pasti nggak tahu gimana perasaanku.
Rasanya seperti kehilangan permata ditangan yang sudah siap jadi cincin yang
indah.”
“Mbaaaakk,, coba bayangin kalo Allah memanggil
Mas Rizwan ketika sudah nikah dengan kamu, apa nggak lebih sakit. Uwis tho,
Allah tahu yang terbaik. Allah sedang menguji seberapa besar keikhlasmu
menerima keputusan Allah. Allah itu maha tahu mbak tentang nasib umatnya.” Nasihat
Vindi sore itu, menyadarkan Lala tentang suatu kenyataan. Rizwan belumlah
menjadi miliknya, Rizwan masih milik Allah. Tidak ada hak bagi Lala untuk
memprotes apa yang jadi keputusan Allah. Seiring terdiamnya suara kicauan
burung, terkembanglah senyuman Lala, yang selalu dirindukan oleh adiknya itu.
created by : risu.chan