Monday, 18 June 2012

sedetik itu cukup berkesan


" Tuh Ta dicariin" Rhean menghampiriku dengan polosnya. aku tahu siapa yang dimaksud Rhean, dari tadi pun aku tak lepas menatapnya. kini tubuhnya tak segemuk dulu, lebih proposional, itu kalau aku tak salah mengeja kata tersebut.
" Ah nggak mungkin, lagi pula siapa peduli." jawaban itu lah yang ternyata keluar dari bibirku, padahal mungkin hatiku berkata lain.
" Tuh teman, Rista sekarang bilangnya gitu, dulu aja, hemb." Rhean mengejekku dengan meminta persetujuan teman-temanku yang memang kebetulan hari itu kami sedang melakukan kegiatan bersama.
“ iya tuh, dulu aja, kalau lihat dari jauh sekalipun udah nggak bisa diem nih orang.” Ahya membalas sponta. Hemb saat itu ku iya kan sajalah perkataan mereka, tapi tepat lah bagaimanapun aku menolak untuk mengingatnya kembali.

“ Ah kalian nih, dia kan sudah ada yang punya. Lagi pula aku sudah tutup tirai dengannya. Bukan begitu Ru?” aku berpaling menatap Ruru yang hanya sanggup tersenyum dan mengangguk. Itu lah kebiasaan Ruru, tak ada jawaban hanya senyuman. Ya aku anggap itu mengiyakan atas pertanyaanku.

“ kamu bisanya senyum aja Ru, iya yang mana nih?” “ ya itu aku bingung, kamu banyak sih, hehe” jawab Ruru ringan. Aku banyak sih. Emang banyak apanya, lagi pula aku kan hanya mengagumi mereka-mereka, salah besar kah bila aku banyak cerita tentang cowok, bukannya wajar ya untuk usiaku saat ini yang tengah menginjak dewasa awal. Hem dewasa awal? Sepertinya belum pantas aku menginjak kata dewasa, hehe.

“ Masih laper nih, ada cemilan nggak?” ahya mengeluh di sampingku. Aku pun ingat dan ku keluarkan cemilanku yang masih banyak semalam. Kami pun menikmatinya, bahkan adik kelasku ikut nimbrung bersama kami, bicara hangat bak kamil sudah kenal lama, dengan adik kelasku itu. Ahya yang tampak bahagia dengan adanya adik kelasku itu, yang secara otomatis adik kelas Ahya juga. Hanya saja aku dulu yang lebih kenal adik tingkat itu.

Rhean dan Ruru yang awalnya duduk di atas berdekatan denganku, duduk ke bawah menghampiri Emi yang dari tadi duduk terdiam di bawah. Dan kini dia pun telah hilang dari pandanganku entah kemana, mungkin hilang saat aku sedang asyik ngobrol ini itu bersama Ahya dan adik tingkatku itu.

Asyik-asyiknya ngobrol, suara dari sampingku yang tadi tempat Ruru dan Rhean duduk menyapa hangat. Suara yang sudah lama tak bertegur sapa denganku, suara seseorang yang sejak di acara tadi selalu aku perhatikan, suara yang tadi kami perbincangkan. Dia menyapaku, dan aku spontan menatap wajahnya. Tak lama hanya beberapa detik, tapi itu yang membuatku senang. Lama dia tak pernah menyapa, bahkan kami jarang untuk saling melempar senyum, ya sangat jarang. Tapi detik itu aku melihat wajahnya dekat, melihat senyumnya yang lucu, melihat tatapannya yang sama seperti awal kami saling berkenalan dulu. Ya seditik itu membuatku sungguh bahagia.

“ Hei. Rista, kenapa sendirian? Teman-temanmu mana?” jelas pertanyaan yang tak masuk akal sebenarnya. Soalnya aku jelas-jelas duduk bersama teman-temanku. “ Ya Allah Mas, lah ini siapa? Temen-temenku semua kan.” Ku jawab sekenaku dan aku usahakan senyantaiku, semoga dia mendengarnya seperti itu.

Tapi sayang hanya sedetik itu saja, dan kami pun sibuk lagi dengan kegiatan kami sendiri. Teman dia yang duduk disampingnya saat itu, mungkin yang menjadi penghalang pembicaraan kami saat itu. Mungkin bisa lebih dari sedetik, mungkin. Karena sempat ku lirik dia, dan kulihat gelagatnya yang masih ingin bercakap denganku, atau hanya aku saja yang ke-gr-an. Tapi itu terlihat jelas, mungkin teman-temanku juga akan tahu jika mereka memperhatikan. Tapi tak mungkin, itu hanya basa-basi bagi mereka, dan beda menurutku.

