(Duk) “ Au.” teriak Tita
spontan tanpa sadar. “ Eh. Kenapa kamu Ta? Ngelamun saja si kerjaannya,”
celetuk Nano sambil cekikikan, yang
tanpa disadari Tita memperhatkannya sejak masuk ke kelas tadi. “ Huft, apaan sih malah ketawa aja?” gerutu
Tita sambil lalu. “ ya kamunya juga, jalannya sih bener pakai kaki, tapi tidak
lihat-lihat sekitar gitu. Sudah tahu ada meja sebesar itu, masih saja ditabrak,
gimana tidak lucu.”
Nano semakin membuat
Tita geram.
Tita, begitu aku disapa.
Semua temen di kelas sudah hafal dengan kebiasaanku, hobi nubruk sana nubruk
sini, maklumlah memang aku sangat ceroboh orangnya. Kata temen–temen sih aku tomboy orangnya, padahal aku berkurudung
rapat dan manis. Sedangkan Nano adalah temen sekelasku yang sekaligus cowok
taksiranku. Tapi cinta bertepuk sebelah tangan, Nano hanya menganggap ku
sahabat biasa.
Kita, aku dan Nano
merupakan siswa baru di SMA yang sama, dan kami baru saja kenal dan akrab di
SMA ini, tapi keakraban kami layak teman lama yang tak pernah bertemu. Ya
maklumlah kami banyak hobi dan kesukaan yang sama.
Aku sedikit banyak
mengenal Nano, banyak hal yang selalu kami bagi bersama. Bahkan sampai orang
yang kami suka saja kami ceritakan, terkecuali perasaanku padanya. Nano suka
temen sekelas yang sekaligus akrab juga dengan
ku, Susan begitulah sapaan gadis manis, berkerudung, dan lemah
lembut itu.
Dan aku jelas cemburu padanya. Susan lah tempat berbagi ceritaku tantang Nano.
***
“ Tita, Tita, sini deh!”
teriak Nano dari bangkunya, aku sendiri melenggang pelan yang kebetulan aku baru saja muncul di depan pintu. “apaan
sih, pagi-pagi udah teriak aja” jawabku ketus
dan sambil lalu. Kebetulan baru kami berdua yang datang sepagi itu. “ ya ampun sini
dulu deh, aku mau cerita nih.” Tarik
paksa Nano. “ya OK! apaan sih!” lepas ku, tampang judes. “maaf,maaf,
ketus banget
sih bu?” ejak Nano bercandaan. Melihat tampangku yang makin judes. Nano pun mengurung
kan niatnya, “ hemb kayaknya nggak sekarang deh” Nanopun meninggalkan ku
sendiri di dalam kelas yang sunyi di pagi hari itu.
Mungkin apa yang Nano
akan sampaikan, adalah kabar yang telah ku ketahui dari teman sebangku ku
Indri. Beberapa hari yang lalu Indri memberitahu aku kalau Nano dan Susan jadian,
tepat saat mereka berlibur ke rumah teman sekelas kami. Pikiranku dan
perasaanku saat itu sedang gundah, sedang tak ingin diganggu, dan berharap apa
yang aku dapat dari Indri hanya kabar belaka, tetapi wajah Nano yang ku lihat
saat aku datang tadi menggugurkan semua harapanku.
Hari itu waktu berjalan
amat lamban bagiku, aku ingin segera membaringkan kepalaku, melepaskan penatku,
tak sanggup ku lihat Nano bersama Susan. Bahkan hanya untuk mendengar suaranya
saja berat bagiku. Tadi ketika istirahat, Nano kembali mencoba menyapaku, walau
dia hafal denganku yang tak mau diganggu jika seang berparas seperti saat tadi. Kami
sudah hafal peringai masing-masing.
“ Tita, aku
tidak peduli
kamu dengerin aku apa tidak.”
Permulaan Nano angkat bicara dari belakang kursiku, dan aku tetap membeku
dengan wajah dinginku. “ Aku hanya ingin menyampaikan ini secara langsung, aku tidak
ingin cerita
ini kamu denger dari orang lain, atau dari aku tetapi lewat perantara alat. Aku hanya ingin menyampaikan
secara langsung.” Mulai Nano memberikan alasannya. “hemb,” Gumamku singkat. “Ok,
begini.” Nano berpindah di depanku dan menatapku dalam, dia pun memulai
ceritanya. “ kau tahu, dan pasti kau sudah tahu.” Nano
berhenti sejenak menatapku, lekat.
