Thursday, 31 May 2012

indigo


bismillahirah.... assalamu'alaykum

indigo's color
kali ini yuk kita bahas sedikit sesuatu yang sedikit mengenai.. INDIGO, yang sekarang lagi ngtren dikalangan masyarakat yang katanya punya kemampuan yang luar biasa (memang nggak salah)..
yuk yuk disimak
Pasti udah pada sering donk denger tentang hal ini, pasti udah tidak asing lagi dengan kata ini.
Menurut masyarakat awam (termasuk saya), indogo itu identik dengan hal-hal mistik.
Tetapi ternyataaaaa………….. (setelah mendapat kuliah dari dosen tadi). Indigo itu salah satu indikasi ABK loh,, tahu ABK kan?? Yap yap, orang berkebutuhan khusus. Karena secara hakikatnya orang-orang indigo yang tidak tersalurkan dengan baik, maka akan menjadikan orang tersebut mengalami depresi berat lohh…
Ya walau secara kasat mata pengetahuan kita, indigo itu mungkin ruar biasa kali ya. Tapi hal itu sangat memberatkan orang-orang indigo sendiri secara mental mereka. Apalagi jika lingkungan tidak mampu mengimbangi dengan apa yang diharapkan oleh meraka.
Karena orang indigo sendiri mampu menganalisa suatu kejadian atau keadaan secara cepat, sehingga hal ini lah yang menyebabkan orang-orang indigo mampu memprediksi masa lalu dan masa depan. Akan tetapi masa lalu dan masa depan yang dimaksud ini bukan hal yang berhubungan dengan takdir loh.. (bagaimana pun takdir hanya Allah Ta’ala yang tahu, ^_^)
Maksud memprediksi disini ialah memprediksikan segala sesuatu yang masih mampu dilogika atau dianalisis oleh kita-kita yang InsyaAllah normal ini.
Hehe masih bingung kah??
Begini begini, contoh kecil aja ya : orang indigo itu ditebakin missal tanggal 18 januari 1956 itu jatuh pada hari apa, nah mereka tuh langsung bisa ngejawab dengan luar biasa cepat dari kita yang normal, dengan jawaban yang tepat dan benar. Jadi maksudnya mengetahui masa lalu itu seperti itu.
Tapi, tapi nieh, persepsi kita tentang orang indigo yang mampu melihat makhluk astral (makhluk dunia sebrang) itu juga nggak salah kok. Eitssss tapi ini juga ada dasarnya loh… mereka mampu melihat atau merasakan yang begituan itu karena mereka mampu melihat panjang gelombang yang berbeda dengan lampang pandang yang lebih luas dari yang normal. Nah karena mereka mampu melihat panjang gelombang yang kasat mata oleh kita yang normal, makanya mereka mampu melihat makhluk-makhluk seberang. Karena pada dasarnya makhluk tersebut merupakan cahaya yang memiliki panjang gelombang yang berbeada dengan kita. Begitulah kenapa mereka mampu melihat hal-hal seperti itu.
Selain itu mereka memiliki tingkat probability 80% jauh lebih baik dari orang normal, berdasarkan teori probabilitas (teori tentang kemungkinan suatu peristiwa terjadi). Nah artian 80% disini tuh,,, mereka mampu memprediksikan kemungkinan suatu kejadian terjadi atau tidak, tapi ini semua berdasarkan pada apa yang mereka rasakan terahadap panjang gelombang yang dikeluarkan oleh setiap benda (ya tahu kan, kalau setiap benda itu mengeluarkan panjang gelombang yang berbeda). Tapi jangan salah namanya prediksi manusia itu juga bisa salah loh (jangan sampe jadi kepercayaan atau keyakinan ya… Musyrik tahu.. dosa guedhe tuh). Jadi ya nggak salah dan nggak heran donk sekarang kenapa mereka mampu memprediksi kan tentang masa depan.
Oh ya balik lagi ke atas ya… kenapa mereka bisa dikategorikan ABK???
Itu karena mereka memiliki sedikit banyak masalah hubungan sosial dan dalam melakukan aktivitas individual. Tetapi nggak selamanya orang atau anak indigo itu ABK loh. Hal ini dapat terjadi JIKA anak indigo dipaksakan dan tidak dilakukan dengan tepat tentang apa yang dimilikinya (karena indigo itu anugrah yang Allah berikan kepada orang yang Allah pilih untuk memilikinya).
Karena anak indigo akan banyak mengalami gangguan dalam attentionnya, hal ini disebabkan karena kemampuan mereka tadi yang mampu melihat panjang gelombang yang kasat mata oleh kita (coba bayangin kalau kalian diposisi meraka). Jika gangguan attention ini dibiarkan maka mereka bisa mengalami gangguan atensi seperti ADD (attention deficit disorder) bahkan ADHD (attention deficit hyperactive disorder). Selain ADD dan ADHD ada lagi loh yang lain, yaitu Autism (tapi mungkin agak beda kali ya, cos anak autism punya gangguan imajinasi sedangkan indigo imajinasi agak berlebih) hal ini karena kemampuan mereka yang tidak tersalurkan dengan baik, dan ketidaktahuan lingkungan dengan apa yang mereka harapankan, sehingga kemungkinan besar mereka akan sibuk dengan dunia mereka sendiri daripada mereka dianggap aneh oleh lingkungannya.
So….. dari ini semua, kita dapat mengetahui sekarang. Indigo itu tidak sesempit seperti apa yang kita ketahui selama ini (mungkin). Tapi masih banyak hal yang luar biasa tetapi didasarkan pada teori yang sangat jelas tentang keadaan mereka. Selain itu jika dilingkungan kita ada anak yang indigo, jangan deh maksain mereka untuk ngeramal kita. Karena Indigo BUKAN peramal. Atau memperlakukan mereka dengan hal yang istimewa tapi tidak wajar (ya apalah itu, pasti tahu lah). Tapi perlakukan mereka seperti kita pada umumnya, jangan terlalu mengistimewakan mereka. Bolehlah mereka megembangkan bakat mereka, tapi tetep jaga mereka dalam jalur yang benar (takut-takut bisa syirik tuh, kan bahaya). Ya pokoknya anak indigo itu umumnya sama dengan kita kok, tapi mereka memang diberikan kemampuan khusus oleh Allah untuk digunakan dengan benar (nggak kebayangkan hal besar apa yang mampu mereka lakukan dengan kemampuan mereka yang luar biasa???), karena setiap hal itu pasti ada makna besar yang tersembunyi dibaliknya.

