Hari ini sungguh menyenangkan, kedekatan yang semakin dekat.
Aku yang selalu diam jika hanya berdua dengan isti, hari ini berbeda. Aku yang
selalu takut kalau bersama dia hari ini berbeda. Menyenangkan sungguh
menyenangkan. Kedekatan itu semakin dekat. Walau hanya basa-basi obrolan kami,
tapi sudah cukup untuk mencairkan suasana. Siang itu kedekatan semakin dekat.
Membicarakan sekolah dulu semasa SMA, menceritakan awal kami saling kenal,
tertawa dan malu ketika menceritakan tentang perasaan. Siang itu kedekatan
semakin dekat. Sungguh-sungguh dekat, dan amat menyenangkan. Mungkin tak akan
bisa terulang siang itu bersamanya.
Ashar berakhir, kedekatan yang mulai mendekat itu kini harus
berpisah, terpisahkan oleh waktu dan jarak. Kedekatan yang terajut beberapa
menit terakhir itu, menyenangkan, tapi mungkin cukup disayangkan.
Dan lagi-lagi ada kedekatan yang lain, kedekatan yang lebih
membuatku grogi, membuatku bertingkahlaku aneh, kedekatan dengan seseorang yang
kukagumi. Bukan kedekatan seperti bersama sahabatku tadi. Kali ini kedekatan
dalam diam kata-kata tapi ramai deru kendaraan. Kedekatan yang unik, tapi cukup
membuatku aneh, membuatku bercakap dalam anganku sendiri, ya sendiri.beriringan
bersama untuk beberapa menit dijalanan yang ramai, dekat, sungguh begitu dekat.
Bahkan kami tak pernah sedekat itu sebelumnya. Menyenangkan, aneh. Dekat dalam
deru kendaraan masing-masing, tapi cukup menyenangkan. Ketika lampu merah
pertama, seolah dia mempersilahkanku untuk duluan, pelan melaju disampingku,
mundur kebelakang perlahan. Tapi kedekatan itu lagi-lagi harus berakhir, di
lampu merah berikutnya. Menyenangkan bukan, berdekatan dengan orang yang kau
kagumi, pelan dalam deru kendaraan masing-masing, di jalanan yang ramai
padahal. Tapi itu semua menyenangkan, walau aneh.
Tak urung berakhir kedekatanku sore itu. Aku selalu, selalu
ingin melihat kereta api yang melintas menerabas tengah kota. Tak seperti
kereta lain yang menerobos pinggir-pinggir kota, tengah desa. Dan sore itu,
kedekatan itu datang, sebelum belokan terakhirku, ya jelas dekat di depanku,
hanya beberapa meter kereta itu, kereta yang ingin kulihat di sore hari, sejak
aku rutin melewati jalurnya pagi dan sore. Setiap aku pulang-pergi ke kampusku.
Sungguh indah semua kedekatan itu, kedekatan dalam keakraban,
kedekatan dalam kekaguman, dan kedekatan dalam keinginan. Semua tampak indah,
terasa nyaman dan menyenangkan.
By Rizu-chan, 22 juni
2012.
wah >>> pinter buat dongeng ya
ReplyDeletewah tidak juga, hanya suka menulis saja hehe ^_^
ReplyDelete