Friday, 18 May 2012

kasih seputih kafan


 “Vin, kian hari kok aku malah nggak yakin ya dengan hasil ta’aruf kemarin.” Tampak jelas keraguan di wajah imut Lala saat itu.
“ Nggak yakin gimana sih kak? Kan udah saling sepakat, dan menentukan hari.” Vindi yang diajak cerita oleh kakaknya makin tak mengerti.
Beberapa waktu yang lalu Lala positif di kitbah oleh seorang lelaki baik-baik dan insyaAllah dari keluarga baik-baik pula. Vindi sang adik lah yang mengenalkan mereka, dan awal perkenalan mereka, mereka sudah saling setuju untuk berkenalan lebih lanjut. Tanpa berpikir lama Rizwan pun langsung datang bersama keluarganya untuk menyatakan kitbah terhadap Laila Firdaus itu.
Jelas hari pengkitbahan itu Laila bahagia karena dipikirnya usianya benar-benar sudah matang untuk menjalani bahterah rumah tangga yang agung. Tidak ada kata protes sedikit pun darinya ketika kata-kata pengkitbahan hari itu diucapkan oleh keluarga Rizwan.
Setelah hari itu pun tetap Laila tak merasa ragu sedikit pun. Dia tetap meyakini bahwa Rizwan adalah pemilik tulang rusuk yang ada padanya. Vindi terlebih lagi, merasa amat bahagia atas kebahagiaan kakaknya itu. Tanpa berat hati dia antarkan kemana pun kakaknya meminta untuk mencari perlengkapan pernikahan yang telah disepakati.
Dua keluarga itu pun mulai akrab, sempat beberapa kali orang tua Rizwan datang berkunjung untuk memperat tali silaturahmi antar keluarga. Dan begitu juga dengan kedua orang tua Lala. Keakraban seakan telah tumbuh lama, seolah dua keluarga itu memang ditakdirkan untuk saling berbesanan dan mempererat ukuwah silaturahminya.
Akan tetapi sudah dua hari ini Lala tampak murung, tampak ragu dengan pengkitbahan 3 minggu yang lalu. Kini Lala mulai bertanya-tanya kenapa Rizwan seolah terburu-buru dengan pernikahan ini?  tanda Tanya besar dalam benak Lala dalam kurun dua hari ini. Pemikiran bodoh itu pun selalu membayanginya setiap malam, setiap dia bermunajat kepada Sang Kholiq, dan bayangan pertanyaan bodoh itu pun telah cukup mengganggu kebahagian dan hidupnya yang genap sempurna itu.
“ Mbak aku jadi penasaran deh, kenapa kamu kemarin tiba-tiba bilang gitu? Apalagi pertanyaanku kemarin belum dijawabkan.” Suara halus Vindi melenyapkan lamunan Lala sore itu, suara embikan kambing pun melantuni suara halus Vindi.
“Gimana Vin? Nggak ada kok, mungkin hanya pikirang bodohku saja.” Elak Lala yang enggan membuat satu-satunya orang yang mengetahui perasaannya saat itu tentang pernikannya.
“Jangan bohong Mbak. Dua hari ini aku perhatiin kamu murung terus, terus kalau Umi ma Abi ngajak ngobrol tentang pernikahanmu, kamu selalu nolak.” Selidik Vindi yang memang gemar mengamati setiap gerak-gerik keluarganya. “lagi pula, Mbakku tuh nggak kayak gini, seberat apapun masalah hidup, nggak pernah tuh sampe murung gini.” Lanjut Vindi mendoktrin kakaknya itu.
Tak ada kesempatan lagi Lala mengelak adiknya yang super teliti itu. Lala pun mulai menceritakan kegelisahannya.
“Semua tuh berawal dari mimpiku sekitar empat hari lalu, awalnya sih aku cuek, tapi tiga hari berturut-turut aku mimpi hal yang sama Vin.” Jelas Lala dengan bingungnya.
“Mimpi? Masak sama mimpi aja sampai bikin kamu bilang gitu?” selidik makin dalam.
“Soalnya mimpinya tentang Mas Rizwan Vin. Di mimpiku mas Rizwan pamitan sama aku, dan dia tuh pake baju putih-putih gitu. Jadi aku ragu. Apalagi mas Rizwan mutusin buat mengkitbahku dan menentukan tanggal pernikahan seolah terburu-buru kan?” Lala menatap lekat wajah kotak adiknya itu yang terbalut rapih oleh kerudung besarnya. Vindi pun mulai Nampak berfikir serius.