alhamdulillah itu tadi sedikit tentang ulasan indigo, saya dapatkan dari dosen saya yang secara langsung punya pengalaman dengan anak indigo. so... masalah bagaimana dengan kalian ingin menanggapi hak pribadi donk, semoga bermanfaat ya. dan semoga memberi wawasan baru ^_^

sekian Assalamu'alaykum
at kuliah pedratri

Saturday, 26 May 2012

(j-actor) Mukai Osamu


Mukai osamu
Awal kenal nieh cowok (yang manis banget kalau senyum, padahal diem aja udah manies banget) waktu nonton salah satu dorama Jepang yang judulnya Honey and Clover. Waktu baru lihat aja udah langsung respek. Huiiihhh keren nieh cowok, actingnya juga bagus. Padahal di dorama itu dia posisinya jadi cowok yang cukup ngeselin loh. Nah terbukti tuh perkataanku tentang actingnya. Dorama dia kedua yang nggak lama baru kelar di tayangkan di salah stasiun TV itu, yang otomatis baru selesai saya tonton juga donk. Actingnya itu bisa 180 derajat beda deh, sama dorama pertama yang saya tonton. Yang kedua ini lebih kelihatan aslinya dia. Hungry! Tuh judul dorama yang baru kelar sekitar maret lalu.
Dari pada penasaran yuk kita tengong data diri cowok manis ini dulu….
            Nama sejak orok ya tetep Mukai Osamu, lahir nya di Yokohama, Kanagawa (nTu tuh salah satu kota terbesar di Jepang setelah Tokyo, nggak tahu ya udah sama) yang jelas Jepang pas nya tanggal 7 Februari 1982 (udah cukup umur juga ya hihihi). Eits tapi walau udah cukup umur doi sampai sekarang belum juga merried loh (ya biasalah orang Jepang, kadang ikut kebarat-baratan). Doi tinggi juga loh, mencapai 182cm nieh tinggi nya, tapi doi kurus nggak genep 50kg tuh beratnya (kurus banget kan). Wah kalau masalah koleksi dorama atau movie yang pernah di bintangi sudah cukup banyak nieh. Nieh bisa dilihat daftarnya di bawah.
TV Shows
Hungry! (Fuji TV, 2012)
Hanayome no Chichi (TBS, MBS, 2012)
Honto ni Atta Kowai Hanashi Akumu no Jusan Nichi (Fuji TV, 2011)
Aishiteru~Kizuna~ (NTV, 2011)
Kikoku (TBS, 2010)
Hotaru no Hikari 2 (NTV, 2010)
Shinzanmono (TBS, 2010)
5 Nen Go no Love Letter (Bee TV, 2010)
Gegege no Nyobo (NHK, 2010)
Bocho Mania 09 (NTV, 2009)
Mama-san Volley de Tsukamaete (NHK, 2009)
Ninkyo Helper (Fuji TV, 2009)
Futatsu no Spica (NHK, 2009)
Atashinchi no Danshi (Fuji TV, 2009)
Mei-chan no Shitsuji (Fuji TV, 2009)
Scrap Teacher (NTV 2008)
Kiri no Hi (NTV, 2008)
Seigi no Mikata as Yoshikawa Naoki (NTV, 2008)
Osen as Tomekichi (NTV, 2008)
Hachimitsu to Clover as Mayama Takumi (Fuji TV, 2008)
Nodame Cantabile SP (Fuji TV, 2008)
Abarenbo Mama as Yamaguchi Yohei (Fuji TV, 2007)
Bambino! as Senoo Masashi (NTV, 2007)
Hyakki Yakosho (NTV, 2007)
Nodame Cantabile as Kikuchi Toru (Fuji TV, 2006)
Regatta (TV Asahi, 2006)
Byakuyako (TBS, 2006, ep3)
Movies
Girl (2012)
Bokutachi wa Sekai wo Kaeru Koto ga Dekinai (2011)
Paradise Kiss (2011)
Beck (2010)
Hanamizuki (2010)
Gachi Boy (2008)
Boku wa, Kimi no Tame ni koso Shini ni Iku (2007)
Dakara Watashi wo Suwarasete. Tsuukin Densha de Suwaru Geijutsu (2006) 