Dulu memang aku pernah sempat suka dengan dia, Kak Bana. Sepertinya perasaan itu juga pernah singgah di hatinya. Karena sikapnya kepadaku lah yang membuatku suka dengannya, perhatian yang diberikannya duluan lah yang menarik perhatianku berikutnya. Tapi itu dulu, kini semua berbeda. Dia sudah punya seseorang yang sudah cukup untuk melengkapi hidupnya. Dia tak berubah sebenarnya, hanya saja kami pun semakin renggang hubungan pertemanannya. Dia yang dulu bilang telah menganggapku adik sendiri, kini bahkan jauh dari sikap seorang kakak kepada adiknya. Tapi ya sudahlah, aku hanya masa lalunya, beruntung dia tak melupakanku.

Di luar tempat aku bercengkrama tadi bersama temanku. Aku sampaikan rasa bahagiaku pada Rhean dan Ruru. Mereka menanggapi dengan hangat, tapi aku justru yang menjadi mengelak. “ mungkin bukan sekarang Ta, tapi siapa tahu besok justru kamu yang jadi bersamanya.” Ejek Rhean yang tahu jawaban apa yang aku inginkan.
Hah memang bukan sekarang, siapa tahu nanti. Karena jodoh adalah rahasia Illahi, dan aku akan tetap bersabar dan berusaha untuk itu semua.

by:Rizu-chan, 17 juni 2012
at Ft's day

Saturday, 16 June 2012

untuk langit


Dear langit
Di setiap hatku tak menentu, kau lah penyembuhku. Di saat kepalaku penuh, kaulah pengosong fikiranku. Aku tak mengerti kenapa kau begitu menenangkan. Aku bingung kenapa fikiranku selalu damai setiap ku menatap luasnya dirimu. Oh langit, ingin ku pandangi dirimu dari tempat yang berbeda, dengan suasana hati yang indah. Oh langit walau pun kadang kau terlihat begitu menakutkan bersama awan mendung yang menghiasimu, tapi ku tetap tenang. Tahu kah kamu langit, kalau kau tampak manis ketika kau hanya bersanding dengan sang mentari. Tahukah kau langit, kalau kau tamapak menawan bersama taburan bintang dan hiasan bulan.
Hai langit ingin ku tumpahkan semua ceritaku padamu, tpi ku takut ini salah. Aku ingin bercerita kepada mu, karena Sang Kholik berada dekat di atas bersama itu yang ku tahu. Hai langit bolehkah itu ku lakukan? Ku ingin ketika ku bahagia ku bagi bahagiaku bersamamu? Bolehkah ini, ketika ku gundah ku harapkan kau pengobat kegundahanku? Bolehka ini. jika ku sedih kau lah yang mengembalikan senyumku?
Langit kau begitu luas, luasmu lah yang serasa mampu meluaskan hatiku yang sempit.
Langit biru mu halus, biru mu tegas, biru mu pudar, tapi setiap biru yang kau pancarkan, itulah kau yang tampak memposana. Yang mampu menyihir segala kejanggalan hatiku.
Hai langit izinkan melalui wajahmu untuk ku mendekatkan diri kepada Sang Kholik betapa indahnya ciptaanNya. Hai langit lewat wajahmu, ku ingin mengagumi ke jeniusan Sang Kholik tentang ciptaanNya.
Ya Allah izinkan aku mendekati Mu melalu langit Mu yang meneduhkan.
Langit tahu kah kamu, kalau bersamamu aku merasa nyaman, setiap melihatmu senyumku terkembang. Tak ada yang mampu menyaingimu dalam menenangkan hatiku kecuali Sang Kholik. Langit karena bersama mu ku meraih mimpi, karena bersama mu ku mengerti waktu. Ku ingin kau tetap kokoh di sana, dengan keindahan dan keagunganmu.
 secarik surat untuk langit
16 juni 2012

Thursday, 7 June 2012

segumpal awan
















aku adalah segumpal awan mendung
yang kedatangannya tak pernah diharapkan
yang mereka harapkan hanyalah bulir bening yang akan kutumpahkan
aku adalah segumpal awan mendung
dengan seenaknya mereka mencerca
mencerca karena surya tak dapat menembus badanku
aku adalah segumpal awan mendung
yang tak dihiraukan keberadaanku
bahkan meraka berharap angin menerpa ku hingga tengah lautan
aku adalah segumpal awan mendung
yang lama-kelamaan akan lenyap
seiring bulir bening menjatuhi bumi
hilang tanpa seorang pun menyadari
hilang tanpa seorang pun berharap ku kembali
hilang dan tak kembali.....


by: ツンツン、、、あたしのともだち