“ tentu saja kau sudah tahu. Aku punya pacar baru.” Wajah girang Nano lekat
dimataku, tapi menusuk tajam jantungku. “ pacar baru?” aku berusaha menjawab
sewajarnya, menyunggingkan senyumku yang manis menurut Nano, awal kami
berkenalan.”siapa? anak kelas ini kah?” kulanjutkan jawabanku, sekenaku, agar
dia tak curiga, dengan peringaiku.
“ kamu kenal akrab kok
orangnya, hehe,
ya udah ya. Ke kantin yuk !” riang sekali dia menjawab, yang jauh berbeda dengan
perasaanku saat itu. Dia pun berlari kecil menuju kantin, meninggalkanku dengan
perasaan sedih itu.
“ Ta ayo pulang!” tepuk
pelan Susan dari belakangku, beriringan
denagn senyum
hangat Nano, mengakhiri pertemuan
hari itu, dan ku hanya sanggup tersenyum ikhlas. Tak terasa butiran halus air
jatuh di pipiku. Tangis perlahan dalam hati ini. Tapi beginilah kisahmu Ta,
hiburku dalam hati.
***
Hari-hariku
tetap berjalan baik, hanya hatiku yang tertinggal di masa lalu. Di saat
keakrababnku bersama mereka tak dapat digantikan dengan apapun. Hubungan
pertemanan ku dengan Nano pun tetap seperti biasanya, akan tetapi semenjak itu,
hubungan ku dengan Susan lah yang menjadi sedikit merenggang. Aku tidak begitu
tahu kenapa dia sedikit menjauh dari ku.
“Tita”
suara Oni lantang dari belakangku menghentikan langkah panjangku. Kami pun
beriringan berjalan menuju mantan kelas kami, ya mantan kelas. Kini aku telah
duduk di bangku SMA kelas 2. Nano dan Susan mereka jelas berpisah kelas, Nano
masuk IPA sedangkan Susan bahasa. “Ayo lihat pengumuman!” Ajak Indri. “Hah
pengumuman? Pengumuman apa?” tanyaku bodoh. “ Ya ampun, pengumuman kita masuk
kelas IPA apa, say.” Jelas Indri hangat.
“Aku IPA
2 Ta. Kamu IPA berapa?” sapa Nano ketika berpapasan di jalan, hanya aku balas
dengan senyum. Dalam fikiranku hanya berharap dapat 1 kelas lagi dengan Nano.
Tita Khoirul---IPA 1. Byar, anganku pecah seketika, ketika aku melihat itu. Langkahku
sedikit goyah, Indri meninggalkan aku jauh di belakang ketika dia melangkah
dengan anggun menghampiri teman-teman. Tapi senyumku terkembang kembali, ketika
Nano menengok padaku. “Indri sama Tita bagaimana? Kalian di kelas apa?” Tanya
riang Nano tapi diiringi senyum masam Susan, keadaan yang susah bagiku. Susan
terlihat aneh padaku sejak saat itu, sangat misterius bagiku.
“ Kami
sekelas No, Tita sama aku di kelas IPA 1. Sayang kita pisah ya.” Jawab Indri
lancar, ketika dia melihatku hanyut dalam lamun. Langkah cepat Nano
menghampiriku. “Tidak apa. Ternyata kita juga tidak bisa sekelas ya, hehehe.”
Senyum indah Nano yang selalu kulihat itu mengembangkan senyumku kembali. “
Hmmm, walau begitu, kamu harus ingat ya dengan janji kita. Kita kan janji tetap
menjadi teman baik, tetap saling bertukar ilmu. Ya seperti yang sering kita
lakukan. Ok?” jelas Nano singkat. “Ya udah, gabung yang lain yuk, hehe!”
begitulah Nano mampu menghiburku saatku terlihat sedih, ketika yang lain tak
menyadari kesedihanku. Begitulah Nano yang memberiku semangat, tanpa harus tahu
apa yang menjadi masalah bagiku. Aku pun menghampiri teman-temanku dengan
langkah yang riang dan senyum terkembang, tapi tanpa aku sadari Susan
tetap dengan senyum masamnya menatap
tajam dalam setiap langkahku.
***
“Tint, kenapa aku perhatiin, akhir-akhir ini
kamu aneh sih sikapnya?” Nano mulai menyelidik Susan di tengah kencan mereka
sore itu. “Ah aneh gimana tint, hanya perasaan tinta aja mungkin.” Elak Susan
setenang mungkin, karena Susan memang paling pintar dalam menutupi suatu
keadaan. Nano berusaha sekuat mungkin untuk mengetahuinya, tak letih dia merayu
Susan untuk berbagi kepadanya tentang perasaanya kali ini. Susan merupakan
orang yang tidak mudah menceritakan apa yang dirasakannya.