Nah bakat actingnya sudah terbukti tuh dengan di dapatkannya 66th Television Drama Academy Awards: Best Supporting Actor - Gegege no Nyobo. Ya walau hanya sebagai pemain pendukung terbaik, tapi itu udah cukupkan nunjukin kalau doi berbakat. Wong sebagai pemain pendukung aja terbaik, apalagi pemain utama iya nggak (nggak tahu juga sieh, hehehe).
Ya dari pada penasaran sama film-filmnya bisa cari kok…
Misal kayak Honey and Clover dan Hungry!

untuk perannya di Hungry! itu pertama kalinya loh doi jadi pemeran utama (pantesan aja ya, best supporting actor hehe).

yuk tengok dikit nieh doi Di dorama Hungry!
Selamat menjadi yang suka ya, hehehe
Koki sekaligus Rocker
Mukai jadi Koki
 gaya osamu di Hungry! hampir mirip dengan pemeran Ren A.N.Jell nya jepang loh hehehehe

Saturday, 19 May 2012

Bulan Rojab


Assalamu'alaykum warahmatullah
 Kita pasti mengenal bulan Rojab, salah satu bulan Haram (dimuliakan) oleh Allah.
banyak amalan yang baik yang dapat kita laksanakan di dalamnya. langsung saja yuk dibaca artikelnya 
 