“Awalnya aku juga ngerasa aneh Mbak, kenapa Mas Rizwan kesannya buru-buru. Tapi toh akhirnya Mas Rizwan ngikutin keputusan bersama kan?” suara Vindi pun mulai tampak ragu.
“Entahah Vin, tapi aku mulai ragu dengan keputusan pernikan ini”
“Bismillah aja Mbak, kalo Mas Rizwan memang jodoh kamu, InsyaAllah apapun yang terjadi pasti akan tetap bersama. Tapi kalau bukan, ya mau apalagi itu lah keputusan Allah yang terbaik untukmu.” Vindi mulai mendeklarasi. “Ingat Mbak kita manusia yang hanya wajib untuk berusaha, apalagi jodoh. Dan semua keputusan mutlak milik Allah.” Vindi mengakhiri dengan mendekap erat kakaknya itu yang kebetulan tubuh Vindi lebih besar dari kakaknya itu.
(rumah Rizwan)
“Rizwan sebenarnya kamu kenapa tho le, kok kemarin kesannya buru-buru mutusinnya?” tanya ibunda Rizwan dengan halus di emperan rumah mereka dengan Rizwan sibuk mencabuti rumput di halaman mereka yang cukup subur tumbuh.
“Boten nopo kok Bu.” Rizwan tanpa menjawab tanpa menoleh kepada ibunya yang sedang asyik membaca buku di emper.
“Ndak usah bohong tho le, kamu ki udah tak asuh 26 tahun lebih. Ibu ki ngerti banget gimana kalo kamu ki bohong. Mrene sik, jawab yang serius.” Rizwan pun mengiyakan dan menghampiri ibunya dan duduk manis di samping ibunya.
“Ngapurane nggih Bu, sebelumnya Rizwan ndak pernah cerita. Tapi ada hal yang cukup ngawatirke bu.” Rizwan pun melanjutkan ceritanya, tanpa berani menatap wajah ibunya secara langsung, yang sering dia lakukan kalau bercerita dengan kedua orang tuanya. Rizwan tak sanggup bila harus melihat air mata menitik di wahaj tua ibu nya sore itu.
Malam yang cukup dingin menyelimuti rumah Lala, yang membuat para penghuninya yaitu Lala, Vindi, dan kedua orang tuanya berkumpul rapat di ruang tengah. Dengan menyaksikan sederetan acara TV yang kian tidak ada nilai pendidikan di dalamnya. Tapi tidak ada hiburan lain yang mampu menyatukan mereka sehangat itu.
Lala melirik ke arah Vindi, Vindi pun mengerti dengan lirikan itu dan mulai mengambil nafas juga tampak menyusun kata-kata yang pantas untuk memberitahukan kebimbangan kakaknya itu.
“Ummi-Abi. Ummi sama Abi apakah yakin benar dengan pernikahan Mbak Lala sama Mas rizwan.” Kedua orang tuanya yang ternyata asyik dengan acara salah satu stasiun itu itu pun menatap Vindi dengan serius.
“lah kok malah kamu yang jadi ragu tho Ndi?” Ayah mereka menimpali, karena memang ibu mereka lebih banyak diam.
“Lala yang ragu kok Pak Bu. Bukan Vindi, Cuma Lala bingung yang harus nyampain ke Bapak sama Ibu.” Lala pun mulai berani untuk ikut mengambil bagian dalam bercerita.
“Lah ragu piye tho nduk?” kali ini Ibu yang menimpali. Dan ruang tengah yang awalnya dingin kini mulai terasa panas. Pembicaraan pun mulai menjadi serius.
“Kulo nggih boten ngertos Bu. Dulu ya boten nopo, baik-baik saja. Tapi beberapa hari ini, Lala niku ngimpiin Mas Rizwan terus Bu, Pak.” Mata Lala pun mulai tampak berkaca-kaca, Vindi memegangi tangan Lala sebagai upaya memberikan kekuatan pada kakaknya itu.
“Lah malah bagus no, ngimpiin berarti jodoh. Wis toh, Bapak sama Ibu i dah srek ma keluarga mereka. Bapak lihat orang tua Rizwan yo wis nompo apik keluarga kita.” Tetap Bapak berusaha bicara dengan nada pelan, sedang Lala mulai tampak ketakutan. Karena Lala dan Vindi mengenal Ayahnya sebagai orang yang keras.