“Kamu
pikir aja sendiri! Kenapa aku bersikap seperti ini. Seharusnya kamu sadar
kenapa aku bersikap seperti ini.” Puncak emosi Susan ketika itu memecahkan
keheningan sore dan keindahan senja yang mengiringi kencan mereka. “Salah ku?”
jawab Nano masih dalam kelembutan nada. “Masih tidak faham, ya udah untuk
beberapa saat lebih baik kita jalan masing-masing sendiri aja, titik. Sore.”
Tinggal Susan dalam kebingungan Nano yang mendalam.
“Salah
ku, apa salahku. Sepertinyaa ku selelu menuruti apa kata-katanya. Aku selalu memenuhi keinginannya, aku selalu
berbagi cerita dengannya. Salahku? Apa salahku?” fikiran
berkecamuk dalam benak Nano ketika itu membuatnya terpuruk dalam kebingungan
akan sikap Susan beberapa saat ini.
[Tita
besok ku tunggu jam 8 pagi di kedai ichiraki.] pesan singkat yang ku dapat dari
Nano sore itu. Tak seling lama HPku pun kembali berdering [KAMU JANGAN
GANGGU-GANGU NANO LAGI DEH, JADI CEWEK KOK GITU! POKOKNYA MULAI SEKARANG JAUHIN
NANO], perlahanku lirik nama sang pengirim. Masih dibuat tak percaya aku dengan
semua ini. Apa? Apa? Apa yang sedang terjadi? Nano minta ketemuan, sedangkan
Susan melarangku untuk beretemu, bahkan bukan bertemu, lebih dari itu. Apa yang
harus kulakukan, datang? Atau tidak? Aku mulai bingung dengan mereka
berdua. Dan aku tidak tahu apa yang salah dariku, apa yang sedang terjadi
antara mereka. Ku putuskan untuk melakukan sesuai apa keyakinanku.
Pagi itu,
aku beranikan langkah untuk menghadiri janjiku dengan Nano, walau disisi lain aku
goyah dengan kata-kata Susan. Terpaku aku di depan pintu kayu kedai Ichiraki
pagi itu, langkahku berat untuk memasuki kedai favoritku dan Nano pagi itu. Bagaimana
ini? apa yang harus ku lakukan? Sejak kemarin sore, hanya kata-kata itu
yang sanggup hinggap di fikiranku tentang mereka berdua. Hampir 5 menit aku
terpaku di sana. Hanya mampu menghela nafas “Bismillah, insaAllah semua akan
baik-baik saja.” Aku mulai melangkah menuju kursi usang yang menjadi tempatku
selama ini, dan satu sosok duduk terlemas di dekat kursi yang lainnya. Aku
melangkah gentar, dan duduk perlahan ragu-ragu.
“Pagi.”
Sapaku pelan. “Oh ya, Pagi juga” Sapa hangat dan semangat dari Nano. “ Hemb,
ada yang harus aku ceritakan ke kamu, mungkin kamu juga merasakannya. Dan
semoga kamu tak terganggu dengan ini. Ini tentang aku dan Susan.” Belum cukup
Nano bercerita, ku potong dengan jawaban bodohku. “Maaf. Aku ngerti kok,
kemarin Susan juga sudah bilang ke aku. Terima kasih untuk semuanya.” Ku
ayunkan langkahku bak tak menapak tanah, ku dengar panggilan Nano di kejauhan.
Aku mengacuhkannya. Tak terasa linangan air mata kembali mengalir di pipiku. Aku
tak henti mengayunkan langkah kakiku, hingga seruan Nano tak terdengar lagi di
telingaku.
***
Sejak
hari itu, aku tepati janjiku dengan Susan, aku tak ingin mengganggu hubungan
mereka. Bagaimana pun mereka adalah teman baikku, tak mungkin aku menyakiti
keduanya. Walau kebingungan masih menghantuiku, keraguan akan tindakanku seolah
selalu mengancam setiap derai langkah dalam hari-hariku. Tapi keyakinkanku
dalam hati, bahwa semua akan jauh lebih baik setelah ini mungkin benar.