Asal Penamaan
Dinamakan bulan Rajab, dari kata rajjaba – yurajjibu yang artinya mengagungkan. Bulan ini dinamakan Rajab karena bulan ini diagungkan masyarakat Arab. (keterangan Al Ashma’i, dikutip dari Lathaiful Ma’arif, hal. 210)
Keutamaan Bulan Rajab
Bulan Rajab termasuk salah satu empat bulan haram.
Allah ta’ala berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus..” (QS. At Taubah: 36)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبٌ شَهْرُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Sesungguhnya zaman berputar sebagaimana kondisinya, ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan, diantaranya empat bulan haram. Tiga bulan ber-turut-turut: Dzul Qa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan satu bulan: Rajab suku Mudhar, yaitu bulan antara Jumadi (tsaniyah) dan sya’ban.” (HR. Al Bukhari & Muslim)
Keterangan:
Disebut “Rajab suku Mudhar” karena suku Mudhar adalah suku yang paling menjaga kehormatan bulan Rajab, dibandingkan suku-suku yang lain. Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi batasan: antara Jumadil (tsaniyah) dan sya’ban, sebagai bentuk menguatkan makna. (Umdatul Qori, 26/305)
Ada yang menjelaskan, disebut “Rajab suku Mudhar” untuk membedakan dengan bulan yang diagungkan suku Rabi’ah. Suku Rabi’ah menghormati bulan Ramadhan, sementara suku Mudhar mengagungkan bulan Rajab. Karena itu bulan ini dinisbahkan kepada suku Mudhar.
Amalan Sunnah di Bulan Rajab
Tidak terdapat amalan khusus terkait bulan Rajab. Baik bentuknya shalat, puasa, zakat, maupun umrah. Mayoritas ulama menjelaskan bahwa hadis yang menyebutkan amalan bulan rajab adalah hadis bathil dan tertolak.
Ibn Hajar mengatakan: Tidak terdapat riwayat yang shahih, bisa untuk dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, baik bentuknya puasa sebulan penuh atau puasa di tanggal tertentu bulan rajab atau shalat tahajjud di malam tertentu. Keterangan saya ini telah didahului oleh ketengan Imam Abu Ismail Al Harawi. (Tabyinul Ujub bimaa warada fii Fadli Rajab, hal. 6)
Imam Ibn Rajab mengatakan: “Tidak terdapat dalil yang shahih, yang menyebutkan adanya anjuran shalat tertentu di bulan Rajab. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat Raghaib di malam jum’at pertama bulan rajab adalah hadis dusta, bathil, dan tidak shahih. Shalat Raghaib adalah bid’ah menurut mayoritas ulama.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 213)
Terkait masalah puasa di bulan Rajab, Imam Ibn Rajab juga menegaskan, tidak ada satupun hadis shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus. Hanya terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau mengatakan: “Di surga terdapat istana untuk orang yang rajin berpuasa di bulan Rajab.” Namun riwayat bukan hadis. Imam Al Baihaqi mengomentari keterangan Abu Qilabah: “Abu Qilabah termasuk Tabi’in senior, beliau tidak menyampaikan riwayat itu selain hanya kabar tanpa sanad.” (Lathaiful Ma’arif, hal. 213)
Pertama, Puasa Sunnah bulan haram
Akan tetapi, jika seseorang melaksanakan puasa di bulan Rajab dengan niat puasa sunnah di bulan-bulan haram maka ini dibolehkan, bahkan dianjurkan. Mengingat sebuah hadits yanng diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Daud, Al Baihaqi dan yang lainnya, bahwa suatu ketika datang seseorang dari suku Al Bahili menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia meminta diajari berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan: “Puasalah sehari tiap bulan.” Orang ini mengatakan: “Saya masih kuat, tambahkanlah!” “Dua hari setiap bulan”. Orang ini mengatakan: “Saya masih kuat, tambahkanlah!” “Tiga hari setiap bulan.” orang ini tetap meminta untuk ditambahi. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasalah di bulan haram dan berbukalah (setelah selesai bulan haram).” (Hadis ini dishahihkan sebagaian ulama dan didhaifkan ulama lainnya). Namun diriwayatkan bahwa beberapa ulama salaf berpuasa di semua bulan haram. Dinataranya: Ibn Umar, Hasan Al Bashri, dan Abu Ishaq As Subai’i.
Kedua, Mengkhususkan Umrah di bulan Rajab
Diriwayatkan bahwa Ibn Umar pernah mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan umrah di bulan Rajab. Kemudian ucapan beliau ini diingkari A’isyah dan beliau diam saja. (HR. Al Bukhari & Muslim)
Umar bin Khatab dan beberapa sahabat lainnya menganjurkan umrah bulan Rajab. A’isyah dan Ibnu Umar juga melaksanakan umarah bulan Rajab.
Ibnu Sirin menyatakan, bahwa para sahabat melakukan hal itu. Karena rangkaian haji dan umrah yang paling bagus adalah melaksanakan haji dalam satu perjalanan sendiri dan melaksanakan umrah dalam satu perjalanan yang lain, selain di bulan haji. (Al Bida’ Al Hauliyah, hal 119).
Dari penjelasan Ibn Rajab menunjukkan bahwa melakukan umrah di bulan Rajab hukumnya dianjurkan. Beliau berdalil dengan anjuran Umar bin Khatab untuk melakukan umrah di bulan Rajab. Dan dipraktekkan oleh A’isyah dan Ibnu Umar.
Diriwayatkan Al Baihaqi, dari Sa’id bin Al Musayib, bahwa A’isyah radliallahu ‘anha melakukan umrah di akhir bulan Dzulhijjah, berangkat dari Juhfah, beliau berumrah bulan Rajab berangkat dari Madinah, dan beliau memulai Madinah, namun beliau mulai mengikrarkan ihramnya dari Dzul Hulaifah. (HR. Al Baihaqi dengan sanad hasan)
Namun ada sebagian ulama yang menganggap umrah di bulan Rajab tidak dianjurkan. Karena tidak ada dalil khusus terkait umrah bulan Rajab. Ibnu Atthar mengatakan: Diantara berita yang sampai kepadaku dari penduduk Mekah, banyaknya kunjungan di bulan Rajab. Kejadian ini termasuk masalah yang belum kami ketahui dalilnya. Bahkan terdapat hadis yang shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Umrah di bulan Ramadhan nilainya seperti haji.” (HR. Al Bukhari)
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh mengatakan, bahwa para ulama mengingkari sikap mengkhususkan bulan Rajab untuk memperbanyak melaksanakan umrah. (Majmu’ Fatawa Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 6/131)
Kesimpulan:
Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini, mengkhususkan umrah di bulan Rajab adalah perbuatan yang tidak ada landasannya dalam syariat. Karena tidak ada satupun dalil yang menunjukkan anjuran mengkhususkan bulan Rajab untuk pelaksanaan umrah. Disamping itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak pernah melakukan umrah di bulan Rajab, sebagaimana disebutkan dalam hadis sebelumnya.
Andaikan ada keutamaan mengkhususkan umrah di bulan Rajab, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberi tahukan kepada umatnya. Sebagaimana beliau memberi tahu umatkan akan keutamaan umrah di bulan Ramadlan. Sedangkan riwayat dari Umar bahwa beliau menganjurkan umrah di bulan Rajab, yang benar sanadnya dipermasalahkan.
Ketiga, Menyembelih hewan (Atirah)
Atirah adalah hewan yang disembelih di bulan Rajab untuk tujuan beribadah.
Ulama berselisih pendapat tentang hukum atirah.
Pendapat pertama, athirah dianjurkan. Dalilnya adalah hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang ‘Athirah, kemudian beliau menjawab: “Athirah itu hak.” (HR. Ahmad, An Nasa’i dan As Suyuthi dalam Jami’us Shaghir)
Pendapat kedua, atirah tidak disyariatkan, namun tidak makruh. Dalilnya, hadis dari Abu Razin, Laqirh bin Amir Al Uqaili, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Kami menyembelih hewan di bulan Rajab di zaman Jahilliyah. Kami memakannya dan memberi makan tamu yang datang. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak masalah.” (HR. An Nasa’i, Ad Darimi, dan Ibn Hibban)
Pendapat ketiga, atirah hukumnya makruh. Berdasarkan hadis, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada Fara’a dan tidak ada Atirah.” (HR. Al Bukhari & Muslim)
Fara’a adalah anak pertama binatang, yang disembelih untuk berhala.
Pendapat keempat, atirah hukumnya haram. Ini adalah pendapat yang dipilih Ibnul Qoyim dan Ibnul Mundzir. Ibnul Qoyim mengatakan: “Dulu masyarakat arab melakukan atirah di masa jahiliyah, kemudian mereka tetap melakukannya, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendukungnya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya, melalui sabdanya: “Tidak ada fara’a dan tidak ada atirah.” akhirnya para sahabat meninggalkannya, karena adanya larangan beliau. Dan telah dipahami bersama, bahwa larangan itu hanya akan muncul, jika sebelumnya ada yang melakukannya. Sementara tidak kita jumpai adanya satupun ulama yang mengatakan: Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang atirah kemudian beliau membolehkannya kembali…” (Tahdzib Sunan Abu Daud, 4/92 – 93). InsyaaAllah, pendapat inilah yang lebih mendekati kebenaran.

