" Tuh Ta dicariin" Rhean menghampiriku
dengan polosnya. aku tahu siapa yang dimaksud Rhean, dari tadi pun aku tak
lepas menatapnya. kini tubuhnya tak segemuk dulu, lebih proposional, itu kalau
aku tak salah mengeja kata tersebut.
" Ah nggak mungkin, lagi pula siapa
peduli." jawaban itu lah yang ternyata keluar dari bibirku, padahal
mungkin hatiku berkata lain.
" Tuh teman, Rista sekarang bilangnya gitu,
dulu aja, hemb." Rhean mengejekku dengan meminta persetujuan teman-temanku
yang memang kebetulan hari itu kami sedang melakukan kegiatan bersama.
“ iya tuh, dulu aja, kalau lihat
dari jauh sekalipun udah nggak bisa diem nih orang.” Ahya membalas sponta. Hemb
saat itu ku iya kan sajalah perkataan mereka, tapi tepat lah bagaimanapun aku
menolak untuk mengingatnya kembali.
“ Ah kalian nih, dia kan sudah ada
yang punya. Lagi pula aku sudah tutup tirai dengannya. Bukan begitu Ru?” aku
berpaling menatap Ruru yang hanya sanggup tersenyum dan mengangguk. Itu lah
kebiasaan Ruru, tak ada jawaban hanya senyuman. Ya aku anggap itu mengiyakan
atas pertanyaanku.
“ kamu bisanya senyum aja Ru, iya
yang mana nih?” “ ya itu aku bingung, kamu banyak sih, hehe” jawab Ruru ringan.
Aku banyak sih. Emang banyak apanya, lagi pula aku kan hanya mengagumi
mereka-mereka, salah besar kah bila aku banyak cerita tentang cowok, bukannya
wajar ya untuk usiaku saat ini yang tengah menginjak dewasa awal. Hem dewasa
awal? Sepertinya belum pantas aku menginjak kata dewasa, hehe.
“ Masih laper nih, ada cemilan
nggak?” ahya mengeluh di sampingku. Aku pun ingat dan ku keluarkan cemilanku
yang masih banyak semalam. Kami pun menikmatinya, bahkan adik kelasku ikut
nimbrung bersama kami, bicara hangat bak kamil sudah kenal lama, dengan adik
kelasku itu. Ahya yang tampak bahagia dengan adanya adik kelasku itu, yang
secara otomatis adik kelas Ahya juga. Hanya saja aku dulu yang lebih kenal adik
tingkat itu.
Rhean dan Ruru yang awalnya duduk
di atas berdekatan denganku, duduk ke bawah menghampiri Emi yang dari tadi
duduk terdiam di bawah. Dan kini dia pun telah hilang dari pandanganku entah
kemana, mungkin hilang saat aku sedang asyik ngobrol ini itu bersama Ahya dan
adik tingkatku itu.
Asyik-asyiknya ngobrol, suara dari
sampingku yang tadi tempat Ruru dan Rhean duduk menyapa hangat. Suara yang
sudah lama tak bertegur sapa denganku, suara seseorang yang sejak di acara tadi
selalu aku perhatikan, suara yang tadi kami perbincangkan. Dia menyapaku, dan
aku spontan menatap wajahnya. Tak lama hanya beberapa detik, tapi itu yang
membuatku senang. Lama dia tak pernah menyapa, bahkan kami jarang untuk saling
melempar senyum, ya sangat jarang. Tapi detik itu aku melihat wajahnya dekat,
melihat senyumnya yang lucu, melihat tatapannya yang sama seperti awal kami
saling berkenalan dulu. Ya seditik itu membuatku sungguh bahagia.
“ Hei. Rista, kenapa sendirian? Teman-temanmu
mana?” jelas pertanyaan yang tak masuk akal sebenarnya. Soalnya aku jelas-jelas
duduk bersama teman-temanku. “ Ya Allah Mas, lah ini siapa? Temen-temenku semua
kan.” Ku jawab sekenaku dan aku usahakan senyantaiku, semoga dia mendengarnya
seperti itu.
Tapi sayang hanya sedetik itu saja,
dan kami pun sibuk lagi dengan kegiatan kami sendiri. Teman dia yang duduk
disampingnya saat itu, mungkin yang menjadi penghalang pembicaraan kami saat
itu. Mungkin bisa lebih dari sedetik, mungkin. Karena sempat ku lirik dia, dan
kulihat gelagatnya yang masih ingin bercakap denganku, atau hanya aku saja yang
ke-gr-an. Tapi itu terlihat jelas, mungkin teman-temanku juga akan tahu jika
mereka memperhatikan. Tapi tak mungkin, itu hanya basa-basi bagi mereka, dan
beda menurutku.
Dulu memang aku pernah sempat suka
dengan dia, Kak Bana. Sepertinya perasaan itu juga pernah singgah di hatinya. Karena
sikapnya kepadaku lah yang membuatku suka dengannya, perhatian yang
diberikannya duluan lah yang menarik perhatianku berikutnya. Tapi itu dulu,
kini semua berbeda. Dia sudah punya seseorang yang sudah cukup untuk melengkapi
hidupnya. Dia tak berubah sebenarnya, hanya saja kami pun semakin renggang
hubungan pertemanannya. Dia yang dulu bilang telah menganggapku adik sendiri,
kini bahkan jauh dari sikap seorang kakak kepada adiknya. Tapi ya sudahlah, aku
hanya masa lalunya, beruntung dia tak melupakanku.
Di luar tempat aku bercengkrama
tadi bersama temanku. Aku sampaikan rasa bahagiaku pada Rhean dan Ruru. Mereka menanggapi
dengan hangat, tapi aku justru yang menjadi mengelak. “ mungkin bukan sekarang
Ta, tapi siapa tahu besok justru kamu yang jadi bersamanya.” Ejek Rhean yang
tahu jawaban apa yang aku inginkan.
Hah memang bukan sekarang, siapa
tahu nanti. Karena jodoh adalah rahasia Illahi, dan aku akan tetap bersabar dan
berusaha untuk itu semua.
by:Rizu-chan, 17 juni 2012
at Ft's day
No comments:
Post a Comment