“iya nduk, ibu juga setuju sama bapak. InsyaAllah nggak ada apa-apa nduk. Wis mending kamu banyak sholat malam. Biar dikasih ketenangan sama Gusti Allah.” Ibu mulai tampak menenangkan Lala, yang menyadari ada seraut ketakutan dan kebingungan yang luar biasa di wajah mungil Lala.
“Bi, Mi. kami tidur duluan ya.” Pamit Vindi dengan mengajak Lala ke kamar, yang kebetulan kamar mereka besar yang muat untuk dua tempat tidur. Padahal malam itu jam baru menunjukan pukul 8. Sebenarnya belum ada kantuk di wajah mereka, tapi Vindi hanya mengajak Lala untuk menenangkan diri di dalam kamar saja.
Vindi berusaha sebaik mungkin untuk mengembalikan semangat kakaknya itu. Vindi berusaha meyakinkan kembali bahwa Rizwan adalah jodoh yang terbaik untuknya.
Kini malam semakin larut, Vindi telah lerap dalam tidurnya, dan suara TV di ruang tengah yang berada di samping kamar Lala pun sudah senyam. Karena malam telah menuju jam 1 petang. Lala melangkahkan kakinya keluar untuk membasahi wajahnya dengan air mudhu. Untuk kesekian kalinya Lala bercerita tentang kegelisahannya ini kepada Sang Kholiq, yang diyakininya hanya Allah Ta’ala yang mampu memberikan jawaban yang baik untuknya. Dengan inilah Lala mampu menenangkan hati dan fikirannya, hanya sekedar untuk menghantarkan tubuhnya beristirahat. Berbeda dengan malam-malam yang lalu, sejak kegundahan itu datang. Tak pernah Lala merasa setenang itu, merasa bahwa semua akan baik-baik saja, walau Lala masih tidak yakin akan pernikahan ini. Tapi malam itu Lala merasakan ketenangan yang indah.
Wajah Lala mulai tampak bersinar kembali, tingkahnya yang asal-asalan pun mulai mengiringi harinya. Vindi yang melihat itu pun turut merasakan ketenangan yang dirasakan kakaknya sejak malam itu.
Kring….Kring… “Assalamu’alykum. Ada apa Bu?” Sapa Lala tenang.
“Wa’alykummussalam warahmatullah. Nak Lala sama keluarga bisa main ke rumah kami segera atau tidak? Ada hal yang penting untuk diberitahukan.” Suara parau Ibu Rizwan terdengar dari seberang telefon. “Iya Bu, Assalamu’alaykum.” Setelah mendengar salam dari seberang telefon, Lala langsung mengajak keluarganya menuju rumah Rizwan.
“Vin, perasaan ku nggak enak lagi deh.” Lala yang duduk di samping Vindi pun mulai berlinangan air mata.
“InsyaAllah nggak ada apa-apa mbak.” Vindi tetap berusaha menengkan kakaknya itu, yang memang mudah panik.
Mereka pun mulai memasuki gang rumah Rizwan. Dari kejauhahan dalam mobil mereka tampak keramaian di depan rumah yang akan mereka tuju. Dan ada sebuah titik yang membuat Lala dan Vindi menyipitkan mata.
Mereka pun semakin dekat, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun..” terdengar suara ibu dari jok depan, yang sudah tampak lebih dulu titik yang membuat mata gadis itu menyipit.
Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun..” kini Vindi yang ikut menyeruakan lafaz itu. Semakin jelas di depan mereka, sebuah bendera merah terpasang di depan rumah Rizwan.
“Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun. Siapa yang meninggal ya?” kini suara Lala yang menyahut, tetapi terdengar lebih tegar dari suara Ibu dan adiknya. Mereka pun segara turun dan menghampiri keluarga mereka.
Ayahnya ada, ibunya ada, jangan-jangan. Kini mulai tampak memucat wajah imut Lala. Mereka pun menghampiri peti yang sudah ada mayat yang terbujur kaku di dalamnya. Sebelum melihat jenazah tersebut dan sedikit menghilangkan prasangka buruk dalam hati Lala, mereka pun mengerjakan sholat jenazah terlebih dahulu.