demikian sedikit info tentang bulan Rojab, jika kurang baca artikel tentang bulan Rojab lebih banyak ya, agar amalan-amalan kita tidak sia-sia.
Selain itu di bulan Rojab juga ada peristiwa yang kita kenal dengan Isra' Mi'raj loh, yaitu perjalanan Rasulullah dari bumi sampai ke langit. so bulan Rojab itu insyaAllah selalu penuh berkah.
semoga bermanfaat ya

Assalamu'alaykum warahmatullah

Friday, 18 May 2012

kasih seputih kafan


 “Vin, kian hari kok aku malah nggak yakin ya dengan hasil ta’aruf kemarin.” Tampak jelas keraguan di wajah imut Lala saat itu.
“ Nggak yakin gimana sih kak? Kan udah saling sepakat, dan menentukan hari.” Vindi yang diajak cerita oleh kakaknya makin tak mengerti.
Beberapa waktu yang lalu Lala positif di kitbah oleh seorang lelaki baik-baik dan insyaAllah dari keluarga baik-baik pula. Vindi sang adik lah yang mengenalkan mereka, dan awal perkenalan mereka, mereka sudah saling setuju untuk berkenalan lebih lanjut. Tanpa berpikir lama Rizwan pun langsung datang bersama keluarganya untuk menyatakan kitbah terhadap Laila Firdaus itu.
Jelas hari pengkitbahan itu Laila bahagia karena dipikirnya usianya benar-benar sudah matang untuk menjalani bahterah rumah tangga yang agung. Tidak ada kata protes sedikit pun darinya ketika kata-kata pengkitbahan hari itu diucapkan oleh keluarga Rizwan.
Setelah hari itu pun tetap Laila tak merasa ragu sedikit pun. Dia tetap meyakini bahwa Rizwan adalah pemilik tulang rusuk yang ada padanya. Vindi terlebih lagi, merasa amat bahagia atas kebahagiaan kakaknya itu. Tanpa berat hati dia antarkan kemana pun kakaknya meminta untuk mencari perlengkapan pernikahan yang telah disepakati.
Dua keluarga itu pun mulai akrab, sempat beberapa kali orang tua Rizwan datang berkunjung untuk memperat tali silaturahmi antar keluarga. Dan begitu juga dengan kedua orang tua Lala. Keakraban seakan telah tumbuh lama, seolah dua keluarga itu memang ditakdirkan untuk saling berbesanan dan mempererat ukuwah silaturahminya.
Akan tetapi sudah dua hari ini Lala tampak murung, tampak ragu dengan pengkitbahan 3 minggu yang lalu. Kini Lala mulai bertanya-tanya kenapa Rizwan seolah terburu-buru dengan pernikahan ini?  tanda Tanya besar dalam benak Lala dalam kurun dua hari ini. Pemikiran bodoh itu pun selalu membayanginya setiap malam, setiap dia bermunajat kepada Sang Kholiq, dan bayangan pertanyaan bodoh itu pun telah cukup mengganggu kebahagian dan hidupnya yang genap sempurna itu.
“ Mbak aku jadi penasaran deh, kenapa kamu kemarin tiba-tiba bilang gitu? Apalagi pertanyaanku kemarin belum dijawabkan.” Suara halus Vindi melenyapkan lamunan Lala sore itu, suara embikan kambing pun melantuni suara halus Vindi.
“Gimana Vin? Nggak ada kok, mungkin hanya pikirang bodohku saja.” Elak Lala yang enggan membuat satu-satunya orang yang mengetahui perasaannya saat itu tentang pernikannya.
“Jangan bohong Mbak. Dua hari ini aku perhatiin kamu murung terus, terus kalau Umi ma Abi ngajak ngobrol tentang pernikahanmu, kamu selalu nolak.” Selidik Vindi yang memang gemar mengamati setiap gerak-gerik keluarganya. “lagi pula, Mbakku tuh nggak kayak gini, seberat apapun masalah hidup, nggak pernah tuh sampe murung gini.” Lanjut Vindi mendoktrin kakaknya itu.
Tak ada kesempatan lagi Lala mengelak adiknya yang super teliti itu. Lala pun mulai menceritakan kegelisahannya.
“Semua tuh berawal dari mimpiku sekitar empat hari lalu, awalnya sih aku cuek, tapi tiga hari berturut-turut aku mimpi hal yang sama Vin.” Jelas Lala dengan bingungnya.
“Mimpi? Masak sama mimpi aja sampai bikin kamu bilang gitu?” selidik makin dalam.
“Soalnya mimpinya tentang Mas Rizwan Vin. Di mimpiku mas Rizwan pamitan sama aku, dan dia tuh pake baju putih-putih gitu. Jadi aku ragu. Apalagi mas Rizwan mutusin buat mengkitbahku dan menentukan tanggal pernikahan seolah terburu-buru kan?” Lala menatap lekat wajah kotak adiknya itu yang terbalut rapih oleh kerudung besarnya. Vindi pun mulai Nampak berfikir serius.
“Awalnya aku juga ngerasa aneh Mbak, kenapa Mas Rizwan kesannya buru-buru. Tapi toh akhirnya Mas Rizwan ngikutin keputusan bersama kan?” suara Vindi pun mulai tampak ragu.
“Entahah Vin, tapi aku mulai ragu dengan keputusan pernikan ini”
“Bismillah aja Mbak, kalo Mas Rizwan memang jodoh kamu, InsyaAllah apapun yang terjadi pasti akan tetap bersama. Tapi kalau bukan, ya mau apalagi itu lah keputusan Allah yang terbaik untukmu.” Vindi mulai mendeklarasi. “Ingat Mbak kita manusia yang hanya wajib untuk berusaha, apalagi jodoh. Dan semua keputusan mutlak milik Allah.” Vindi mengakhiri dengan mendekap erat kakaknya itu yang kebetulan tubuh Vindi lebih besar dari kakaknya itu.
(rumah Rizwan)