“Tita,
akhir-akhir ini kuperhatikan kamu sering murung? Kenapa manis?” Tanya halus
Indri yang senantiasa ada di setiapku berduka. “ Tidak ada apa-apa In, hanya
perasaanmu saja mungkin.” Ku coba untuk tersenyum agar Indri tak khawatir
padaku. “MasyaAllah, Tita. Kamu itu tidak bisa nyembunyiin semuanya dari aku.
Aku juga tahu kok apa yang menyebabkan kamu seperti ini. Ada sangkut pautnya
dengan Susan dan Nano kan, ayo jujur?” rayu Indri, yang spontan saat itu
membuatku kaget. “haha bener kan. Kalo kamu merasa keganggu dengan ini semua
lebih baik kamu minta kejelasan lagi ke Nano dan Susan juga. Aku yakin ini
semua salah faham, aku tahu apa yang kamu rasa, dan aku juga tahu apa yang
sedah terjadi pada Susan da Nano saat ini.” Tutur ramah Indri, yang membuatku
bergumam tiada henti. “tak usah memasang tampang seperti itu Tita. Bingung ya?
Hah, waktu kamu cerita kamu ketemuan dengan Nano minggu dulu itu, aku dengan
Susan juga ketemuan. Ya beda waktu memang, dan saat itu Susan menceritakan
semuanya.” Kini aku mulai faham apa yang dijelaskan Indri padaku, ya begitulah
Indri selalu pandai bermain kata, selau bijak memilih kalimat.
“Terus,
apa yang kamu tahu lagi In?” Tanyaku pelan dengan sedikit bingung memahaminya.
“Hehe, untuk itu, Tanya langsung orangnya aja ya manis.” Senyum Indri kini
sedikit membuatku tenang. Tapi bagaimana aku harus meminta kejelasan ke
Susan? Ke Nano sudah tak mungkin. Pikirku sebelum aku mulai mencoba. Aku
terpuruk dalam kepesimisan, aku terpuruk dalam lubang yang penuh duri, yang bila
aku salah sedikit saja dalam melangkah maka aku akan merasakan sakit
bertubi-tubi.
“Susan!
Aku butuh kejelasan darimu! Apa-apaan dengan sikapmu ini? Kayak anak kecil
saja.” Suara Nano sedikit keras, ketika tak sengeja aku melewati mereka di
lorong sekolah ketika pulang. “Kejelasan? Kejelasan? Kurang jelas apa? Aku
sudah bilang jangan kontak dengan Tita lagi! Apa itu kurang jelas?” suara Susan
lebih lantang dari suara Nano. Tidak pernah aku mendengar Susan sekeras itu
sebelumnya.
Hampir
setiap hari tanpa sengaja aku mendengar mereka bertengkar, dan itu karena aku,
sejak hari itu mereka lebih kerap bertengkar. Apa salahku Ya Allah. Begitulah
kata yang saat ini gemar menggelayut santai di otakku. Aku berusaha menghindar
sejauh mungkin yang dapat aku lakukan. Sekuat hati aku menghindar bila Nano
sedikit mengambil langkah mendekatiku. Aku semampu mungkin tidak membalas
pesan-pesannya, walau tiap malam Hp ku berdering karenanya. Apakah keputusanku
selama ini salah. Harus bagaimana? Kemana aku harus mencari jawabannya? Apakah
perlu aku pergi jauh, jauh, jauh dari mereka berdua. Jika itu yang terbaik maka
akan aku lakukan. Tapi, ini semua salah faham, begitu yang aku tangkap dari
pembicaraanku tadi pagi dengan Indri.
***
Hampir
lebih dari satu bulan sejak kejadian itu. Kini aku dapat melangkah tenang, pagi
yang cerah kala itu mebuatku ingin berdendang bahagia. Untuk sesaat perasaan
itu lenyap di telan dinginnya pagi, indahnya awan yang menggantung tinggi di
langit. Langkahku ringan dan bahagia.
“Tita!”
suara itu, suara yang lama tak menyapa telingaku. Perlahan aku menengok ke
belakang. “Sini, aku mau cerita.” Nano menarik tasku paksa, dan mendudukanku di
atas bangku keras yang dingin sedingin perasaan yang kurasakan pagi itu, tapi
terasa nyaman bak alunan suara yang indah memanggilku di pagi hari kala itu.
“Nano!
Apa-apaan ini, nanti….” Elakku. “Haha, dibuat nyantai aja. Kayaknya udah lama
banget ya kita tidak ngobrol. Oh ya aku mau minta maaf atas nama Susan, atas
kejadian sebulan yang lalu. benaran minta maaf ya. Saat itu memang sedang terjadi kerenggangan
komunikasi antara kami.” “Apa? Minta maaf? Atas nama Susan?” Putusku dalam
kata-katanya, bukan dengan nada menolak, tapi aku ekspresikan kata-kataku
dengan nada malu.