“Maaf ya nduk, kayaknya memang harus berhenti hari ini.” Pegangan hangat menyentuh pundak Lala yang sedang mematung di samping peti jenazah dan dengan lekat memandangi seorang lelaki yang terbujur kaku di tempatnya dengan senyuman yang indah. Air mata pun mulai terlihat mengalir di pipi manisnya itu, yang sudah cukup untuk membasahi kerudungnya yang menjulur hitam itu. Dan memang ada sebuah perasaan yang menyuruhnya untuk mengenakan kerudung hitam itu.
“Iya Bu.” Sambil mengusap air mata dan ikut duduk bersama keluarga besar kedua keluarga itu.
Sekembalinya para pelayat, kedua keluarga pun mulai berbagi cerita.
“Kami sebelumnya minta maaf, kami juga tidak tahu kenapa semua ini bisa terjadi.” Suara ibu Rizwan yang memulai semua pembicaraan siang itu.
“Ndak apa kok Bu, ini udah takdir Gusti Allah, ndak ada yang bisa kita perbuat juga tho bu.” Ayah Lala lah yang menimpali. Lala mulai tampak bisa tersenyum, walau senyumnya terasa aneh, ini sudah cukup melegakan untuk kedua keluarga.
“Kami yang salah Pak, Bu, nak Lala. Seharusnya kami tahu benar alasan Rizwan menikah yang sebelumnya juga membuat kami kaget.” Ibu Rizwan juga berusaha tegar, sama tegarnya dengan Lala.
“Alasan? Memang ada yang salah dengan Mas Rizwan sebelumnya Bu?” Selidik Vindi seperti biasa apabila ada sesuatu yang tak semestinya.
“Ndak ada yang salah sebener e Nak Vindi. Tapi ibu juga baru tahu sekitar 1 mingguan yang lalu, kalo Rizwan iku punya sakit yang katanya cukup bahaya. Tapi yo kita ndak nyangka menawo umur e Rizwan mung semene.” Suasana menghening. Hanya Ibu Rizwan yang tahu kalau Rizwan punya penyakit yang mematikan. Sebenarnya dari kematian Rizwan pun dapat diketahui bahwa dia terkena serangan jantung. Rizwan meninggal di kamarnya setelah menjalankan sholat subuh, dan merasa sedikit pusing jadi dia bepamitan untuk pergi tidur.
Setelah pihak laki-laki selesai bercerita tentang sakit Rizwan. Kini Lala pun ikut memberanikan diri menceritakan tentang mimpinya yang menyangkut Rizwan. Dia menceritakan secara mendalam semuanya. Kedua keluarga pun memahami semuanya, ini adalah takdir Allah, tak ada satupun yang mampu mengelaknya. Sebaik apa rencana manusia Allah pemberi keputusan terbaik.
“Benar apa yang menjadi keraguanku selama ini Vin, sekarang jelas makna mas Rizwan pamitan dengan pakaian yang serba putih bersih beberapa hari lalu.”
“Iya Mbak, sekarang aku juga paham.” Pembicaraan yang masih kelabu di sore yang cerah dengan kicauan burung di sekeliling rumah terlontar diantara Vindi dan Lala.
“Seandainya ya Vin, aku nggak nerima. Atau pas ta’aruf kemarin aku nggak buru-buru ngambil keputusan. Pasti nggak akan sehampa ini rasanya.”
“Husss, nggak boleh berandai-andai gitu Mbak. Kalo aku yakin malah Allah tuh punya rencana yang besar ke kamu.” Sergah Vindi Cepat.
“Tapi kamu pasti nggak tahu gimana perasaanku. Rasanya seperti kehilangan permata ditangan yang sudah siap jadi cincin yang indah.”
“Mbaaaakk,, coba bayangin kalo Allah memanggil Mas Rizwan ketika sudah nikah dengan kamu, apa nggak lebih sakit. Uwis tho, Allah tahu yang terbaik. Allah sedang menguji seberapa besar keikhlasmu menerima keputusan Allah. Allah itu maha tahu mbak tentang nasib umatnya.” Nasihat Vindi sore itu, menyadarkan Lala tentang suatu kenyataan. Rizwan belumlah menjadi miliknya, Rizwan masih milik Allah. Tidak ada hak bagi Lala untuk memprotes apa yang jadi keputusan Allah. Seiring terdiamnya suara kicauan burung, terkembanglah senyuman Lala, yang selalu dirindukan oleh adiknya itu.

created by : risu.chan

No comments:

Post a Comment