“Rizwan sebenarnya kamu kenapa tho le, kok kemarin kesannya buru-buru mutusinnya?” tanya ibunda Rizwan dengan halus di emperan rumah mereka dengan Rizwan sibuk mencabuti rumput di halaman mereka yang cukup subur tumbuh.
“Boten nopo kok Bu.” Rizwan tanpa menjawab tanpa menoleh kepada ibunya yang sedang asyik membaca buku di emper.
“Ndak usah bohong tho le, kamu ki udah tak asuh 26 tahun lebih. Ibu ki ngerti banget gimana kalo kamu ki bohong. Mrene sik, jawab yang serius.” Rizwan pun mengiyakan dan menghampiri ibunya dan duduk manis di samping ibunya.
“Ngapurane nggih Bu, sebelumnya Rizwan ndak pernah cerita. Tapi ada hal yang cukup ngawatirke bu.” Rizwan pun melanjutkan ceritanya, tanpa berani menatap wajah ibunya secara langsung, yang sering dia lakukan kalau bercerita dengan kedua orang tuanya. Rizwan tak sanggup bila harus melihat air mata menitik di wahaj tua ibu nya sore itu.
Malam yang cukup dingin menyelimuti rumah Lala, yang membuat para penghuninya yaitu Lala, Vindi, dan kedua orang tuanya berkumpul rapat di ruang tengah. Dengan menyaksikan sederetan acara TV yang kian tidak ada nilai pendidikan di dalamnya. Tapi tidak ada hiburan lain yang mampu menyatukan mereka sehangat itu.
Lala melirik ke arah Vindi, Vindi pun mengerti dengan lirikan itu dan mulai mengambil nafas juga tampak menyusun kata-kata yang pantas untuk memberitahukan kebimbangan kakaknya itu.
“Ummi-Abi. Ummi sama Abi apakah yakin benar dengan pernikahan Mbak Lala sama Mas rizwan.” Kedua orang tuanya yang ternyata asyik dengan acara salah satu stasiun itu itu pun menatap Vindi dengan serius.
“lah kok malah kamu yang jadi ragu tho Ndi?” Ayah mereka menimpali, karena memang ibu mereka lebih banyak diam.
“Lala yang ragu kok Pak Bu. Bukan Vindi, Cuma Lala bingung yang harus nyampain ke Bapak sama Ibu.” Lala pun mulai berani untuk ikut mengambil bagian dalam bercerita.
“Lah ragu piye tho nduk?” kali ini Ibu yang menimpali. Dan ruang tengah yang awalnya dingin kini mulai terasa panas. Pembicaraan pun mulai menjadi serius.
“Kulo nggih boten ngertos Bu. Dulu ya boten nopo, baik-baik saja. Tapi beberapa hari ini, Lala niku ngimpiin Mas Rizwan terus Bu, Pak.” Mata Lala pun mulai tampak berkaca-kaca, Vindi memegangi tangan Lala sebagai upaya memberikan kekuatan pada kakaknya itu.
“Lah malah bagus no, ngimpiin berarti jodoh. Wis toh, Bapak sama Ibu i dah srek ma keluarga mereka. Bapak lihat orang tua Rizwan yo wis nompo apik keluarga kita.” Tetap Bapak berusaha bicara dengan nada pelan, sedang Lala mulai tampak ketakutan. Karena Lala dan Vindi mengenal Ayahnya sebagai orang yang keras.
“iya nduk, ibu juga setuju sama bapak. InsyaAllah nggak ada apa-apa nduk. Wis mending kamu banyak sholat malam. Biar dikasih ketenangan sama Gusti Allah.” Ibu mulai tampak menenangkan Lala, yang menyadari ada seraut ketakutan dan kebingungan yang luar biasa di wajah mungil Lala.
“Bi, Mi. kami tidur duluan ya.” Pamit Vindi dengan mengajak Lala ke kamar, yang kebetulan kamar mereka besar yang muat untuk dua tempat tidur. Padahal malam itu jam baru menunjukan pukul 8. Sebenarnya belum ada kantuk di wajah mereka, tapi Vindi hanya mengajak Lala untuk menenangkan diri di dalam kamar saja.
Vindi berusaha sebaik mungkin untuk mengembalikan semangat kakaknya itu. Vindi berusaha meyakinkan kembali bahwa Rizwan adalah jodoh yang terbaik untuknya.
Kini malam semakin larut, Vindi telah lerap dalam tidurnya, dan suara TV di ruang tengah yang berada di samping kamar Lala pun sudah senyam. Karena malam telah menuju jam 1 petang. Lala melangkahkan kakinya keluar untuk membasahi wajahnya dengan air mudhu. Untuk kesekian kalinya Lala bercerita tentang kegelisahannya ini kepada Sang Kholiq, yang diyakininya hanya Allah Ta’ala yang mampu memberikan jawaban yang baik untuknya. Dengan inilah Lala mampu menenangkan hati dan fikirannya, hanya sekedar untuk menghantarkan tubuhnya beristirahat. Berbeda dengan malam-malam yang lalu, sejak kegundahan itu datang. Tak pernah Lala merasa setenang itu, merasa bahwa semua akan baik-baik saja, walau Lala masih tidak yakin akan pernikahan ini. Tapi malam itu Lala merasakan ketenangan yang indah.
Wajah Lala mulai tampak bersinar kembali, tingkahnya yang asal-asalan pun mulai mengiringi harinya. Vindi yang melihat itu pun turut merasakan ketenangan yang dirasakan kakaknya sejak malam itu.
Kring….Kring… “Assalamu’alykum. Ada apa Bu?” Sapa Lala tenang.
“Wa’alykummussalam warahmatullah. Nak Lala sama keluarga bisa main ke rumah kami segera atau tidak? Ada hal yang penting untuk diberitahukan.” Suara parau Ibu Rizwan terdengar dari seberang telefon. “Iya Bu, Assalamu’alaykum.” Setelah mendengar salam dari seberang telefon, Lala langsung mengajak keluarganya menuju rumah Rizwan.
“Vin, perasaan ku nggak enak lagi deh.” Lala yang duduk di samping Vindi pun mulai berlinangan air mata.