“Ya
begitulah minta maaf atas nama susan.” Nano mulai terlihat santai, dan tampak
damai dalam wajahnya saat itu. “Seharusnya kamu bilang padaku dari dulu.” Kini
dia menatapku lekat, dengan senyuman manisnya.”He? Bilang? Apa yang harus aku
bicarakan ke kamu?.” Jawabku yang bingung. Dia kembali menatapku dan melempar
senyum ramahnya, “Iya seharusnya kamu ceritakan bagaimana perasaanmu, setelah aku
mendengar penjelasan dari Indri dan Susan tentang semuanya aku jadi faham.”
“Hah? Perasaanku? Memang mereka memberi tahu apa saja tentang perasaanku?”
“haha.
Semuanya Ta, semuanya. Mulai kapan kamu suka aku, seberapa kamu suka aku.
Kenapa kamu tidak bilang langsung ke aku?, dan kamu tahu kenapa Susan
uring-uringan kemarin. Itu ya karena ini semua. Karena kamu suka aku, karena
kita masih berteman akrab, tapi syukurlah, setelah mendapat nasihat dariku dan
juga Indri selain itu pesan singkat mu, dia pun mau mengerti. Sekali laggi maukan
kamu memaafkan kami?”
“Aku
tidak pernah meninggalkan teman-temanku, apalagi sahabatku. Seberapa benci
mereka padaku, maka perasaanku ke mereka tetaplah sama Nan. Jadi, dariku tidak
ada yang harus di maafkan, karena semuanya InsyaAllah telah termaafkan.
Bagaimana dengan Susan sendiri?” jawabku denga perasaan yang luar biasa campur
aduk, antara bahagia, malu, sedih dan sedikit terbata-bata aku dalam berucap.
“hmm, Susan. Tenang dia sudah faham semuanya. Ok. Tarik kata-katamu lagi ya di
sms mu ke Susan. Kita kan sudah janji, akan jadi sahabat selamanya, walau
jodoh, ruang, waktu memisahkan kita. Selamanya kamu akan menjadi sahabatku selamanya.”
Senyum Nano dan lambaian tangannya di pagi itu menghapus seluruh lara,
menghangatkan pagi itu, mencairkan kebekuan hatiku, dan mengembalikan
semangatku.
Aku pun mencubo
meraih Handphone ku dan aku baca kembali pesan yang aku kirim beberapa hari yang
lalu ke Susan, ketika aku tanpa sengaja mengetahui mereka semakin bermusuhan. [Setelah
ku mendengar semua penjelasn dari Indri, aku tau kenapa kamu bersikap seperti
ini, ku mohon maaf karena telah membuatmu sakit dan membuat mu cemburu akan hal
ini. tapi jujur aku dan Nano hanya sahabat biasa. Lagi pula Nano lebih memilihmu
dan aku yakin kamu terbaik untuknya, walau ku suka, tapi Nano tetap memilihmu,
hanya kamu. Hemb, daripada semua ini seperti ini, maka lebih baik ku pergi dari
hidup kalian, terimakasih karena telah mau mengenalku dan berbagi cerita
padaku, dan lupakan itu, anggap kita tak pernah kenal. Aku akn coba semampu ku.
Terimakasih]. Tak aku sangka linangan air membasahi pipiku seiring aku membaca
kembali pesanku, aku pun mulai menekan tombol-tombol dalam Handphoneku,
dan ku akhiri semua dengan kata dalete.
Dalete untuk
kecemburuan yang tak jelas, dan save untuk persahabatan yang hangat dan
selamanya. Ku arungi lorong sekolah pagi itu, dengan kehangatan yang baru,
dengan kedamaian yang indah dalam langkahku dan hidupku untuk mencapai
impianku. “Terimakasih untuk semuanya, ya Susan.” Gadis yang lemah lembut sejak
tadi sudah berdiri di sampingku, memeluk hangat pundakku. Kami pun beriringan
melangkah, meraih masa depan.
by: rizu.chan/2008
Selesainya baca mata bisa-bisa BENGKAK nie,,,,
ReplyDeletehihihihihi...
di sini emang kesannya banyak, tapi aslinya dikit
Deletetapi jangan dilanjutin baca deh, tar nyesel lagi, udah bengkak jelek pula hehe