“InsyaAllah nggak ada apa-apa mbak.” Vindi tetap berusaha menengkan kakaknya itu, yang memang mudah panik.
Mereka pun mulai memasuki gang rumah Rizwan. Dari kejauhahan dalam mobil mereka tampak keramaian di depan rumah yang akan mereka tuju. Dan ada sebuah titik yang membuat Lala dan Vindi menyipitkan mata.
Mereka pun semakin dekat, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun..” terdengar suara ibu dari jok depan, yang sudah tampak lebih dulu titik yang membuat mata gadis itu menyipit.
Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun..” kini Vindi yang ikut menyeruakan lafaz itu. Semakin jelas di depan mereka, sebuah bendera merah terpasang di depan rumah Rizwan.
“Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun. Siapa yang meninggal ya?” kini suara Lala yang menyahut, tetapi terdengar lebih tegar dari suara Ibu dan adiknya. Mereka pun segara turun dan menghampiri keluarga mereka.
Ayahnya ada, ibunya ada, jangan-jangan. Kini mulai tampak memucat wajah imut Lala. Mereka pun menghampiri peti yang sudah ada mayat yang terbujur kaku di dalamnya. Sebelum melihat jenazah tersebut dan sedikit menghilangkan prasangka buruk dalam hati Lala, mereka pun mengerjakan sholat jenazah terlebih dahulu.
“Maaf ya nduk, kayaknya memang harus berhenti hari ini.” Pegangan hangat menyentuh pundak Lala yang sedang mematung di samping peti jenazah dan dengan lekat memandangi seorang lelaki yang terbujur kaku di tempatnya dengan senyuman yang indah. Air mata pun mulai terlihat mengalir di pipi manisnya itu, yang sudah cukup untuk membasahi kerudungnya yang menjulur hitam itu. Dan memang ada sebuah perasaan yang menyuruhnya untuk mengenakan kerudung hitam itu.
“Iya Bu.” Sambil mengusap air mata dan ikut duduk bersama keluarga besar kedua keluarga itu.
Sekembalinya para pelayat, kedua keluarga pun mulai berbagi cerita.
“Kami sebelumnya minta maaf, kami juga tidak tahu kenapa semua ini bisa terjadi.” Suara ibu Rizwan yang memulai semua pembicaraan siang itu.
“Ndak apa kok Bu, ini udah takdir Gusti Allah, ndak ada yang bisa kita perbuat juga tho bu.” Ayah Lala lah yang menimpali. Lala mulai tampak bisa tersenyum, walau senyumnya terasa aneh, ini sudah cukup melegakan untuk kedua keluarga.
“Kami yang salah Pak, Bu, nak Lala. Seharusnya kami tahu benar alasan Rizwan menikah yang sebelumnya juga membuat kami kaget.” Ibu Rizwan juga berusaha tegar, sama tegarnya dengan Lala.
“Alasan? Memang ada yang salah dengan Mas Rizwan sebelumnya Bu?” Selidik Vindi seperti biasa apabila ada sesuatu yang tak semestinya.
“Ndak ada yang salah sebener e Nak Vindi. Tapi ibu juga baru tahu sekitar 1 mingguan yang lalu, kalo Rizwan iku punya sakit yang katanya cukup bahaya. Tapi yo kita ndak nyangka menawo umur e Rizwan mung semene.” Suasana menghening. Hanya Ibu Rizwan yang tahu kalau Rizwan punya penyakit yang mematikan. Sebenarnya dari kematian Rizwan pun dapat diketahui bahwa dia terkena serangan jantung. Rizwan meninggal di kamarnya setelah menjalankan sholat subuh, dan merasa sedikit pusing jadi dia bepamitan untuk pergi tidur.
Setelah pihak laki-laki selesai bercerita tentang sakit Rizwan. Kini Lala pun ikut memberanikan diri menceritakan tentang mimpinya yang menyangkut Rizwan. Dia menceritakan secara mendalam semuanya. Kedua keluarga pun memahami semuanya, ini adalah takdir Allah, tak ada satupun yang mampu mengelaknya. Sebaik apa rencana manusia Allah pemberi keputusan terbaik.
“Benar apa yang menjadi keraguanku selama ini Vin, sekarang jelas makna mas Rizwan pamitan dengan pakaian yang serba putih bersih beberapa hari lalu.”
“Iya Mbak, sekarang aku juga paham.” Pembicaraan yang masih kelabu di sore yang cerah dengan kicauan burung di sekeliling rumah terlontar diantara Vindi dan Lala.
“Seandainya ya Vin, aku nggak nerima. Atau pas ta’aruf kemarin aku nggak buru-buru ngambil keputusan. Pasti nggak akan sehampa ini rasanya.”
“Husss, nggak boleh berandai-andai gitu Mbak. Kalo aku yakin malah Allah tuh punya rencana yang besar ke kamu.” Sergah Vindi Cepat.
“Tapi kamu pasti nggak tahu gimana perasaanku. Rasanya seperti kehilangan permata ditangan yang sudah siap jadi cincin yang indah.”
“Mbaaaakk,, coba bayangin kalo Allah memanggil Mas Rizwan ketika sudah nikah dengan kamu, apa nggak lebih sakit. Uwis tho, Allah tahu yang terbaik. Allah sedang menguji seberapa besar keikhlasmu menerima keputusan Allah. Allah itu maha tahu mbak tentang nasib umatnya.” Nasihat Vindi sore itu, menyadarkan Lala tentang suatu kenyataan. Rizwan belumlah menjadi miliknya, Rizwan masih milik Allah. Tidak ada hak bagi Lala untuk memprotes apa yang jadi keputusan Allah. Seiring terdiamnya suara kicauan burung, terkembanglah senyuman Lala, yang selalu dirindukan oleh adiknya itu.

created by : risu.chan

Thursday, 17 May 2012

kerapuhan hati

Kini semakin kurasakan
Semakin kurasakan kerapuhannya
Kerapuhan hatiku, Kerapuhan imanku
Kian ilmu bertambah, Kian kegoyahan melanda
Ketakutan pun tak kalah merajalela
Ingin menitik air mata sesekali
Tapi ketegaran menuntut ku berbuat lain
Bukan kecengengan yang Allah harapkan
Bukan ketakutan dan keraguan yang Allah berikan
Kini ku sadar, mungkin Allah menuntutku untuk berubah
Menuntutku membuka fikiran
Menuntutku akan kewajibanku yang lain
Bukan sekedar sholat lima waktu,
Bukan sekedar menahan nafsu, lapar dan haus di Ramadhan
Tapi kewajiban yang lebih besar
Kewajiban seorang hamba yang harus membela Agama-Nya
Kini ku mulai sadar, itu tak mudah
Tapi kian kemari ku semakin takut,
Ketakutan yang seharusnya ku tinggalkan,
Ketakutan yang selayaknya tidak ku pertahankan
Tapi ku masih goyah, ku masih miskin
Bingung dalam kebodohan, bingung dalam kefasikan
Ya Allah, Ya Aziz kokoh kan langkahku
Pertajamkan ilmu ku, tingkatkan pemahamanku
Kuatkan pendirianku, untuk memenangkan agama-Mu.. Allah